Perempuan Pengutip Kerang


Aku mematung di ujung Indra Patra, memandang mentari beranjak memunggungiku. Dia mengijinkanku menyaksikan senja mencumbui cakrawala, menghantarkan desah binarnya memancarkan rindu pada tembok-tembok bisu yang padanya kaki kujejakkan. Ini kali pertama dirinya membiarkanku menikmati kemesraan senja, setelah berkali harapku pupus dilerai derai hujan.

benteng indra patra, sejarah benteng di aceh
Bagian belakang Benteng Indra Patra

Pikirku, mungkin ini hari yang istimewa. Atau … sapa rindu penebus kesalahan setelah melewati hitungan tahun untuk kembali menjejak di sini. Entahlah, aku tak ingin berdebat. Aku hanya ingin menikmati senyum puas senja, usai memagut-magut setiap jengkal benteng yang telentang di hadapannya. Mencoba memindai setiap gerak-geriknya, tuk kuceritakan bila nanti kita berjumpa. Entah kapan. Menebaknya aku meragu. Hanya jejak yang kutitipkan di gerbang Indra Patra dengan sejuta asa kupasrahkan pada sang waktu. Continue reading “Perempuan Pengutip Kerang”

Rindu Jantho


Jantho tak pernah tahu dirinya telah lama divonis mati. Bahkan kembang-kempis paru-parunya tak teraba meski nadinya masih berdenyut mengalirkan darah ke bilik jantungnya.

jantho_08
Kembang Jantho

Jantho tak pernah tahu, sepinya akan dirindu karena pesona lekak-lekuk bebukitannya yang menggoda rasa tuk memeluknya. Continue reading “Rindu Jantho”

Menyusuri Jejak Jati Diri Aceh

jejak jati diri aceh, traveloka, tiket gratis traveloka

Sudah satu jam kuhabiskan di salah satu gerai makan di terminal keberangkatan Soekarno Hatta, Jakarta. Secangkir teh panas dan semangkok mie rebus untuk menghangatkan perut telah tandas dari tadi. Tanda waktu di pergelangan kananku telah menunjukkan pk 05.30, tiga puluh menit lagi waktu keberangkatan. Kubolak-balik tiket di tangan, berharap akan ada satu keajaiban; dirimu akan muncul menjelang suara cempreng dari pengeras suara itu berkumandang.

jejak jati diri aceh, traveloka, tiket gratis traveloka
Jejak Jati Diri Aceh

Kuyakinkan diri untuk mengajak kaki melangkah ke ruang tunggu. Kubalut rapat-rapat perih yang hadirkan ngilu di dada. Aku akan tetap berjalan, meski harus melangkah sendiri. Hasratku untuk pulang begitu kuat memanggil. Dia mulai sering meronta-ronta untuk ditetaskan agar rindunya mewujud kembali menjejak di tanah pertiwi, Nanggroe. Continue reading “Menyusuri Jejak Jati Diri Aceh”

Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

pulang, wisata aceh

Jejak hujan masih tersisa kala kaki kita menapak di Peunayong malam itu. Aku sudah tak tahan dengan rengekan usus dalam perut yang sedari siang merindu sayuran. Entah kenapa tak mudah menemukan sayuran di Aceh. Sayuran yang aku maksud adalah sayuran hijau yang dibening. Aaah dasar perut kampung! Doyannya makanan rumahan. Kata Kak Yasmin yang seharian mengantarkan kita berkeliling; orang Aceh nggak doyan sayur.

Rex, pusat kuliner Banda Aceh tampak sepi. Tenda-tenda makanan yang biasanya ramai berjejer malam itu tak terlihat. Malam belum pekat, masih pk 19.00. Apa karena hujan?

Kepala kulongokkan ke setiap tempat makan yang kita lewati namun tak terlihat sayuran tersaji di meja. Untuk menenangkan rengekan perut aku membangun harap paling tidak sepiring cap cay bisa kita dapatkan untuk santap malam. Tapi ternyata meski Peunayong dikenal sebagai kawasan pecinan Banda Aceh, Continue reading “Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong”

Terhipnotis Indahnya Pantai Barat Aceh

calang aceh

Rintik hujan masih nyaring terdengar saat pagi mulai menyapa Kutaraja (=Banda Aceh). Sempat ragu beranjak dari peraduan andai tak mengingat pagi ini hendak menyusuri kawasan pantai barat Aceh. Meski niat awal pulang ke Aceh kali ini adalah (kembali) menyusuri jejak sejarah yang tertinggal di sekitar Kutaraja hingga pantai timur Aceh; godaan keindahan alam wilayah barat ternyata tak dapat ditepis.

Usai mengganjal perut dengan sarapan yang tersedia di meja makan, kami bergegas meninggalkan penginapan. Karena Kak Linda yang sejak hari pertama setia menemani perjalanan mendadak meriang, hari ini kami berkeliling dengan Avanza veloz andalan pak Adi. Geurutee adalah target utama yang hendak dituju. Kepada pak Adi saya pun membeberkan detail agenda perjalanan sehari penuh yang telah dipersiapkan. Setelah berunding dan memperhitungkan waktu yang akan terpakai di perjalanan, kami sepakat untuk mengawali langkah dari Lampisang. Continue reading “Terhipnotis Indahnya Pantai Barat Aceh”