Dialita, Suara Hati Perempuan Penyintas G30S

dunia milik kita, paduan suara dialita, dialita, wanita tapol, tapol, kamp plantungan, penjara bukit duri

Petang mulai basah dan secangkir Blossom Tea dingin menyusut dari cangkir ketika seorang lelaki memasuki kedai kopi tempat saya bermalas – malasan menatap layar monitor yang tampilannya tak berubah banyak selama hampir sejam duduk di sana.

dunia milik kita, paduan suara dialita, dialita, wanita tapol, tapol, kamp plantungan, penjara bukit duri
Album pertama Dialita

Dia mengedarkan pandang, bertanya pada petugas di meja kasir, sepertinya mencari seseorang. Bersamaan dengan gerak tangan kanannya yang menggenggam HP didekatkan ke kuping, layar HP saya yang tergeletak di meja pun turut bergerak – gerak.

Pak Saiful?”
Ibu Olive?”

Lelaki itu mengangguk, membuat garis senyum di bibirnya dan berjalan mendekat. Padanya, saya pun melempar senyum. Akhirnya, lelaki yang sedari tadi dinantikan hadirnya muncul juga.

Continue reading “Dialita, Suara Hati Perempuan Penyintas G30S”

Melepas Senja di Makam Ade Irma Suryani

ade irma suryani

Hari jelang senja saat langkah kami sampai di gerbang taman belakang kantor Walikota Jakarta Selatan, Minggu (30/9). Dari balik pagar sebuah bangunan menjulang di tengah taman langsung saya kenali sebagai Monumen Ade Irma Suryani. Demi melihat ada bayangan seseorang di salah satu bagian gedung, saya melayangkan isyarat bertepuk tangan sambil berteriak. Entah karena sibuk, panggilan tak berjawab; namun seketika saya menyadari pintu gerbang tidak terkunci karena dorongan badan saya membuatnya bergeser.

Monumen Ade Irma Suryani Nasution, tulisan itu terpampang di bagian atas monumen yang kini berdiri tegak di hadapan saya. “Mungkin anak-anak sekarang termasuk keponakan saya tak banyak yang mengenal siapa Ade Irma Suryani”, imbuh seorang kawan yang menemani berkunjung ke makam Ade Irma kala berbincang sambil selonjoran di pelataran monumen. Continue reading “Melepas Senja di Makam Ade Irma Suryani”