Salam dari Rambai

sri rambai

Pk 15.59 … masih ada sisa waktu 1 menit sebelum seisi bis mendemo karena raga telat menghampiri kotak berpendingin itu. Namun, tanpa memperhitungkan berapa menit yang diperlukan untuk melangkah menuju gerbang Cornwallis hingga menggapai tempat parkir, kuikuti satu hentakan yang bawa langkah mendekat ke ujung barat benteng untuk menemuimu.

Dirimu berdiri beku dalam diam, dingin dan terkesan angkuh dengan pandangan tak lepas ke Selat Malaka. Itu yang kau lakukan saban hari; dari matahari terbit hingga malam menenggelamkannya. Entah harap apa yang kau titip di ujung sana, mungkin satu saat engkau kan berbagi. Tiga langkah dari tempatmu berdiri kuhentikan langkah sejenak, kupandangi lekuk tubuh dan kulitmu .. hijau kebiruan, mengkilap diterpa pendar matahari senja.

sri rambai
Sri Rambai, idola segala usia

Desah angin Selat Malaka mengalun lembut … sebentuk tanya menyapa di sudut hati, siapa gerangan dirimu yang berani menahan langkah di ujung benteng ini? Sepotong nama aku temukan terselip di antara deretan kata yang sudah usang tergerus panas dan hujan, terpampang di sebuah papan penanda tak jauh dari tempatmu berdiri, Sri Rambai. Continue reading “Salam dari Rambai”

Mengenang Keumala


Lamreh, 14 Juni 2013
Mentari mulai turun kala langkah kembali menjejak di kaki Bukit Malahayati

Hanya kami berdua menghitung langkah meniti seratus empat puluh anak tangga ke bukit itu berkawan siulan bayu dan desah dedaunan kering yang saling berpagut di bawah redup mentari senja. Di kejauhan lenguh sapi yang asik memamah rumput kering makan sorenya memecah sepi, tak peduli dengan alam yang menggelap.

Langkahku terhenti jelang puncak bukit. Satu tepukan lembut di pundak kanan yang menyalurkan energi panas mengunci tubuh sehingga tak kuasa untuk bergerak.

makam malahayati
Bukit Malahayati, tempat peristirahatan Laksamana Malahayati

Kuturunkan backpack yang menggantung di punggung, pikirku .. mungkin beratnya yang menghambat langkah. Hmmm … rasanya dua botol air mineral 660 ml bekal yang masih tersisa tak akan memberatkan. Lalu kenapa langkah tertahan di sini? dan tangan siapa gerangan yang mengalirkan udara hangat di sekujur pundak? Continue reading “Mengenang Keumala”