Ganefo: Rumah Mayor Cina Surabaya yang Nyaris Terlupakan

hotel ganefo surabaya, rumah mayor cina surabaya, jejak sejarah surabaya

Kami kembali ke jantung Surabaya setelah seharian membiarkan kulit terpapar panasnya kota ini. Panas yang mengingatkan pada kejadian setahun yang lalu; ketika makian dan hujatan, bahkan ancaman dipolisikan dari seseorang yang mengaku punya kuasa di sini. Siang itu masih pertengahan bulan puasa. Dirinya yang di keseharian berpakaian tertutup dari kepala hingga ujung kaki dan mengaku berpuasa, mulutnya tak henti melontarkan kata – kata yang tak pantas didengar. Dia pun meminta dengan paksa sejumlah uang yang angkanya besar, pengganti jasa beberapa nama yang batang hidungnya saja tak tampak di tempat berkegiatan. Jelas saya menolak. Tapi hari itu, saya memang harus melewati satu proses yang membuat saya sadar niat baik tak melulu akan diterima baik jika yang kita hadapi manusia yang gelap mata dan selalu mengedepankan ego, tak pernah bisa menghargai kebaikan!

hotel ganefo surabaya, rumah mayor cina surabaya, jejak sejarah surabaya

Usah takut ketika kita yakin berdiri pada sisi yang benar. Biarkan waktu yang akan membuktikannya. Jika teringat perkara satu itu, saya hanya senyum – senyum saja karena terbukti tiga bulan setelahnya yang bersangkutan berkabar, menumpahkan uneg – uneg dan penyesalannya. Kadang – kadang, orang melampiaskan amarah kepada orang lain ketika dirinya bermasalah dengan yang lain. Tak semua manusia pandai mengelola emosinya. Kitalah yang harus bijak menyikapinya.

Mbak, nggak salah mau nginap di sini? Continue reading “Ganefo: Rumah Mayor Cina Surabaya yang Nyaris Terlupakan”

PIKnik ke PIK

taman wisata mangrove, taman wisata alam angke

Suatu hari ketika perut mulai pening dan kepala sedikit melayang, mereka mencoba mengibas kerinduan pada sepinggan kwetiau goreng yang ditaburi daging merah; merencanakan pakansi bersama.

+ Destinasi wisata Jakarta mana yang ingin dikunjungi saat libur lebaran tanpa perlu berdesak-desakan dengan pengunjung lain?
– Ragunan, Dufan, Ancol, hmm … Kota Tua?
+ NO! Lupakan semua tempat itu, mari kita piknik ke PIK!
– PIK? Pantai Indah Kapuk, Pluit??
+ IYA
– Bukannya itu kawasan perumahan mewah?
+ IYA
– Mau lihat apa di sana ? Wisata rumah mewah?
+ IiiiYAaaaa, salah satunya πŸ˜‰

Bagaimana kalau ke tempat ini?

hutan wisata mangrove, pantai indah kapuk, taman wisata alam angke
Sepotong Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk dari udara πŸ˜‰

Continue reading “PIKnik ke PIK”

[Resensi] Semua untuk Hindia

semua untuk hindia

Satu waktu seorang kawan datang ‘ngedumel merasa diracuni usai membaca resensi sebuah buku di rumah ini. “Gara-gara loe ya Lip, gw bela-belain keliling ke toko buku mencari buku itu. Awas kalo ternyata jelek!”

Kita sering mengerutkan kuping ketika mendengar kata sejarah. Terlebih saat buku sejarah disebut, kening pun turut berkerut diiringi gerakan bibir membentuk senyum sinis. Entah sudah berapa ribu kali pertanyaan,”koq suka sih baca buku begitu?” acapkali sebuah buku yang bersinggungan dengan catatan sejarah terlihat dikepit di tangan.

semua untuk hindiaApa asiknya sih menyusuri deretan kata yang membentuk rangkaian kalimat datar tentang peristiwa masa lampau? Baru baca seperempat halaman mata sudah didera BOSAN. Continue reading “[Resensi] Semua untuk Hindia”

Menemui Raden Panji Margono di Gie Yong Bio

Gie Yong Bio, Raden Panji Margono

Tembok Batavia, 9 Oktober 1740 … Nie Lie Hay berdiri gontai, sisa air matanya mengering di pipi setelah meratap semalaman. Dia memandang pilu tubuh kaku yang bergelimpangan di sekelilingnya; menggamit lengan Nai Nai sang nenek, harta satu-satunya yang tersisa setelah semua yang mereka cintai dibantai oleh Kompeni di depan mata. Dengan tertatih mereka mencoba berlari membawa perih yang tak terkatakan ke tepi Kali Angke. Lily mengajak Nai Nai meninggalkan Batavia, menyusuri Kali Angke yang memerah oleh tumpahan darah dengan perahu kecil menuju laut lepas mencari tempat menyandarkan perahu dimana kedamaian hati dapat berlabuh.

Kisah di atas adalah penggalan drama musikal Sangkala 9/10 yang dipentaskan oleh Abang None Jakarta di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dua tahun yang lalu, Sabtu (07/05/2011). Batavia 1740, sebuah peristiwa pembantaian hak asasi kemanusiaan. Continue reading “Menemui Raden Panji Margono di Gie Yong Bio”

Sangkala 9/10

batavia 1740, sangkala 9/10

Sabtu malam (7/5) berkesempatan menikmati drama musikal yang dipentaskan oleh Ikatan Abang None Jakarta β€œSangkala 9/10” di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki. Ceritanya diangkat dari kisah pembantaian besar-besaran etnis Tionghoa yang terjadi di Batavia pada 9 Oktober 1740. Dikisahkan pada masa itu VOC hendak mengurangi populasi orang Tionghoa yang semakin banyak, menguasai perniagaan serta dituduh sebagai dalang pemberontak pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Adrian Valckenier. Untuk melancarkan misinya, Belanda mengajak kerjasama masyarakat Betawi dan membahas rencana tersebut di acara jamuan makan siang di Stadhuis yang dihadiri perwakilan Betawi Bang Madi pemimpin perguruan silat dari Bidaracina, Dewan Hindia Baron van Imhoff dan beberapa undangan lainnya. Continue reading “Sangkala 9/10”