Dassi Deata: The Spirit of Guru

dassi deata, lo'ko mata

Langkah akhir dari perjalanan kehidupan adalah kematian. Tak seorang pun yang tahu, pada langkah ke berapa jarum jam kehidupannya akan berhenti. Hanya DIA, Yang Empunya Kehidupanlah yang punya kuasa untuk terus memutarnya atau menghentikannya.

tinimbayo, kopi toraja
Secangkir kopi kenangan @Tinimbayo

Dassi Deata, 27 Desember 2010
Riak sungai, wangi tanah, gemerincing daun bambu yang saling mencumbu selalu bangkitkan memori saat kita menuruni bukit itu lima tahun lalu. Bukit di balik rumpun bambu di belakang Dassi Deata yang padanya pandangan mengarah. Kembali ke tempat ini sama dengan mengumpulkan potongan-potongan puzzle kenangan yang tercecer sekian puluh tahun. Mencoba menyusunnya, kembali pada rangkaian yang tepat.

Continue reading “Dassi Deata: The Spirit of Guru”

Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

pulang, wisata aceh

Jejak hujan masih tersisa kala kaki kita menapak di Peunayong malam itu. Aku sudah tak tahan dengan rengekan usus dalam perut yang sedari siang merindu sayuran. Entah kenapa tak mudah menemukan sayuran di Aceh. Sayuran yang aku maksud adalah sayuran hijau yang dibening. Aaah dasar perut kampung! Doyannya makanan rumahan. Kata Kak Yasmin yang seharian mengantarkan kita berkeliling; orang Aceh nggak doyan sayur.

Rex, pusat kuliner Banda Aceh tampak sepi. Tenda-tenda makanan yang biasanya ramai berjejer malam itu tak terlihat. Malam belum pekat, masih pk 19.00. Apa karena hujan?

Kepala kulongokkan ke setiap tempat makan yang kita lewati namun tak terlihat sayuran tersaji di meja. Untuk menenangkan rengekan perut aku membangun harap paling tidak sepiring cap cay bisa kita dapatkan untuk santap malam. Tapi ternyata meski Peunayong dikenal sebagai kawasan pecinan Banda Aceh, Continue reading “Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong”