Wapres Boediono Membuka Pameran Monografi Raden Saleh


Sebuah momentum berkesenian terukir dalam sejarah untuk pertama kalinya di Indonesia bahkan mungkin di dunia, terjadi malam ini. Bapak Modernitas Jawa yang melintas batas kesukuan dan tempat; Raden Saleh Syarif Bustaman adalah contoh ke-bhinnekaan. Keturunan Jawa Arab yang besar dalam keluarga bupati di daerah Jawa Tengah, pada usia 22 tahun berangkat ke Eropa untuk mendalami seni lukis dan tinggal di sana selama lebih dari 20 tahun. Demikian disampaikan Wakil Presiden Boediono dalam sambutannya pada pembukaan pameran Raden Saleh dan Awal Lukis Modern Indonesia di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu malam (2/6). Continue reading “Wapres Boediono Membuka Pameran Monografi Raden Saleh”

Raden Saleh, Seniman yang Dilupakan Kembali ke Tanah Air

pameran raden saleh, raden saleh

Raden Saleh tak dapat dipisahkan dengan Diponegoro, keduanya saling terkait. Demikian pendapat Dr. Werner Kraus, ahli sejarah seni asal Jerman dan pakar seni Asia Tenggara dalam jumpa pers di Galeri Nasional Jumat (25/05). Apa yang disampaikan Kraus, mengingatkan saya pada pementasan opera Diponegoro, Java War 1825-0000 yang digarap oleh Sardono W. Kusumo bulan November tahun lalu di Teater Tanah Air, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Turut hadir malam itu Peter Carey sejarawan dari Oxford University, penulis buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and The End of An Old Order in Java 1785-1855 (2008). Continue reading “Raden Saleh, Seniman yang Dilupakan Kembali ke Tanah Air”

Batik Indonesia “Warisan Yang Hidup”


Di mata masyarakat awam, batik dikenal secara global sebagai pakaian yang biasa dikenakan oleh orang-orang di daerah Jawa khususnya Jawa Tengah (Solo) dan Yogyakarta. Batik menjadi ciri khas daerah tersebut sehingga dahulu jika melihat orang mengenakan pakaian batik atau sarung batik, langsung ditebak itu pasti orang Jawa. Kalaupun kalangan umum lainnya mengenakan batik, hanya sebatas sebagai pelengkap berbusana dalam perhelatan resmi misalnya dikenakan pada pesta pernikahan. Keadaan menjadi berubah 180 derajat ketika terjadi keributan yang berawal dari tindakan Malaysia mengklaim batik sebagai milik negara jiran itu pada tahun 2008. Pengakuan negara tetangga ini membuat perajin batik resah dan masyarakat Indonesia gusar. Continue reading “Batik Indonesia “Warisan Yang Hidup””