Soldaten Kaffee: Selamat Sore Führer!

soldaten kafe, sejarah hitler

Think thousand times before taking a decision. But, after taking decision never turn back even if you get thousand difficulties – [Adolf Hitler]

Ehmmm, maaf lagi ngapain mbak?”

Suara deheman dari balik punggung menghentikan gerakan tangan yang siap meng-capture gambar swastika yang tertancap di lantai. Balik badan, mata bersirobok dengan tatap penuh tanya seorang lelaki yang raut mukanya cukup familiar; Henry Maulana, pemilik tempat yang telah dijajah selama sepuluh menit muncul di hadapan saya. Kami pun berkenalan dan mengobrol singkat seputar kegemarannya yang berlanjut ke sebuah usaha tempat makan yang mengundang kontroversi publik.

soldaten kaffee, kuliner bandung, nazi
Direction

Kepulangan mendadak ke Bandung Juli lalu mempertemukan langkah dengan Henry tanpa ada kesepakatan pertemuan di Soltaden Kaffee Continue reading “Soldaten Kaffee: Selamat Sore Führer!”

Mengampuni Yang Tak Terampuni


Entah sejak kapan selalu suka dan tertarik untuk membaca tentang Africa terlebih dengan alam dan kehidupannya.  Tiga tahun lalu saat menemukan buku ini di salah satu toko buku langganan, semakin membuka mata hati untuk terus belajar menghargai sekitar.Belajar tentang kasih akan sesama dan kasih dari atas yang tak pernah habis serta mencoba memahami jalanNya. Membaca buku ini dari awal hingga akhir akan membawa jiwa kita menyelami makna hidup, keindahan kasih dan pengampunan.

Left to Tell, Mengampuni yang Tak Terampuni
Left to Tell, Mengampuni yang Tak Terampuni

Continue reading “Mengampuni Yang Tak Terampuni”

Lembar Hitam Bulan April


Setelah beberapa kali memutar Hotel Rwanda, semalam akhirnya kejadian nonton bareng (nobar) satu lagi film tentang genosida yang terjadi di Rwanda 17 tahun lalu Sometimes in April. Dari 20 orang yang confirm mau datang lewat undangan terbuka di FB, akhirnya yang bisa berkumpul ada 12 orang termasuk si kecil Imagi. Perjuangan mengejar waktu menuju tkp (kudu cepat kabur dari kantor, menanti kopaja dan tj) yang diwarnai “adu argumen” dan “bersilat lidah” dengan tukang ojek plus diganjal nasi goreng maknyus; berakhir sukes tepat pk 8 film diputar. Sebungkus tissue yang siap dicabut saat genting serta tortilla untuk mengalihkan perhatian pun sudah tersedia di meja.

In the end, we will remember not the words of our enemies but the silence of our friends – Marthin Luther King Jr Continue reading “Lembar Hitam Bulan April”

Hotel Rwanda

hotel rwanda, Paul Rusesabagina, rwanda genocide

Gara-gara baca berita di SINI jadi teringat rencana menonton Hotel Rwanda (lagi). Benarkah Om Paul mendanai teroris? Paul Rusesabagina yang dianugerahi Presidential Medal of Freedom AS oleh George W. Bush pada 2005 karena jasanya melindungi ratusan orang Tutsi saat terjadi pembantaian dan pembasmian etnis Tutsi oleh orang Hutu di Rwanda pada  1994, peristiwa yang dikenal sebagai perang genosida?

Kisah Paul, Manager Hotel des Mille Colliness membuka hotelnya bagi warga Tutsi yang berbondong datang untuk mencari perlindungan saat perang genosida pecah di Rwanda, diangkat ke layar lebar pada 2004 oleh Terry George & Keir Pearson. Continue reading “Hotel Rwanda”

Gadis Budak – kisah kehidupan suka & duka Ogbanje Ojebeta


Apakah perempuan memang dilahirkan sebagai dan untuk menjadi budak?
Apakah dia tidak akan pernah bebas?

Meskipun wajahnya ditato bermotif daun bayam, Ogbanje Ojebeta sebenarnya masih terlihat cantik. Penampilannya semakin unik dengan masih lonceng dan kulit kerang yang berbunyi dan berayun ketika dia bergerak. Baginya, lonceng itu adalah jimat.

Setelah bapak-ibunya meninggal dan dia masih berumur tujuh tahun, Ojebeta dijual oleh abangnya dengan harga cuma delapan pound sterling. Namun kakaknya berdalih ini untuk kebaikan Ojebeta, karena ketika itu kampungnya sedang dilanda wabah mematikan, meski alasan sebenarnya adalah karena dia butuh biaya untuk pesta akil balig demi menjaga gengsinya. Continue reading “Gadis Budak – kisah kehidupan suka & duka Ogbanje Ojebeta”

Left To Tell


Aku telah membunuh 399 kecoak, Immaculée akan menjadi yg ke 400. Jumlah yg bagus ! bunuh kecoak² .. bunuh ular² Tutsi ! teriak gerombolan milisi ekstrimis Hutu yg dikenal dengan nama Interahamwe (=mereka yg bersama-sama menyerang) dalam membantai orang² Tutsi dan Hutu moderat pada tahun 1994.

Left To Tell adalah kisah hidup Immaculée Ilibagiza yg selamat dari kejaran Interahamwe dengan bersembunyi selama 91 hari di dalam kamar mandi kecil berhimpit bersama 7 wanita sebangsanya di rumah Pendeta Murinzi seorang Hutu. Suatu perjuangan bathin untuk melawan amarah terhadap para pembunuh yg tak lain adalah sahabat, tetangga, orang² yg selama ini berhubungan baik dengan keluarganya tiba² berbalik 180 derajat menjadi bejat dan brutal menghabisi nyawa keluarganya. Continue reading “Left To Tell”