Bercermin pada Pengelolaan Wisata Sejarah Toraja


Hadiah natal terindah yang diberikan dua tahun lalu oleh pemerintah propinsi Sulawesi Selatan masih dalam tahap penyelesaian sejak diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Yasin Limpo pada puncak perayaan Lovely Desember 2012 tegak berdiri di atas Bukit Singki’, Rantepao, Toraja Utara. Pagi itu tampak beberapa pengunjung dan pekerja yang dikejar target untuk menyelesaikan pemasangan huruf-huruf dan lampu di bawah kaki salib raksasa agar terlihat dengan jelas dari kejauhan sebelum pergantian tahun. Di Tana Toraja; pemerintah daerah setempat pun sedang mempersiapkan pembangunan patung Yesus memberkati yang konon hendak menandingi patung Kristus Sang Penebus di Puncak Corcovado, Brazil. Seorang warga yang ditemui di sekitar Bukit Singki mengatakan akan ada pembangunan salib kedua yang sama dengan salib di Singki.

bukit singki', salib raksasa, destinasi wisata toraja
Menikmati Rantepao dari atas Bukit Singki’

Ada persaingan antara pemerintah Toraja Utara dan Tana Toraja untuk mendandani program wisata daerahnya dengan patung! Apa salah jika pemerintah daerah ingin memajukan wisatanya? Continue reading “Bercermin pada Pengelolaan Wisata Sejarah Toraja”

Perahu Kita Oleng ke Kiri


Baru beberapa saat yang lalu dengan semangat saya merilis Sejumput Asa untuk Toraja, mendadak ada notifikasi keramaian di milis Toraja seputar terbakarnya  tongkonan (=rumah adat Toraja) di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Ketika hati kita masih diliputi iri hati, dengki, dendam, kecewa dan segala hal yang mengotorinya; kita tidak akan pernah bisa dekat dengan Tuhan dan pertikaian (dengan sesama) itu akan senantiasa terjadi.…,”kata-kata Bante Priyadhiro di pelataran Vihara Ratanava Arama, Lasem, Jawa  Tengah awal Maret lalu sore ini kembali terngiang. Continue reading “Perahu Kita Oleng ke Kiri”

Pelayanan Lintas Budaya, Menjangkau dan Memenangkan Jiwa dengan B75BHS


Malam semakin larut saat tiga gadis berbaju Bodo pakaian adat Bugis-Makassar; mendendangkan syair Toraja yang membuat merinding:

Dolona massannang kusa’ding, torro sola tomatuanku
Totemo maparri’ kuampa, ma’rio-rio penangku
Mambela pa dikka’ lalanku, male lako padangna tau
Laku olai male lumingka undaka dikka’ katuoanku

Mereka berdendang diiringi alunan musik bambu dari grup Pompang Sang Torayan, Depok. Walau tampil hampir di penghujung Konser Musik Etnik (KME)2011, Pompang Sang Torayan yang tampil setelah PS Gema Lemuel, PS Alumni HKBP Menteng dan The Renaissance Ensemble Hongkong mendapat sambutan hangat dari penonton yang masih bertahan di auditorium BPPT-Jakarta Sabtu malam (5/11). Continue reading “Pelayanan Lintas Budaya, Menjangkau dan Memenangkan Jiwa dengan B75BHS”

Tedong Bonga untuk Nenek


Aku memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin mengatakan salam perpisahan.

“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.

Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya. Continue reading “Tedong Bonga untuk Nenek”