Gairah Nanggroe

travelnblog, worshop travel blogger

“Kok bisa isi blognya tentang Aceh sedang penulisnya orang Toraja?” tanya yang sering mengemuka acap kali ada yang mampir di sini atau di sana. Pula saat mudik ke Toraja akhir tahun kemarin, diberondong tanya serupa,“Kok bisa jatuh cinta pada Aceh?” Pertanyaan sederhana yang kadang membuat diri bingung dari mana memulai, membeberkan jawabannya. Secara raut wajah, sering disangka orang Jawa yang melahirkan canda dan mengakui diri sebagai orang Solo[wesi]. Tapi ketika disapa dengan bahasa Jawa, jawabannya pasang muka tak bersalah sembari senyam-senyum.

image
Cinta mengajak langkah menyusuri jejak manuskrip Aceh ke Univ. Kebangsaan Malaysia

Jadi kenapa Aceh? Mungkin jawaban Bang Tunis, rakan dari Nanggroe yang sedang menikmati perselingkuhannya dengan Heizung di tengah salju Berlin ini bisa sedikit mencerahkan,”karena, Nanggroe untuk dicintai.

Continue reading “Gairah Nanggroe”

Aleph, Nikmatnya Orgasme Spiritual

aleph, paulo coelho, trans siberian railway

Tragedi selalu membawa perubahan radikal dalam hidup kita, perubahan yang berhubungan dengan prinsip yang sama: KEHILANGAN. Secara teori setiap kehilangan adalah untuk kebaikan kita; namun pada praktiknya, saat itulah kita mempertanyakan keberadaan TUHAN dan bertanya pada diri sendiri: Apa yang sudah kulakukan sehingga pantas menerima hal ini?

Ada banyak cara yang dapat dilakukan ketika didera galau. Bagi yang suka berjalan, melakukan perjalanan ke tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi dan bertemu dengan orang-orang baru pasti akan membuat diri bersemangat dan dapat membangkitkan kembali asa yang meredup. Bagi sebagian orang, menyepi dan mengasingkan diri di satu tempat akan membuatnya lebih mendekatkan diri pada sang Khalik dan memahami dirinya.

Bagaimana dengan perjalanan menyusuri kenangan, kembali ke satu masa yang jejaknya menyakitkan? Continue reading “Aleph, Nikmatnya Orgasme Spiritual”

TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana


Senja itu sedianya kami berencana menikmati matahari terbenam di tepian Ujong Batee. Kepada Kak Yasmin yang menemani berkeliling menyusuri jejak IBU Laksamana Keumalahayati, dari semalam sudah diwanti-wanti untuk menepi sejenak di pantai itu sepulang dari Benteng Inong Balee. Sayangnya, semesta tak bersahabat. Sedari pagi hujan menderas saat kendaraan baru meniti Jalan Malahayati menuju Krueng Raya.

Karena telah diniatkan, meski senja itu gerimis turun satu-satu; kami tetap berhenti sejenak di bibir jalan dan bergegas ke pantai. Kak Yasmin meminta ijin untuk tetap berada di dalam kendaraan karena dirinya masih belum yakin untuk menjejak di pantai. Tsunami 2004 lalu yang menghabiskan sebagian besar keluarganya, telah membuatnya trauma melihat air laut.
Continue reading “TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana”

Mengejar Ayam [di]Tangkap

rm atjeh rayeuk

Ada dua jenis sajian ayam goreng yang membuat saya terkekeh ketika menjejak di Nanggroe. Kali pertama mudik, diajak mencicipi Ayam Tangkap di Atjeh Rayeuk, Lueng Bata. Meski sebelumnya pernah mencicipinya di Meutiah, makan sajian asli di tempat asalnya memberikan sensasi rasa yang berbeda. Selang tiga bulan kemudian ketika berkesempatan mudik lagi, seorang rakan mengajak saya makan Ayam Lepas di samping RS Malahayati sebelum berlari ke bandara Sultan Iskandar Muda (SIM).

ayam lepas aceh
Memotret Ayam Lepas di kedai Ayam Lepas samping RS Malahayati, Banda Aceh (dok. Hadi)

Awalnya terpikir hanya perbedaan nama yang membedakan kedua ayam goreng ini, ternyata pengolahan dan sajiannya pun berbeda. Continue reading “Mengejar Ayam [di]Tangkap”

Janji Senja dan Secangkir Kopi di Lubuk Sukon


Hujan dan senja selalu hadirkan gelisah setiap kali mereka bertandang di saat yang bersamaan. Mendadak bayangan secangkir kopi panas menyembul dari balik lembaran majalah perjalanan yang terbentang pasrah di pangkuan. Kepulan asapnya menebar aroma mewangi, membuncah pucuk rasa untuk menyesapnya. Hmmm … aroma arabica menggoda memori pada ritual senja di Lubuk Sukon sembari menikmati tarian hujan.

Lubuk Sukon, Kopi Aceh
Khupi itam dan kacang goreng yang menggetarkan rasa

Wangi tanah yang basah oleh derai hujan menyambut langkah kembali menjejak di gampong tercinta, Lubuk Sukon. Kusapa wajah Bang Jem yang sumringah setelah gelisah menunggu di depan masjid di mulut gampong (= kampung). Siang itu, kutepati janji pada Bang Jem kala secangkir khupi itam menemani obrolan senja di tepi sawah; kembali ke Lubuk Sukon bersama Ibu ditemani Kak Linda, Ari dan Citra yang menyusul dengan Yudi. Continue reading “Janji Senja dan Secangkir Kopi di Lubuk Sukon”

[Resensi] Semua untuk Hindia

semua untuk hindia

Satu waktu seorang kawan datang ‘ngedumel merasa diracuni usai membaca resensi sebuah buku di rumah ini. “Gara-gara loe ya Lip, gw bela-belain keliling ke toko buku mencari buku itu. Awas kalo ternyata jelek!”

Kita sering mengerutkan kuping ketika mendengar kata sejarah. Terlebih saat buku sejarah disebut, kening pun turut berkerut diiringi gerakan bibir membentuk senyum sinis. Entah sudah berapa ribu kali pertanyaan,”koq suka sih baca buku begitu?” acapkali sebuah buku yang bersinggungan dengan catatan sejarah terlihat dikepit di tangan.

semua untuk hindiaApa asiknya sih menyusuri deretan kata yang membentuk rangkaian kalimat datar tentang peristiwa masa lampau? Baru baca seperempat halaman mata sudah didera BOSAN. Continue reading “[Resensi] Semua untuk Hindia”

MenjumpaiMu di Baiturrahman

masji baiturrahman

Tahu apa kamu tentang Aceh?” gema tanya sinis memenuhi kepala saat kaki perlahan diayun ke dalam pelataran Baiturrahman. Tanya yang kau gaungkan dua minggu setelah tsunami memporak-porandakan Aceh. Semua bermula dari sebuah pesan berantai yang tersangkut di kotak suratmu, dan di sana kau temukan namaku berderet bersama nama-nama lain yang membuatmu meradang dan memaki penuh emosi lewat telepon.

Malam mulai menua, di bawah kaki menara aku mematung, memandang nanar pada rembulan yang ragu bangkit dari peraduannya. Hmmm … tahu apa aku tentang Aceh? Baiklah, kan kuceritakan padamu sepotong kisah yang aku tahu. Entah apakah kau pernah mendengarnya atau mungkin pula telah mengetahuinya, aku kan tetap berbagi kisahnya dari tempatku saat ini menjejak.

masjid baiturrahman
Di kaki menara itu kupenuhi panggilanMu

Berpedoman pendar cahaya lampu taman yang temaram, perlahan kuayun langkah mendekati pokok ketapang yang menghiasi pelataran bait suci. Sebongkah semen dipatok di sana, di atasnya terpatri tulisan yang samar terbaca .. Continue reading “MenjumpaiMu di Baiturrahman”

Salam dari Rambai

sri rambai

Pk 15.59 … masih ada sisa waktu 1 menit sebelum seisi bis mendemo karena raga telat menghampiri kotak berpendingin itu. Namun, tanpa memperhitungkan berapa menit yang diperlukan untuk melangkah menuju gerbang Cornwallis hingga menggapai tempat parkir, kuikuti satu hentakan yang bawa langkah mendekat ke ujung barat benteng untuk menemuimu.

Dirimu berdiri beku dalam diam, dingin dan terkesan angkuh dengan pandangan tak lepas ke Selat Malaka. Itu yang kau lakukan saban hari; dari matahari terbit hingga malam menenggelamkannya. Entah harap apa yang kau titip di ujung sana, mungkin satu saat engkau kan berbagi. Tiga langkah dari tempatmu berdiri kuhentikan langkah sejenak, kupandangi lekuk tubuh dan kulitmu .. hijau kebiruan, mengkilap diterpa pendar matahari senja.

sri rambai
Sri Rambai, idola segala usia

Desah angin Selat Malaka mengalun lembut … sebentuk tanya menyapa di sudut hati, siapa gerangan dirimu yang berani menahan langkah di ujung benteng ini? Sepotong nama aku temukan terselip di antara deretan kata yang sudah usang tergerus panas dan hujan, terpampang di sebuah papan penanda tak jauh dari tempatmu berdiri, Sri Rambai. Continue reading “Salam dari Rambai”

Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”