Maghrib di Baiturrahman

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab

Banda Aceh sore itu. Kita duduk melepas penat, menikmati seduhan kopi dari sebuah kedai kopi yang berdiri di salah satu pojok Blangpadang. Pilihanmu es cappucino, sementara aku, memesan kesenangan lidahku; sanger dingin.

Maghrib sebentar lagi datang. Kita harus bergegas ke Baiturrahman, agar tak terlambat menyambutnya.”

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab
Selamat datang di Serambi Mekkah 😉

Kuseruput sanger yang tersisa di dalam cangkirku sebelum kubereskan  tagihan pada si abang penjaga kedai yang sedari tadi kuperhatikan sebentar – sebentar melirik ke meja kita. Rupanya si abang penasaran, kamu makhluk dari bumi sebelah mana? Kenapa rupanya tanyanya senada dengan penjaga Museum Tsunami yang kita mampiri tadi? Serupa jawabanku di museum, kuberi jawab si abang itu dengan,”PERI[bumi], bang.” Jawaban yang membuat mereka puas – kurasa – karena tak kudengar lagi tanya yang mengikutinya.

Selangkah dua langkah terayun, aku teringat pesan seorang kawan ketika kuutarakan niat untuk kembali ke Baiturrahman,“Eh Nong, jangan coba – coba melangkah ke Baiturrahman bila tak mengenakan busana syar’i!” Continue reading “Maghrib di Baiturrahman”