Lelaki Berdagu Biru

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Sinar mentari merengkuh tanah saat kami menggapai gerbang Gampong Bitay, Meuraxa. Sesuai perkiraan ketika melihat plang penunjuk arah di persimpangan jalan kala meluncur ke Gampong Punge Blang Cut pagi tadi, bila bersetia mengikuti jalan lebar yang beraspal; sebentar juga sampai. Tapi Hadi yang tiga tahun lalu menemani berkeliling jejak sunyi, tetap menepikan kendaraan di depan sebuah kedai untuk memastikan kami tak salah mengambil arah.

Bang Pasha, kita sudah sampai. Turun yuk,” seruku pada si ganteng yang belum juga menemukan posisi duduk yang nyaman di kabin belakang mobil yang membuat badannya sedikit terlipat.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay
Jejak yang tertinggal di Gampong Bitay

Lelaki berwajah tirus dengan dagu hijau kebiruan itu; kulit kuningnya berkilat diterpa cahaya matahari. Dirinya menjulang di depanku sesaat setelah Hadi kumintai tolong untuk mengabadikan gambar di depan gerbang taman. Diayun-ayunkannya kakinya yang tadi terlipat di mobil sembari menebar senyum mengajak melangkah ke dalam tempat peristirahatan yang senyap itu. Pasha menguntitku sejak kemarin petang. Kata kak Yasmin yang menemani ke Bukit Malahayati, dia melihat lelaki tinggi kekar dan ganteng itu mengawaniku berbincang saat bermain ayunan di bawah pohon beringin besar yang tegak di belakang Indra Patra.

Continue reading “Lelaki Berdagu Biru”

MerinduMU Menyapa Pagi

Benteng Inong Balee, Benteng Malahayati, Laksamana Malahayati, Inong Balee

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony – [Mahatma Gandhi]

Pagi yang dinanti itu datang juga. Sebait syukur dipanjatkan padaNYA yang selalu setia menuntun langkah dan tak pernah bosan menyayangi jiwa. Di pagi yang dinanti itu; kembali tersungkur dalam diam. Berterima kasih masih bisa menghela napas, memenuhi rongga paru dengan udara pagi dan diberi kesempatan untuk melihat dunia.

Berkemas. Sebuah pertemuan telah disepakati dari beberapa bulan sebelumnya. Pertemuan yang waktunya telah berkali-kali berganti karena kesibukan yang menyertainya. Percaya, tak ada yang terjadi secara kebetulan. Di antara kesibukan itu, diberinya kita kesempatan untuk menyiapkan hati menyambut pertemuan ini, bukan? WaktuNYA tak pernah terlambat, meski harus melewati proses penantian panjang yang terkadang melelahkan dan mulai membosankan. Continue reading “MerinduMU Menyapa Pagi”

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh
Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Continue reading “Manuskrip dari Aceh”

Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”

Museum Bahari, Legenda Nusantara hingga Navigator Dunia

museum bahari

Seperti biasa, Museum Bahari siang itu sepi. Pengunjung bisa dihitung dengan sepuluh jari di tangan.

Terakhir bertandang ke tempat ini setahun yang lalu untuk menikmati pentas teatrikal perjuangan IBU. Dan hari ini kembali ke tempat yang sama, demi IBU, de javu. Tentang pertemuan tersebut ulasannya ada di SINI, sedang kisah perjumpaan dengan IBU silakan dirunut dari SINI.

Usai menuntaskan rindu dengan IBU, mata penasaran dengan kegaduhan yang terjadi di balik pintu kayu yang sedikit terkuak di sudut ruangan. Dua lelaki menyibukkan diri dengan prakarya di tangan duduk di ujung ruang yang remang-remang. Saat pintu kayu yang berat itu didorong perlahan, asap putih mendadak memenuhi ruangan disertai gemuruh ombak. Ternyata si mas-nya sengaja memberikan kejutan sekalian uji coba katanya, kisah Ratu Kidul pun tersaji di depan mata. Continue reading “Museum Bahari, Legenda Nusantara hingga Navigator Dunia”

Sebuah Kisah di Balik Tenggelamnya Van der Wijck

van der wijck

Saat rehat di Escape, Penang akhir pekan lalu; saya berkenalan dengan pengacara yang juga blogger dari Malaysia, Farah. Dari ‘ngobrol ‘ngidul seputar perjalanan, mendadak dia bilang,”just travelled to Jakarta last week.” Ngapain? Khusus menonton 3 (tiga) film: Soekarno, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKVDW) dan 99 Cahaya di Langit Eropa! Onde mande, rancak bana! Farah meyakinkan saya untuk menonton TKVDW setelah mendapat jawaban bahwa film itu tak seperti film dongeng, pun duplikasi Titanic. Jadilah usai ibadah Minggu siang (05/01/14), saya sempatkan untuk pergi ke Kuningan City demi TKVDW!

Saya termasuk satu di antara segelintir orang yang mengatasnamakan penikmat sastra yang awalnya sempat merasa sayang ketika membaca beberapa ulasan kekecewaan terhadap film TKVDW sebelum diluncurkan ke publik. Pasalnya, poster yang menyebar aduhaiiiiiii bak gambar cerita dongeng dari negeri khayangan. Untungnya sengaja menahan diri untuk tidak mengintip thriller trailer-nya di youtube! Dikarenakan Desember 2013  waktu lowong lagi terbatas, saya hanya sempat pergi ke studio untuk menikmati Soekarno. Continue reading “Sebuah Kisah di Balik Tenggelamnya Van der Wijck”

Laksamana Christina Rantetana: Perempuan Toraja Mewarisi Karakter Tominaa

laksamana christina

Pembawaannya sangat sederhana, tubuhnya yang dibalut batik hijau pupus jauh dari kesan kemasan keras dan sangar yang biasanya menjadi trademark militer. Senyum hangatnya mengembang menyambut langkah menghampiri tempat pertemuan kami di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara; Rumah Makan Solata. Sebuah rumah makan khas Toraja yang direkomendasikan beliau ketika kami membuat janji untuk bertemu.

Laksamana Muda TNI Christina Rantetana, SKM, MPH; Laksamana Perempuan Indonesia pertama di jajaran TNI AL. Bintang satu disematkan di pundaknya pada 1 Nopember 2002, empat abad setelah Laksamana Malahayati, Panglima Armada Selat Malaka dari Kerajaan Darud Donya, Aceh Darussalam tercatat dalam sejarah sebagai Laksamana Perempuan pertama di dunia. Bagaimana seorang perempuan yang berasal dari dataran tinggi Toraja ini bisa terjun di dunia bahari? Continue reading “Laksamana Christina Rantetana: Perempuan Toraja Mewarisi Karakter Tominaa”

Perempuan Keumala, Beranjak dari Sebuah Mimpi


Dua tahun lalu ketika Perempuan Keumala hadir dalam genggaman dan tuntas dilahap hingga ujung kata terakhir; sepercik asa yang menggelembung di hati hanya ingin wujudkan mimpi berjumpa sang penulis dan berterima kasih untuk karya indahnya yang sangat menginspirasi.

Apakah mimpi itu menjelma jadi nyata? Yup, pertemuan yang terjadi tak sebatas pertemuan biasa, tak cukup kata untuk menjabarkan rasa. Kemarin kaki ini tak betah diajak berdiri dengan santai. Maunya bergerak ke sana kemari tak sanggup menopang badan yang turut bergetar karena grogi. Meski persiapan diyakini telah matang tetap berdebar saat mulai angkat bicara. Continue reading “Perempuan Keumala, Beranjak dari Sebuah Mimpi”

Nikmatnya Sensasi HL


Lama gak mengikuti keriaan di Kompasiana, baru beberapa hari ini kembali menayangkan tulisan yang dipermak sedikit dari Olive’s Journey dan Perempuan Keumala. Postingan terakhir di Kompasiana tentang Kecanduan di Corong Opium nangkring di headline 15 April 2013 lalu. Setelah vakum 3 bulan, baru minggu lalu mencoba kembali ke K yang konon sudah pulih dari sakitnya, disamping kangen juga dan sering menemukan pesan di inbox yang menanti tulisan #eaaaaa! diam-diam punya penggemar hehehe.

Akhirnyaaaaaa …. setelah setor 3 tulisan, tulisan ke-4 kembali hadirkan sensasi karena dilirik admin dan dinaikkan jadi salah satu tulisan headline hari ini. Bukan cuma headline tapi juga masuk di freez. Ahaaaa …. paha pramugari eh paha Ayam Pramugari mejeng di K 😉 Continue reading “Nikmatnya Sensasi HL”

Penulis Idola

penulis idola

Penulisku Idolaku, judul artikel dengan warna jambon di salah satu majalah wanita edisi lama yang dibolak-balik saat antri di salon beberapa waktu lalu memikat mata. Artikel yang mengulas pengalaman tiga pembaca yang memenangkan undian untuk berkencan dengan penulis idola mereka selama 2 jam! Waktu yang tersedia digunakan untuk makan di resto plus ngobrol sepuasnya dengan idolanya. Tiga penulis yang dipertemukan dengan penggemarnya tersebut adalah Ayu Utami, Andrea Hirata dan Chlara Ng. Haiyaaaaa, ini artikel gw banget hehehe.

Bertemu dua jam saja mereka sudah kegirangan, kebayang donk gimana traveling bareng penulis idola menyusuri jejak sosok idola yang tertuang dalam bukunya? prikitiuwwwww! Dilarang sirik hahaha. Continue reading “Penulis Idola”