Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”