Merindu di Victoria Fountain

merdeka square, dataran merdeka, kuala lumpur

… Merdeka Square pagi itu …

Seorang lelaki tuna wisma masih terbuai mimpinya ketika kaki melintas di depan bangku taman tempatnya lelap, di sisi lapangan berumput hijau. Tak terganggu cekikikan perempuan yang tampak saling memotret di seberang Gedung Abdul Samad. Kaki terus  kuayun hingga ke depan Kuala Lumpur City Gallery, dimana sekelompok pelancong sedang berkerumun, mengantri untuk bergambar di ikon I Love Kuala Lumpur.

merdeka square, dataran merdeka, kuala lumpur
Dataran Merdeka di minggu pagi

Senyumku mengembang, teringat senyummu saat bergambar di tempat itu beberapa waktu yang lalu. Apa kabar dirimu? Aku merindu kebersamaan itu, menikmati secangkir kopi hitam pengusir dingin selepas hujan menyirami bumi, sebelum kaki diayun menikmati kota ini. Adakah engkau juga memiliki rindu yang sama? Rindu berjalan bersama, bercanda dan berbagi tawa, menertawakan kebodohan dan ketololan diri, membangun mimpi dan terus saja meminta berkatNYA, berpura-pura tak paham hingga mencoba berkompromi dengan laranganNYA?  Aaah, rasaku semakin nelangsa. Continue reading “Merindu di Victoria Fountain”

Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa

i love KL. kl city gallery

Uncle, can you drive faster? seruku pada Uncle Simelekete agar melajukan kendaraan yang terengah-engah di jalan bebas hambatan. Gerutuan menggema dalam bahasa ketumbar jahe yang tak kupahami. Aku tak peduli. Namun kurasakan, kendaraan berlari lebih cepat dan lincah menari di padatnya lalu lintas pagi. Tak sampai sejam kami menggapai KLIA. Si uncle menepikan mobil di tempat menurunkan penumpang. Sapa terima kasihku disambut dengan senyum kecut, sembari membenarkan letak jenggotnya, nasihat yang sedari tadi ditahan meluap dari bibirnya. Sebelum banjir bandang, buru-buru kubendung dengan menutup pintu agar dirinya segera berlalu. Aku pun melesat mencari papan hitam besar di tengah ruangan yang sibuk itu.

KL city gallery, sejarah malaysia
Selamat datang di putaran masa

Sejak mengambil keputusan untuk berlama-lama menikmati kawasan warisan, aku sudah tahu tak akan bisa mengejar penerbangan pulang. Bahkan ketika memilih menikmati sekerat roti manis dan menyesap secangkir teh panas di sebuah gerai cepat saji di sudut Ampang, aku sangat sadar; harusnya saat itu sudah bersiap di ruang keberangkatan. Tapi, aku tak tergerak sama sekali untuk bergegas menjemput Meywah di 1915. Kuputuskan untuk melanjutkan bertualang di Dataran Merdeka. Alhasil, sepanjang perjalanan ke KLIA, kuping kusumpal dengan earphone agar tak terkontaminasi dengungan ketumbar jahe ala Uncle Simelekete. Continue reading “Demi Masa, Multi Orgasme Tingkat Dewa”