Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

pulang, wisata aceh

Jejak hujan masih tersisa kala kaki kita menapak di Peunayong malam itu. Aku sudah tak tahan dengan rengekan usus dalam perut yang sedari siang merindu sayuran. Entah kenapa tak mudah menemukan sayuran di Aceh. Sayuran yang aku maksud adalah sayuran hijau yang dibening. Aaah dasar perut kampung! Doyannya makanan rumahan. Kata Kak Yasmin yang seharian mengantarkan kita berkeliling; orang Aceh nggak doyan sayur.

Rex, pusat kuliner Banda Aceh tampak sepi. Tenda-tenda makanan yang biasanya ramai berjejer malam itu tak terlihat. Malam belum pekat, masih pk 19.00. Apa karena hujan?

Kepala kulongokkan ke setiap tempat makan yang kita lewati namun tak terlihat sayuran tersaji di meja. Untuk menenangkan rengekan perut aku membangun harap paling tidak sepiring cap cay bisa kita dapatkan untuk santap malam. Tapi ternyata meski Peunayong dikenal sebagai kawasan pecinan Banda Aceh, Continue reading “Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong”

Lelaki dan Kopi Aceh


Gara-gara membaca 30 Hari Keliling Sumatera-nya Ary Amhir beberapa waktu yang lalu, saya memasang status di beberapa linimasa dengan menyebut-nyebut kasih sayang lelaki Takengon yang seksi. Status yang sontak membuat seisi jagad kasak-kusuk mencari tahu siapa gerangan lelaki Aceh yang beruntung itu hahaha.

Lalu, beberapa kawan yang mendengar kabar angin rencana kePULANGan ke Aceh saat bertemu menyodorkan muka penuh tanya,”Aceh agaiiiiiiiin? Ada apa sih di sana yang bikin loe kesengsem? Lelaki seksi itukah?” Ada juga yang bertanya,”loe punya keluarga ya di Aceh? doyan banget ke sana?”

Ha … ha … ha …haaaaaaa, kenapa sih pada penasaran? Continue reading “Lelaki dan Kopi Aceh”