Gowes Heritage Soerabaia: Mencari Gerbong Maut

gerbong maut surabaya

Sepedaaaaaa!!! Mata berbinar-binar melihat 2 (dua) unit sepeda berdiri manis di luar pintu kaca lobi saat kaki baru saja menjejak di depan Artotel Surabaya. Lambaiannya membuat otak sekejap bereaksi, mengobrak-abrik strategi penyusuran kota, menyusun itinerary dadakan. Tak ingin pengalaman di Artotel Thamrin terulang, sepeda yang sudah dipesan dari Sabtu malam ternyata esok paginya tidak bisa digunakan karena (kata bagian resepsionisnya) sudah dipesan tamu lain. Malam itu, usai ngobrol di RoCA, saya minta bantuan Angga untuk mengecek ketersediaan sepeda di Minggu pagi.

lambang surabaya, patung sura dan boyo, ikon surabaya
Suro dan Boyo

Tak lama, Angga berkabar sepeda sudah dipesankan untuk 4 (jam) pemakaian. Cihuuuuiiiy! Eh, tapi mau ngegowes kemana? Dulu semasa kuliah suka mengitari komplek AL acap kali berlibur ke rumah Nenek di Kenjeran. Kalau di tengah kota belum terpikir mau ke mana, jadi senangnya disimpan lagi sampai Minggu tiba.

Sepertinya tak ada tamu lain yang berminat mengayuh sepeda di Surabaya. Buktinya? Pertama, saat mengambil sepeda pagi itu, mbak di resepsionis senang banget melihat saya bersemangat. Continue reading “Gowes Heritage Soerabaia: Mencari Gerbong Maut”