Namaku Cut Sebuah Resensi

namaku cut

Kembalilah ke Jakarta dan berusahalah mengingat Aceh tentang keelokannya, mencintai negeri ini, bukan di bagian pengalaman pahitnya – [Rayhan]

Namaku Cut, selesai dibaca dalam sekali duduk dari bangun tidur hingga jelang makan siang. Perjalanan cinta, persahabatan, pengorbanan, perjuangan, perseteruan, kemunafikan dan harapan di daerah konflik yang diramu dalam sebuah kisah mengharu biru sehingga beberapa kali mesti menyeka hidung yang mendadak berair dan kaca mata yang berembun terhempas percikan air yang meluap dari bendungan. Arti kemanusiaan yang tersampaikan lewat pesan spiritual dan moral tersaji dalam 302 lembarannya.

Kisah perjalanan seorang perempuan berdarah Aceh yang tetap kembali ke tanah leluhurnya meski di sana dia pernah mengalami pengalaman pahit dalam sejarah hidupnya. Cut Gabrina Bleit, disandera oleh pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat sedang dalam tugas menjalankan misi kemanusiaan di wilayah Takengon, Aceh Tengah. Ia kembali menjejakkan kakinya di bandara Sultan Iskandar Muda setahun setelah dirinya selamat pulang ke Jakarta. Continue reading “Namaku Cut Sebuah Resensi”