Segelas Teh, Sejuta Kenangan di Peristirahatan Sang Maestro

makam raden saleh

Belumlah lengkap menulis tentang Raden Saleh Sjarif Bustaman tanpa menjenguk tempat peristirahatan terakhirnya di Desa Bondongan, Bogor. Sabtu pagi itu, saya bangun agak kesiangan karena malamnya pulang larut selepas menyaksikan konser puja-puji di Usmar Ismail, Jakarta. Jam dinding di kamar menunjukkan pk 08 tepat, dikurangi 10 artinya pk 07.50 (jamnya sengaja disetel lebih cepat 10 menit). Lasma yang bersemangat menerima ajakan bermain ke Bogor mengirimkan sms dirinya sudah otw ke stasiun Cawang. Setelah bersusah payah melawan rasa kantuk dan mengumpulkan nyawa, akhirnya badan ini bisa diajak bangun. Mengheningkan cipta sejenak mensyukuri napas hidup yang masih dikaruniakan Sang Khalik berikut pagi yang cerah sebelum menggeret paksa kaki ke kamar mandi. Continue reading “Segelas Teh, Sejuta Kenangan di Peristirahatan Sang Maestro”

Mengunjungi Kuhl & Hasselt di Buitenzorg

johan conraad van hasselt, heinrich kuhl

Matahari tepat di atas ubun-ubun saat langkah kami memasuki pelataran Kebun Raya Bogor (KRB) Sabtu (23/6). Akhirnya setelah empat atau lima tahun dari kunjungan terakhir, baru kali ini punya kesempatan lagi untuk bermain ke kebon besar. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 9,500/pengunjung kami memulai perjalanan berkeliling kebun. Jalan-jalan kali ini saya ditemani seorang kawan yang mauan diajak wisata makam ke Bondongan, Bogor. KRB sebenarnya tidak ada dalam daftar kunjungan, hanya saja karena masih malas untuk balik ke Jakarta kami iseng aja mampir setelah mengisi perut di Suryakencana. Continue reading “Mengunjungi Kuhl & Hasselt di Buitenzorg”

Menyusuri Jejak Pertempuran Surabaya November 1945

ereveld kembang kuning, makam kembang kuning

Jakarta, 4 Pebruari 2012 Sebuah perjalanan menyusuri sejarah bangsa diawali dari Menteng Pulo, tepatnya dari makam Brigadir Jenderal AWS Mallaby, Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds dan Letnan Philip Osborne. Mallaby tewas dalam pertempuran di depan Gedung Internatio, Surabaya pada 30 Oktober 1945; beberapa jam setelah tercapai kesepakatan antara Indonesia dan Inggris untuk mengakhiri kekacauan di Surabaya. Hingga kini tak diketahui dengan pasti Mallaby tewas karena terkena peluru pejuang Indonesia ataukah terjangan peluru dari pasukannya sendiri. Sedangkan Loder-Symonds dan Osborne meninggal dalam kecelakaan pesawat yang jatuh dan terbakar di bandara Morokrembangan, Surabaya pada 10 November 1945.

Kunjungan singkat yang berlangsung pada suatu pagi di awal Pebruari 2012 itu, menyisakan kerinduan untuk menyusuri jejak pertempuran Surabaya 1945. Continue reading “Menyusuri Jejak Pertempuran Surabaya November 1945”

Merah Putih Tak Mengangkasa di Hari Kebangkitan Nasional


Sejatinya hari ini adalah hari besar nasional yang menjadi salah satu tonggak bersejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mungkin karena hari ini adalah hari Minggu (20/05) yang secara kebetulan beriringan dengan libur panjang akhir pekan, maka tak terlihat adanya kegiatan khusus di tempat-tempat yang menurut saya cukup strategis di kota Pahlawan, Surabaya.

Nasibkoe soedah begini. Inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal saja ichlas.Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti MerdekaContinue reading “Merah Putih Tak Mengangkasa di Hari Kebangkitan Nasional”

Andai Sang Jenderal Hidup Lagi!


Jika ada peristiwa sejarah yang menyimpang dari kejadian yang sebenarnya terjadi, memang perlu diluruskan tapi jangan karena emosional. Setelah menulis tentang Panglima KNIL Jenderal Simon Spoor bulan Februari lalu, saya masih penasaran dengan hasil seminar yang diselenggarakan oleh Eksponen 66 di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17-18 Pebruari 2012 lalu. Akhirnya baru kemarin siang menemukan tautan ke hasil seminar yang dilansir oleh Harian Andalas (24/02/2012) dan Medan Bisnis (25/02/2012).

Medan Bisnis menayangkan berita dengan judul Jenderal Spoor Tewas di Sipirok, bahwa dari hasil seminar mengemuka Jendral Simon Spoor tewas di tangan Sahala Muda Pakpahan (Naga Bonar) dalam pertempuran di Aek Gambiri, Tor Simago-mago, Sipirok 23 Mei 1949. Continue reading “Andai Sang Jenderal Hidup Lagi!”

Setelah Kunjungan Pak Dubes


Tadi sebelum istirahat buka-buka Kompas.com dan membaca berita kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Greg Moriarty ke Morotai, Maluku Utara. Ternyata ayahnya dulu adalah tentara sekutu yang bertugas di Morotai pada masa Perang Dunia II (PDII). Di Morotai, Moriarty menyempatkan berkunjung ke makam tentara sekutu dan mencoba mencari jejak ayahnya. Sayang tak ditemuinya nama sang ayah tercantum pada salah satu dari 12 makam yang ada.

Yang menjadi pertanyaan kenapa pak Dubes gak sekalian ke Tantui, Kapaha Ambon ya? Kalau di sana ada sekitar 2.000–an makam tentara sekutu dan sebagian besar justru berasal dari Australia. Lebih sayang lagi, di berita tersebut tak disebutkan nama ayah pak Dubes jadi gak bisa juga mencari namanya, padahal mau coba bantu cek di list taman pemakaman. Continue reading “Setelah Kunjungan Pak Dubes”

Mencari Jejak Mallaby

aws mallaby, pertempuran sepuluh nopember, mallaby

Awan tebal yang menggelayut manja di langit tak mengurungkan niat kaki melangkah mendekati gerbang taman yang dituju di akhir pekan lalu. Taman yang membuat suara tercegat di tenggorokan kala gundukan-gundukan kecil tampak menyembul di sela hijaunya rerumputan yang terhampar rapi di depan mata. Beragam perasaan campur aduk dalam rongga dada, ada decak kagum menggetarkan ujung lidah namun tak sepatah kata pun terucap. Kuhentikan langkah pada anak tangga di tengah-tengah taman. Menyapukan pandang mengitari taman nan hijau, teduh dan asri. Hanya kesenyapan yang menyadarkan diri yang mematung di tengah taman pemakaman. Continue reading “Mencari Jejak Mallaby”

Senandung Sunyi, Menggali Ilmu dari Sebuah Nisan Tua


Ketika berkesempatan mengunjungi satu kota, ada beberapa hal yang harus saya cari tahu sebelum bertandang yaitu : sejarah kotanya, tempat wisata yang jarang dikunjungi orang serta kuliner khasnya. Kawan saya geleng-geleng kepala memelototi catatan kecil yang ada di tangannya,”kamu ke sini cuma buat mencari kuburan dan jalan ke museum?” Dia membuka pintu apartemennya lebar-lebar buat saya menginap selama berlibur di Singapur beberapa waktu lalu, syok mendengar penjelasan saya. Banyak tempat yang sama sekali belum pernah dia dengar apalagi dikunjungi.

Baju yang basah oleh keringat menempel di badan setelah berjalan kaki dari St Andrew, tak menyusutkan semangat untuk menapaki anak tangga menuju Fort Canning Park. Tujuan pertama mencari petunjuk arah ke Battle Box, bunker yang dulu menjadi markas pusat komando bawah tanah Inggris semasa perang dunia kedua. Setelah membayar biaya masuk, saya bergabung dengan rombongan turis bule untuk menyusuri bunker dipandu oleh seorang pemandu lokal bernama William. Continue reading “Senandung Sunyi, Menggali Ilmu dari Sebuah Nisan Tua”