Diponegoro dari Sudut Pandang Pekerja Seni

basuki abdullah, lukisan diponegoro

Hujan deras tak menghalangi langkah segelintir warga Jakarta yang kini mengantri di ruang depan bangunan utama Asrama Putri Carpentier Alting Stitching (CAS) siang itu. Bangunan yang dibangun pada 1817 oleh G.C van Rijk atas prakarsa Yayasan CAS, sebuah lembaga yang dibentuk oleh Pdt Albertus Samuel Carpentier Alting yang bernaung di bawah ordo van Vrijmetselaren.

basuki abdullah, lukisan diponegoro
Dua anak kecil sedang mengisi tugas di depan lukisan karya Basuki Abdullah di pameran Aku Diponegoro

Ketika pemerintah Indonesia pada masa Soekarno mengeluarkan larangan berkegiatan yang berbau Belanda, pengelolaan lembaga pendidikan ini diserahkan kepada Yayasan Raden Saleh. Karena ditengarai masih berada di bawah naungan Vrijmetselaren Lorge sebuah gerakan yang dinyatakan sebagai gerakan terlarang di Indonesia, maka pada 1962 Yayasan Raden Saleh dibubarkan. Gedung dan seisinya berikut pengelolaannya kemudian dialihkan kepada Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Continue reading “Diponegoro dari Sudut Pandang Pekerja Seni”

Freemasonry, Mata Rantai Zionis Yahudi?


Kemarin dulu saya diinterogasi online oleh seorang saudara sepupu dari Makassar seputar kegemaran saya yang aneh di matanya (dan tentunya mata yang lain-lain). Semua bermula dari sebuah buku berbau kuburan yang dijadikan picture profile lalu melahirkan status,”ya ampuuun, bacaaanya” diakhiri dengan ikon muka ditutup tangan. Iseng, jari bergerak melantunkan tanya,”bacaannya sopo tanta[e])?”

Kaget, heran dan penasaran adalah reaksi reflek yang terpancar dari wajah setiap lawan bicara ketika mendengar kegemaran bermain ke kuburan. Kuburan??? Ya ampun, gak takut?? Apanya yang menarik, tempat sepi dan seram gitu?! Continue reading “Freemasonry, Mata Rantai Zionis Yahudi?”