Bike with Elena: Mengayuh Sepeda Menyusuri Jejak Masa yang Tersembunyi di Kuala Lumpur

bike with elena, bersepeda di kuala lumpur, gowes heritage

Kami datang satu jam lebih lambat dari janji pertemuan dengan Elena karena menunggu beberapa kawan yang perjalanannya tersendat oleh kemacetan di Senin pagi ke tempat berkumpul di Malaysia Tourism Centre (MaTiC). Matahari mulai meninggi. Agar tak berlama – lama terpapar matahari, Elena mengajak kami untuk berkumpul di seberang Kuala Lumpur City Gallery. Ia mengenalkan dirinya dan dua lelaki yang menemaninya pagi itu, Hau Young dan Kookkeong Fong a.k.a KK. Mereka bertiga akan mengawani kami berkeliling Kuala Lumpur dengan bersepeda.

bike with elena, bersepeda di kuala lumpur, obike kuala lumpur, gowes heritage
Bike with Elena ki-ka: Elena Mei Yun, Hau Young, dan Kookkeong Fong a.k.a KK

Elena Mei Yun yang senang bepergian dengan bersepeda, mengenalkan Bike with Elena dengan mengemas paket perjalanan wisata bersepeda di Kuala Lumpur dan sekitarnya sejak 2015 lalu. Untuk memudahkan pejalan, Elena juga menyediakan sepeda untuk dipinjamkan.

Continue reading “Bike with Elena: Mengayuh Sepeda Menyusuri Jejak Masa yang Tersembunyi di Kuala Lumpur”

Tergoda Agoda


Surat listrik yang dikirimkan oleh Steve dari UK pertengahan Mei lalu kembali dibaca sesaat setelah keluar dari Simultankerk. Aaaggh, untuk kesekian kalinya langkah kuayun ke tempat ini, memenuhi panggilan jiwa, dan menunaikan tugas yang baru diemban dari Commonwealth War Graves Cemetery (CWGC) sebagai, Tukang Potret Kuburan Perang.

Good evening Olive, I have now returned home after a few days working away in Plymouth. I have just email the Office of Australian war graves to obtain permission for you to enter Ambon. I have attached a letter from us asking assistance in letting you photograph which may help in Ambon and Jakarta. Attached is the sort of picture we need

aws mallaby, pertempuran sepuluh nopember, mallaby
Di depan peristirahatan Brigadir AWS Mallaby

Menepi di bangku taman di depan gereja, kukeluarkan botol air dari dalam kantong Onye dan meneguk isinya hingga habis setengah, demi menghalau dahaga yang merongrong. Kuhapus peluh yang membanjiri muka dan beranjak ke gerbang Jakarta War Cemetery. Tak ada siapa-siapa di sana. Heiiii, ini kuburan Lip! Upzzz … o, iya lupa 😉 Continue reading “Tergoda Agoda”

Tansu Kemayoran

tansu kemayoran

Rasa lapar dan haus menyerang usai menyusuri jejak Tintin. Sesuai kesepakatan awal, kegiatan terakhir di seputar Kemayoran adalah mampir ke Tansu Kemayoran. Namanya terasa janggal di kuping semenjak menemukannya tertera di agenda mengayuh. Hmmm … jenis makanan apa gerangan ini? Tak ada bayangan sama sekali wujudnya seperti apa?

tansu kemayoran
Meracik Tansu

Tansu adalah singkatan untuk Ketan Susu. Karena dijual di kawasan Kemayoran jadilah namanya dikenal dengan Tansu Kemayoran. Penganan yang terbuat dari ketan kukus, disajikan dengan ditaburi parutan kelapa lalu disiram dengan susu kental manis. Continue reading “Tansu Kemayoran”

Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran

bandara kemayoran

Minggu pagi (01/06/14) lalu, kaki kembali mengayuh Prince Red mengitari Jakarta bersama tim Gowes Heritage. Gowes kali ini menyusuri jejak petualangan seorang tokoh komik dunia yang pernah mendarat di Jakarta, Tintin.

Ketika sebagian besar warga Jakarta lebih senang menyesakkan diri di seputar Sudirman – Thamrin, berduabelas kami justru menghindari pusat keramain. Mengayuh dari titik pertemuan sejuta umat di bundaran Hotel Indonesia (HI) menyusuri Menteng, Kwitang, Senen hingga Kemayoran. Mencoba menghirup udara pagi Jakarta, meski harus berpacu dengan kendaraan bermotor yang membuang gas kotornya ke udara. Resiko hidup di hutan beton yang sebagian besar warganya tak peduli dengan lingkungannya.

bandara kemayoran
Landasan Parkir dan Terminal Bandara Kemayoran Jakarta kini

Kemayoran. Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata ini? Pameran? Pekan Raya Jakarta (PRJ), festival musik? Sebagian besar dari kita mungkin saat ini hanya mengenal Halim Perdana Kusumah dan Soekarno Hatta sebagai bandara udara (bandara) sipil di Jakarta. Bagaimana dengan Bandara Kemayoran? Continue reading “Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran”

Jejak-jejak Pak Thamrin

patung mh thamrin

Tinggal di Jakarta tapi tak tahu dimana jalan Thamrin? *terlaluuu* Coba tanya mereka yang berkantor di gedung-gedung di sepanjang jalan Thamrin, muka mereka berseri-seri ketika menyebutkan lokasi kantornya di sekitar jalan protokol yang membelah metropolitan Jakarta itu. Tapiiii, meski setiap hari menyusuri jalan itu berangkat dan pulang kerja, belum tentu mereka mengenal siapa sosok yang namanya diabadikan sebagai nama Jl MH Thamrin.

patung mh thamrin
Prince Red di depan patung MH Thamrin

Pk 06.30 di minggu pagi bundaran Hotel Indonesia (HI) sudah dipenuhi manusia. Ada yang sekedar duduk-duduk manis di bibir kolam air mancur menikmati pagi, ada yang asik mengabadikan diri dengan latar air mancur yang menjadi salah satu ikon kota Jakarta, ada yang menikmati sarapan, ada yang bergerombol berjalan dalam kelompok membawa spanduk komunitas, ada yang sibuk membunyikan bel sepeda meminta jalan di padatnya manusia dan beragam kegiatan lain yang dilakukan untuk mengisi pagi. Continue reading “Jejak-jejak Pak Thamrin”

Gowes Heritage: Jelajah Jejak Makam Kuno

Ereveld Menteng Pulo

Hari pertama di bulan Pebruari langit Jakarta masih saja bermuram durja. Entah sampai kapan dirinya akan memelihara sendu. Berbeda dengan Prince Red, sejak kemarin sore dirinya bersemangat menanti pergantian hari. Tak peduli mau langit Jakarta muram, ‘nangis, dirinya yakin Minggu pagi pasti diajak jalan-jalan.

Saking semangatnya, Prince Red semalaman tak bisa tidur. Bukan karena siaga banjir, tapi di otaknya sudah terbayang perjalanan seru yang akan dijalaninya. Pk 05.30 dirinya lagi tidur-tidur ayam saat sepasang tangan yang sudah sangat dirindukannya perlahan menepuk-nepuk punggungnya. Secepat kilat Prince Red menggeliat, memasang senyum paling manis, siap untuk jalan pagi. Continue reading “Gowes Heritage: Jelajah Jejak Makam Kuno”