Menggalang Penggalan Jejak Tak Pupus

galang refugee camp, kamp pengungsi vietnam pulau galang, pulau galang, destinasi wisata batam, mannusia perahu vietnam

I was in Galang from 05/31/90 – 10/11/93 KI 0531/84. We will never forget Galang Refuge Camp – [Hieu Nguyen, USA]

Tulisan tangan yang berderet rapi pada buku tamu yang ujungnya menebal karena terlalu sering dibolak-balik di Museum Galang pagi itu mengaburkan pandangan. Alih-alih membuka lembar baru yang bersih untuk menuliskan pesan di sana, setelah menyeka ujung mata yang mendadak memanas dan berair; saya melanjutkan membaca pesan-pesan lain yang tertulis di atasnya.

Galang refugee camp, kamp pengungsi vietnam galang, kamp pengungsi, pulau galang, destinasi wisata batam
Jejak yang tersisa di Museum Pulau Galang

Galang, pulau di selatan Batam, Kepulauan Riau; pada 1976 atas desakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dibuka sebagai kampung penampungan “manusia perahu”, sebutan yang melekat pada warga Vietnam (dan Kamboja) yang terdampar di sekitar kepulauan Riau, Indonesia serta pulau-pulau di sekitar Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Continue reading “Menggalang Penggalan Jejak Tak Pupus”

Big Lost, A Tribute to Mr Gaylord

pulau galang, pengungsi vietnam

Without the people like you and the ship that rescued us at sea. We the boat people surely would not make it.  Many of us live is the direct kindly from people like you.  You guys will also be a hero in our eyes.  therefore,  I want to say thank you and hope someday I can meet you.  [Jamie to Mr Gaylord, 27 Februari 2015]

Engkau tak akan pernah tahu apa artinya memiliki jika engkau tak pernah merasakan kehilangan, Lip. Pesan yang disampaikan oleh seorang pendeta dalam satu ibadah di Minggu pagi yang sebenarnya ingin kuhindari beberapa tahun lalu kembali terngiang. Tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tidak pula kebetulan meski terjadi seperti kebetulan.

pulau galang, pengungsi vietnam
Lukisan di Museum Pulau Galang

Tanggul itu kembali jebol dua hari lalu, airnya deras menerjang ke segala arah. Secara fisik kita belum pernah bersua, secara waktu pertemuan kita hanya sesaat. Itu pun berbalas surat elektronik yang bila dihitung tak mencapai sepuluh jari tanganku. Namun, percakapan yang tertuang di sana telah menautkan potongan kisah perjalanan masa meski hanya berbagi lewat dunia maya. Continue reading “Big Lost, A Tribute to Mr Gaylord”