Lelaki Berdagu Biru

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Sinar mentari merengkuh tanah saat kami menggapai gerbang Gampong Bitay, Meuraxa. Sesuai perkiraan ketika melihat plang penunjuk arah di persimpangan jalan kala meluncur ke Gampong Punge Blang Cut pagi tadi, bila bersetia mengikuti jalan lebar yang beraspal; sebentar juga sampai. Tapi Hadi yang tiga tahun lalu menemani berkeliling jejak sunyi, tetap menepikan kendaraan di depan sebuah kedai untuk memastikan kami tak salah mengambil arah.

Bang Pasha, kita sudah sampai. Turun yuk,” seruku pada si ganteng yang belum juga menemukan posisi duduk yang nyaman di kabin belakang mobil yang membuat badannya sedikit terlipat.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay
Jejak yang tertinggal di Gampong Bitay

Lelaki berwajah tirus dengan dagu hijau kebiruan itu; kulit kuningnya berkilat diterpa cahaya matahari. Dirinya menjulang di depanku sesaat setelah Hadi kumintai tolong untuk mengabadikan gambar di depan gerbang taman. Diayun-ayunkannya kakinya yang tadi terlipat di mobil sembari menebar senyum mengajak melangkah ke dalam tempat peristirahatan yang senyap itu. Pasha menguntitku sejak kemarin petang. Kata kak Yasmin yang menemani ke Bukit Malahayati, dia melihat lelaki tinggi kekar dan ganteng itu mengawaniku berbincang saat bermain ayunan di bawah pohon beringin besar yang tegak di belakang Indra Patra.

Continue reading “Lelaki Berdagu Biru”

Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”

Penulis Idola

penulis idola

Penulisku Idolaku, judul artikel dengan warna jambon di salah satu majalah wanita edisi lama yang dibolak-balik saat antri di salon beberapa waktu lalu memikat mata. Artikel yang mengulas pengalaman tiga pembaca yang memenangkan undian untuk berkencan dengan penulis idola mereka selama 2 jam! Waktu yang tersedia digunakan untuk makan di resto plus ngobrol sepuasnya dengan idolanya. Tiga penulis yang dipertemukan dengan penggemarnya tersebut adalah Ayu Utami, Andrea Hirata dan Chlara Ng. Haiyaaaaa, ini artikel gw banget hehehe.

Bertemu dua jam saja mereka sudah kegirangan, kebayang donk gimana traveling bareng penulis idola menyusuri jejak sosok idola yang tertuang dalam bukunya? prikitiuwwwww! Dilarang sirik hahaha. Continue reading “Penulis Idola”

Iwan Fals dan Kerinduan Malahayati


Jumat, 14 Juni 2013
Tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan bila rentang waktu telah digariskan untuk dilalui bersama. Dua jam tertunda di Jakarta serasa berjuta-juta tahun penantian untuk membawa rindu memeluk muaranya. Mata yang tadinya sayu kembali bersinar meski semalaman tak tidur menunggu perjalanan ini.

Pk 13.00, singa udara yang membawa kami dari Soekarno Hatta, Cengkareng Jakarta akhirnya menjejak juga di Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh. Ada rasa haru bercampur suka cita melebur kerinduan kala laut biru bumi Nanggroe lamat-lamat terlihat dari ketinggian. Aaah, Ibu akhirnya aku pulang bersama ibu.

Sebuah spanduk hitam berkibar memberi salam selamat datang menyambut langkah di luar gerbang SIM. “Ibu, Iwan Fals konser di Blang Padang esok Sabtu, 15 Juni 2013.” Kutoleh dengan semangat perempuan idola yang diselimuti rindu masih terdiam di bangku belakang.

Continue reading “Iwan Fals dan Kerinduan Malahayati”

[Pulang] Perjalanan Masa


Usai membaca Perempuan Keumala 2 tahun lalu, sejumput asa yang kuncup di hati hanyalah diberi kesempatan untuk bertemu penulisnya, Endang Moerdopo. Cuma ingin menyampaikan terima kasih atas sebuah karya yang sangat menginspirasi dan minta tanda tangan di bukunya. Itu aja cukup!

Kuncup itu terus tumbuh dan mekar seiring kerinduan untuk menyusuri jejak Keumala ke Nanggroe. Tak pernah terpikir ada satu cara untuk mencari sang penulis idola di jaman koneksi bisa tersambung lewat ujung jari. Ketika pertemuan yang diharap tak kunjung tiba, sejenak menyisihkan harap mengikuti kata hati menyusun rencana perjalanan. Continue reading “[Pulang] Perjalanan Masa”

Keumala, the Power of Nanggroe

benteng inong bale

Roda kendaraan menggelinjang menuruni jalan berbatu, sesekali dihindarinya gelitikan semak belukar dari kiri kanan jalan yang berebut menggapai tubuhnya. Melihat kondisi jalan yang kami lalui, bisa dipastikan sangat jarang kendaraan yang sengaja untuk berlalu lalang di sini.

Jelang tujuan, mata berulang menyusuri kembali pesan-pesan yang dikirimkan oleh sang Penerima Pesan sehari sebelum berangkat ke Nanggroe. Petuah untuk menyiapkan hati menghalau kecewa jika nanti mendapati hal yang jauuuuuuuh dari harapan bila bertandang ke benteng IBU.

“Jangan lewatkan pemandangan indah menuju benteng.”
“Kalau ke benteng jangan sedih ya, di sana tak ada satu pun yang tersisa.” Continue reading “Keumala, the Power of Nanggroe”

Keumala, the Soul of Nanggroe

makam malahayati

Tempat impian yang selama dua tahun hanya terbayang-bayang di angan kini di depan mata. Dari tempat kaki berpijak, belumlah tampak jelas karena terhalang dedaunan yang meneduhi peristirahatan di atas bukit. Meski panas cukup terik, semilir angin menebar sejuknya di sekitar Bukit Malahayati.

Taklah mudah berdiri tegap  di atas kedua kaki yang gemetar menahan gemuruh yang merambat dari dalam dada. Taklah mudah tetap terlihat tenang ketika hati ingin jejeritan, ketika air mata haru dan bahagia berlomba untuk unjuk rasa. Sejenak berdiam meredakan emosi syukur terangkai bagiNya, Sang Penuntun yang telah menghentar kaki ke tempat ini.

Continue reading “Keumala, the Soul of Nanggroe”

Merindu Keumalahayati


Belum ada tempat lain di Indonesia yang hadirkan hasrat begitu dalam untuk menyapanya [kembali] seperti rindu yang menggelora pada bumi Nangroe Aceh. Pernah jatuh cinta kan? Nah, ibarat hendak menjumpai kekasih hati, gejolaknya melebihi ikatan emosi pada kampung halaman sendiri! Bukan berarti gak cinta kampung sendiri lho ya, tapi sensasi dan getarannya berbeda.

Mulai mengakrabi Aceh kurang lebih sepuluh tahun lalu kala rasa lapar menyerang dan yang pertama tampak di depan mata adalah warung makan Aceh. Tahap penjajagan masih meraba-raba, perkenalan pertama tak berjalan mulus. Lagi, tujuan melangkah ke sana demi menghentikan teriakan protes dari kampung tengah. Continue reading “Merindu Keumalahayati”

Laksamana Keumalahayati, Perempuan Perkasa dari Aceh


Namanya tenggelam dibalik nama besar Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutiah serta nama-nama pahlawan wanita yang muncul setelah jamannya. Tak banyak yang tahu kisahnya, tak banyak yang mengenal siapa dirinya meski namanya melekat di lambung salah satu kapal perang kebanggaan negeri ini KRI Malayati.

Ketika dunia masih sibuk membincangkan kesetaraan gender, di Aceh pada abad 15 telah muncul seorang perempuan perkasa yang memimpin di garis depan, Laksamana Keumalahayati. Dialah perempuan pertama di dunia yang memegang pucuk pimpinan tertinggi sebagai Panglima Angkatan Laut Armada Selat Malaka kerajaan Darud Donya Darussalam dan pernah berjuang melawan Portugis hingga ke Johor. Putri dari Laksamana Mahmud Syah kakeknya Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Continue reading “Laksamana Keumalahayati, Perempuan Perkasa dari Aceh”

Perempuan Keumala


Mungkin kita pernah mendengar namanya tapi tak tahu siapa sebenarnya sosok yang namanya melekat di salah satu badan kapal perang RI : KRI Malahayati. Tepat di hari Kartini (21/04) ketika pembicaraan orang banyak terfokus ke sosok Kartini secara gak sengaja mendengar namanya disebut oleh Farhan lewat “Farhan in the Morning” di Delta FM.

Malahayati atau Keumalahayati nama yang sering didengar tapi gak tahu secara pasti siapa gerangan si empunya nama, kalau namanya sampai digunakan oleh AL di kapal perang gak mungkinlah tanpa alasan yang jelas.

Continue reading “Perempuan Keumala”