Menyusuri Jakarta lewat Sejarah Kereta Api

stasiun jatinegara, plesiran tempo doeloe, batmus

Bocah lelaki di depan saya sigap berdiri sesaat setelah bus yang kami tumpangi berhenti. Ia merapikan tali gantungan kamera yang dikalungkan di leher lalu bergegas turun mengikuti langkah – langkah panjang di depannya. Di bawah sengatan mentari, tubuh kecilnya menyusup di sela – sela badan yang menjulang di sekelilingnya.

stasiun jatinegara, plesiran tempo doeloe, batmus
Aga in action di Stasiun Jatinegara

Aga (8 thn) tak canggung berada di antara manusia yang usianya terpaut jauh di atasnya. Ia meleburkan diri, mencoba mengabadikan pemandangan sekitar dari sudut pandangnya dengan kamera saku yang siap di tangan. Di saat teman – teman sebayanya lebih menikmati bermain di taman bermain atau pusat perbelanjaan yang dingin dengan orang tua mereka, Continue reading “Menyusuri Jakarta lewat Sejarah Kereta Api”

Hati Beta Tertambat di Nusa Laut


Langit biru menyambut ayunan langkah menuruni bis yang membawa kami dari Ambon ke Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, Sabtu pagi (17/11). Deretan kendaraan pribadi menyesaki lahan parkir yang tak begitu lapang di mulut dermaga, menjadikan suasana tampak lebih ramai dari hari sebelumnya. Nusa Laut, negeri yang menjadi tujuan perjalanan pagi ini bersama Komunitas Sahabat Museum (Batmus) setelah  sehari sebelumnya puas mengunjungi Pelauw, Haruku dan Hila.

“Ayo nona, langsung naek spitbot!” sapa seorang bapak yang wara-wiri di atas dermaga. Bapak yang wajahnya saya kenali sebagai salah seorang yang kemarin menyorongkan kakinya sebagai pijakan untuk turun ke speedboat. Saya menyambut sapaannya dengan melempar senyum, lalu beranjak menikmati pagi di dermaga dengan ikut mengantri di toilet darurat. Dua jam perjalanan dari Tulehu ke Nusa Laut menjadi pertimbangan untuk mengosongkan isi tanki menghindari hasrat buang air kecil di tengah laut. Continue reading “Hati Beta Tertambat di Nusa Laut”

Udaya Halim, Si Anak Nakal Perekat Mata Rantai Peranakan Tionghoa Benteng


Lelaki tambun dengan rambut keperakan menyapa rombongan kami yang menyesaki ruang tamu Museum Benteng Heritage (MBH), sebuah bangunan tua yang menyempil diantara tenda pedagang di tengah Pasar Lama Tangerang, Banten. Berpuluh gelas liang teh spesial dan kudapan khas peranakan yang sudah disediakan tuan rumah tak lepas dari incaran pelega tenggorokan. “Silahkan diminum lho, tehnya sama dengan teh yang setiap hari saya minum di rumah.”

Selesai icip-icip, rombongan kami diajak ke ruang tengah mengisi bangku-bangku yang tersedia, duduk mengitari 6 meja kayu besar untuk mendengarkan kisah terbentuknya MBH. Keringat membasahi badannya, meski langit-langit bangunan cukup tinggi tak urung hawa panas sempat meresap di dalam ruangan. Tiba-tiba byuuuuuuuuuuurrrrrr!!! Air hujan buatan mengucur deras jatuh di sisi kanan ruangan. Keterbatasan sirkulasi udara dalam ruangan disiasati dengan kreatif : selain kipas angin yang dipasang di beberapa sudut, penambahan balok-balok es batu memberikan sensasi adem dalam ruangan ditambah dengan hujan buatan tadi. Continue reading “Udaya Halim, Si Anak Nakal Perekat Mata Rantai Peranakan Tionghoa Benteng”

Mochtar Soemodimedjo, Sutratadara Kereta Api Terakhir Berpulang


Pagi ini seperti pagi pagi sebelumnya, saya membuka beberapa media sosial sekedar untuk melihat berita terkini yang dihembuskan oleh para penggiat di medsos. Dua buah status bernada serupa yang disampaikan oleh dua orang teman terkait berada di urutan teratas, langsung menarik perhatian:

Innalillahi wainailaihi raji’un .. Telah berpulang ke Rahmatullah ayahanda kami tercinta, Ir. Mochtar Soemodimedjo MA, pada hari Senin, 14 Mei 2012 pukul 02:25 dini hari ini. Mohon doa dan mohon maaf sebesar2nya kepada para kerabat, handai taulan dan rekan2 sekalian. Kami haturkan terima kasih yang sebesar2nya.  Continue reading “Mochtar Soemodimedjo, Sutratadara Kereta Api Terakhir Berpulang”

Benteng Heritage, Museum Peranakan Tionghoa Pertama di Indonesia

museum benteng heritage, pasar lama tangerang, cina benteng

Riuh rendah suara pembeli dan pedagang tawar menawar barang diselingi deru mesin motor, klontengan becak serta bunyi sendok beradu dengan mangkok dari pedangan gerobak keliling yang melintas di tengah sempitnya jalan pasar; membuat pejalan kaki mesti rela berbagi jalan di tengah beceknya jalan berpaving blok. Itulah ritme nadi pasar pagi di kawasan Pasar Lama Tangerang, Banten sehari-hari yang berlangsung dari subuh hingga pk 13.00.

Pk 11.15 penjual sayur dan penjual ikan segar di depan gerbang sebuah rumah bergaya Tiongkok kuno yang menggelar tenda dagangan di samping dan depan rumah, mempersilahkan kami masuk. Wowwwwww! Siapa sangka, di tengah-tengah pasar becek kami akan menemui bangunan tua yang telah disulap menjadi sebuah museum yang cukup dikenal oleh warga sekitar dengan nama Museum Benteng Heritage (MBH). Continue reading “Benteng Heritage, Museum Peranakan Tionghoa Pertama di Indonesia”

“Scott Merrilees,” Menyusuri Jakarta Tempo Doeloe Lewat Kartu Pos Abad ke-19


Jumat, 17 Juli 2009 pk 16.00
Sudah lebih sejam saya menunggu di depan petugas admission untuk memastikan kamar yang sebelumnya sudah dipesan masih tersedia. Pagi hari sekitar pk 07.45 wib dua buah hotel megah di kawasan Mega Kuningan Jakarta, JW Marriott dan Ritz Carlton terkena ledakan bom bunuh diri. Para korban dari tempat kejadian dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat dari lokasi termasuk ke Rumah Sakit Jakarta tempat saya berada sore itu.

Bunyi sirine ambulan bersahut-sahutan hilir mudik keluar masuk halaman parkir gedung rumah sakit; kesibukan luar biasa tampak di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Manusia tumpah ruah memenuhi lorong menuju IGD yang sempit, dari petugas keamanan, pencari berita, orang -orang yang mencari anggota keluarganya hingga merepotkan gerak para medis yang sibuk menolong para korban. Continue reading ““Scott Merrilees,” Menyusuri Jakarta Tempo Doeloe Lewat Kartu Pos Abad ke-19”

Setelah Kunjungan Pak Dubes


Tadi sebelum istirahat buka-buka Kompas.com dan membaca berita kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Greg Moriarty ke Morotai, Maluku Utara. Ternyata ayahnya dulu adalah tentara sekutu yang bertugas di Morotai pada masa Perang Dunia II (PDII). Di Morotai, Moriarty menyempatkan berkunjung ke makam tentara sekutu dan mencoba mencari jejak ayahnya. Sayang tak ditemuinya nama sang ayah tercantum pada salah satu dari 12 makam yang ada.

Yang menjadi pertanyaan kenapa pak Dubes gak sekalian ke Tantui, Kapaha Ambon ya? Kalau di sana ada sekitar 2.000–an makam tentara sekutu dan sebagian besar justru berasal dari Australia. Lebih sayang lagi, di berita tersebut tak disebutkan nama ayah pak Dubes jadi gak bisa juga mencari namanya, padahal mau coba bantu cek di list taman pemakaman. Continue reading “Setelah Kunjungan Pak Dubes”

Nobar Sembari Menanti Kereta Api Terakhir di Stasiun Beos


Sabtu (18/02/2012) pk 18.30 .. stasiun Jakarta Kota atau biasa disebut Beos terlihat sedikit lengang. Beberapa calon penumpang menunggu kedatangan kereta dengan duduk santai di bangku peron sembari memencet-mencet HP atau mengobrol dengan teman di sebelahnya. Petugas di pintu pengecekan tiket pun terlihat santai melayani calon penumpang.

Namun suasana berbeda tampak di hall yang berada di sisi kanan stasiun. Hall dengan langit-langit yang tinggi Sabtu kemarin menjadi tempat yang dipilih oleh sebagian orang untuk menikmati malam minggu. Meski di tengah ruangan digelar karpet yang cukup empuk, beberapa diantaranya sengaja memilih duduk senderan ke dinding dan yang lain merapatkan diri di sekitar pilar. Continue reading “Nobar Sembari Menanti Kereta Api Terakhir di Stasiun Beos”

Senangnya Melayani Duta Besar Selandia Baru


Jarum jam Taman Kota Tua menunjukkan pk 07.06  pagi saat kaki bergegas meninggalkan pemberhentian terakhir bus transjakarta jurusan Blok M-Kota. Langit sangat bersahabat dengan warna birunya yang mentereng sedang matahari mulai menyengat hingga ke pori-pori. Pagi ini kembali menunaikan tugas kenegaraan Batmus membantu mengurusi keperluan peserta yang akan berkeliling mencari jejak Abel Tasman. Langkah dipacu menyeberangi jalan bawah tanah, gedung NHM (Nederland Handel Maatsshaappij) menjadi titik temu pagi ini.

Karena tergoda dengan birunya langit tak lupa untuk mengabadikan NHM dari bawah under pass dengan henpon cupu nan canggih yang setia menemani. Tata sana tata sini, sesi pendaftaran siap digelar menyambut peserta yang mulai berdatangan, ada yang bersama keluarga, teman, pacar, rombongan atau yang lagi jalan sendiri. Hingga akhirnya muncullah sepasang bule plongok-plongok mendekati meja pendaftaran dan terjadilah “ketololan yang wajar” saat dilakukan transaksi pembayaran ongkos plesiran oleh si bule. Continue reading “Senangnya Melayani Duta Besar Selandia Baru”