Bakmoy Gayobies

gayobies, kopi gayo

Radiana Mahaga senja itu sibuk di dapur mungilnya dibantu beberapa anggota keluarganya melayani para tamu yang datang ke Gayobies, kedai kopi yang baru seminggu dibukanya di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Di senja yang sama, saya memilih duduk di depan dapur Gayobies setelah mengamati antrian mengular di depan ABCD. Pun lidah merindu nikmatnya kopi Gayo.

kopi gayo, khupi aceh, gayobies
Kopi tubruk tubruk Gayo

Duduk di kedai kopi ditawari kopi itu biasa, ditambah dengan camilan untuk menemani ngopi juga masih wajar. Tapi pernah nggak ke kedai kopi milik orang Aceh ditawari kopi dan BAKMOY? Continue reading “Bakmoy Gayobies”

TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana


Senja itu sedianya kami berencana menikmati matahari terbenam di tepian Ujong Batee. Kepada Kak Yasmin yang menemani berkeliling menyusuri jejak IBU Laksamana Keumalahayati, dari semalam sudah diwanti-wanti untuk menepi sejenak di pantai itu sepulang dari Benteng Inong Balee. Sayangnya, semesta tak bersahabat. Sedari pagi hujan menderas saat kendaraan baru meniti Jalan Malahayati menuju Krueng Raya.

Karena telah diniatkan, meski senja itu gerimis turun satu-satu; kami tetap berhenti sejenak di bibir jalan dan bergegas ke pantai. Kak Yasmin meminta ijin untuk tetap berada di dalam kendaraan karena dirinya masih belum yakin untuk menjejak di pantai. Tsunami 2004 lalu yang menghabiskan sebagian besar keluarganya, telah membuatnya trauma melihat air laut.
Continue reading “TARI, Metoda Terapi Pemulihan Anak-Anak Korban Trauma Pasca Bencana”

Lelaki dan Kopi Aceh


Gara-gara membaca 30 Hari Keliling Sumatera-nya Ary Amhir beberapa waktu yang lalu, saya memasang status di beberapa linimasa dengan menyebut-nyebut kasih sayang lelaki Takengon yang seksi. Status yang sontak membuat seisi jagad kasak-kusuk mencari tahu siapa gerangan lelaki Aceh yang beruntung itu hahaha.

Lalu, beberapa kawan yang mendengar kabar angin rencana kePULANGan ke Aceh saat bertemu menyodorkan muka penuh tanya,”Aceh agaiiiiiiiin? Ada apa sih di sana yang bikin loe kesengsem? Lelaki seksi itukah?” Ada juga yang bertanya,”loe punya keluarga ya di Aceh? doyan banget ke sana?”

Ha … ha … ha …haaaaaaa, kenapa sih pada penasaran? Continue reading “Lelaki dan Kopi Aceh”

Keumala, the Spirit of Nanggroe


Pantai Ujong Batee, selintas tulisan pada papan penanda tempat wisata di Jl Krueng Raya, Aceh Besar tertangkap ujung mata. Sekitar 200 meter dari sana, kami berhenti di bibir pantai yang senyap menanti beberapa kawan yang menyusul dengan kereta (=sepeda motor).

Langit berselimut awan kelabu. Sang surya yang biasanya tampil gagah turut bermuram durja melengkapi Minggu pagi yang sepi di penghujung Pebruari 2013. Kaki diayun di atas hamparan pasir yang berlomba memeluk erat pori-pori kaos yang membalut jemari kaki. Di pantai itu hanya terlihat satu keluarga kecil menikmati berendam dalam air laut yang mereka bendung di tepian. Continue reading “Keumala, the Spirit of Nanggroe”

‘Ngelindur ke Aceh


Kemarin siang badan tiba-tiba meriang gak karuan, hidung meler dan kepala berasa melayang-layang. Tak kuat akhirnya menyerah dan ijin pulang istihat karena di meja kerja hanya melototin monitor dengan pikiran mengembara dan otak gak bisa diajak berkonsentrasi. Sampai di rumah langsung masuk kamar dan terlelap dalam sekejap. Menjelang senja tidur mulai gelisah, sebentar-sebentar terbangun mendengar suara sendiri berkicau tentang perjalanan ke Aceh. OMG, kenapa tiba-tiba ‘ngelindur??

Dari salah satu sumber yang disodorkan om Gugel disebutkan, “‘Ngelindur atau mengigau adalah aktifitas yang dilakukan seseorang dengan menceracau saat tidur. Dalam dunia medis ‘ngelindur termasuk gangguan tidur, bahasa kerennya parasomnia. ‘Ngelindur banyak dijumpai pada anak usia 3 – 10 tahun sedang usia dewasa hanya sekitar 5% saja.” Continue reading “‘Ngelindur ke Aceh”

Menjejak Merauke di Kota Sabang

tugu kembar sabang merauke

Koq bisa? Eng ing eng *pasang muka chibi chibi*

Siapapun yang berkesempatan mengunjungi Sabang pasti bela-belain untuk bisa mengabadikan diri di Tugu Km Nol bukan? Meski tugu penanda letak geografis bagian barat Indonesia ini tidak berdiri tepat di atas garis terluar barat Indonesia, tak ada yang mempertanyakannya.

Pantat yang tadinya enggan bergerak mulai dilanda gelisah saat bis yang membawa kami dari Sabang memasuki Kawasan Hutan Wisata Sabang. Berkali-kali menengok jarum jam di pergelangan tangan menghitung menit demi menit bersiap berlari. Bukaaaan! Bukan untuk mengabadikan momen di atas puncak Km Nol tapi karena kebelet pipis hahaha. Continue reading “Menjejak Merauke di Kota Sabang”