Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja

penenun toraja, Toraja Melo, toraja weaver, tenun toraja

Kokok ayam jantan menemani mentari pagi yang perlahan turun menerangi bumi Lakipadada saat lelaki itu mengeluarkan seekor ayam berbulu hitam mengkilap dari dalam kurungannya dan membawanya ke atas rumah. Ayam itu diserahkan kepada seorang lelaki sepuh yang duduk bersila di lantai. Tubuhnya dibalut baju Toraja yang menonjolkan motif pa’miring, motif tenun Toraja dengan corak garis-garis yang didominasi warna oranye. Mulutnya berkomat-kamit melafalkan sebuah mantera.

Adalah kebiasaan lelaki dalam masyarakat Toraja ketika membuka mata di pagi hari, kawan pertama yang disapa dan dielus-elus adalah ayam peliharaan. Namun pagi ini tak nampak seperti pagi yang lain. Sebilah pisau dihantarkan oleh tangan yang mengeriput pada leher ayam yang pasrah dalam genggamannya.

Nyesssss … darah segar menetes dari urat nadi yang terputus, mengalir memenuhi cekungan piring untuk menampung darah yang dicurahkan. Tak cukup darah seekor ayam, suara cericit anak ayam berbulu halus berikut tetesan darahnya pun menjadi pelengkap ritual pagi itu. Continue reading “Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja”

Sepenggal Asa buat Toraja

cinta toraja

“Kalau kami mati, tidak ada mi yang kasih terus”

Miris, obrolan singkat dengan tiga orang penenun renta di kampung adat To’ Barana Toraja Utara siang itu benar-benar mengusik hati. Nenek Butung (90th) & Nenek Panggau (80th) masih semangat untuk menyelesaikan tenunan toraja dengan ATBM (=alat tenun bukan mesin) yg usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan usia mereka jika melihat alat tenunnya yang mulai lapuk dan mengkilap karena gesekan dengan kulit selama bertahun-tahun. Tahan duduk berjam-jam mengisi hari tua menguntai benang menjadi selembar kain yang kemudian dijual kepada wisatawan yang berkunjung. Continue reading “Sepenggal Asa buat Toraja”