Menguji Kesabaran di Ajang Candat Sotong

candat sotong, squidjiggingtgg, terengganu

Matahari perlahan condong ke barat saat Laguna Redang yang kami tumpangi meninggalkan dermaga Pulau Redang. Raut penuh semangat terpancar dari muka peserta Terengganu International Squid Jigging Festival (TISJF) 2015. Mereka tak menghiraukan gejolak air laut yang mulai menunjukkan kegelisahannya. Yang mencoba menarik perhatian lewat goncangan yang disisakannya ketika riaknya menghempas badan kapal, namun tak cukup untuk mengalihkan semangat para pecandat sotong. Hari ini, sebagian dari mereka untuk pertama kalinya; ingin merasakan sorak para nelayan kala sotong-sotong tersangkut di ujung kail.

squidjiggingtgg, terengganu
Menuju ke Laut Cina Selatan

Sepuluh menit melaju dari dermaga, semua peserta harus berpindah ke perahu motor nelayan sesuai dengan kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 (sepuluh) peserta ditambah dengan seorang guard yang bertugas sebagai kepala regu dan 2 (dua) awak perahu. Continue reading “Menguji Kesabaran di Ajang Candat Sotong”

#J2C2: A Rocking Day in Penang

hard rock penang

Aku kembali ke Penang atas undangan Kementerian Pelancongan Malaysia dan Direktur Pelancongan Pulau Penang untuk melancong bersama Kembara Cuti-cuti 1 Malaysia, Penang (KCC1M). Lima hari yang penuh dengan kegiatan berjalan dari pagi sampai malam, membuatku memutuskan untuk kabur dari hotel di pagi buta agar bisa berjumpa dengan kk Danan.

Setiap orang pasti punya tempat kesukaan untuk bertemu dengan kawan, kerabat, teman kencan atau apalah namanya yang dijadikan tempat pertemuan. Mal, kafe, restoran, taman atau pun tempat keriaan lainnya adalah meeting point yang umum dijadikan pilihan. Terlalu mainstream! Karenanya, ketika membuat janji pertemuan dengan kk Danan di Penang; kami tak bertemu di mal, hotel atau tempat umum lainnya tapi bertemu di kuburan! Waktu pertemuannya pun bukan di siang bolong atau petang hari kala orang sudah siap bersantai.

protestant cemetery penang
Anti mainstream: bertemu jalan-jalan cuap-cuap di kuburan 😉

Continue reading “#J2C2: A Rocking Day in Penang”

Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa

i love KL. kl city gallery

Uncle, can you drive faster? seruku pada Uncle Simelekete agar melajukan kendaraan yang terengah-engah di jalan bebas hambatan. Gerutuan menggema dalam bahasa ketumbar jahe yang tak kupahami. Aku tak peduli. Namun kurasakan, kendaraan berlari lebih cepat dan lincah menari di padatnya lalu lintas pagi. Tak sampai sejam kami menggapai KLIA. Si uncle menepikan mobil di tempat menurunkan penumpang. Sapa terima kasihku disambut dengan senyum kecut, sembari membenarkan letak jenggotnya, nasihat yang sedari tadi ditahan meluap dari bibirnya. Sebelum banjir bandang, buru-buru kubendung dengan menutup pintu agar dirinya segera berlalu. Aku pun melesat mencari papan hitam besar di tengah ruangan yang sibuk itu.

KL city gallery, sejarah malaysia
Selamat datang di putaran masa

Sejak mengambil keputusan untuk berlama-lama menikmati kawasan warisan, aku sudah tahu tak akan bisa mengejar penerbangan pulang. Bahkan ketika memilih menikmati sekerat roti manis dan menyesap secangkir teh panas di sebuah gerai cepat saji di sudut Ampang, aku sangat sadar; harusnya saat itu sudah bersiap di ruang keberangkatan. Tapi, aku tak tergerak sama sekali untuk bergegas menjemput Meywah di 1915. Kuputuskan untuk melanjutkan bertualang di Dataran Merdeka. Alhasil, sepanjang perjalanan ke KLIA, kuping kusumpal dengan earphone agar tak terkontaminasi dengungan ketumbar jahe ala Uncle Simelekete. Continue reading “Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa”