Tedong Bonga untuk Nenek


Aku memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin … Continue reading Tedong Bonga untuk Nenek