Di Persimpangan, Sebuah Resensi untuk Lelaki dari Samatoa


Hampir setahun yang lalu Lelaki dari Samatoa menghampiriku. Hadirnya yang lama dirindukan membuat hati berbunga tuk segera luruh bersamanya. Dia, Lelakimu, kawan setia berbagi langkah hingga ke peraduan. Meski terkadang rela tersingkir dari pembaringan ketika mimpi membuatnya terhuyung, jatuh mencium lantai. Padanya, dekapan di sisa malam tercurah.

Kenangan pada Lelakimu kembali menari kala mata terantuk pada sehelai baju panas merah yang tergantung di ruang seterika rumah masa kecilku di penghujung tahun lalu. Aaah, baju panas itu hadiah natal berpuluh tahun lalu; oleh-oleh dari adik lelaki ibu yang akhirnya pulang setelah bosan mengarungi lautan. Baju panas merah itu mengingatkanku pada Flanel Merah yang dibeli Basilia di Friendship Border Market, kisah yang mengawali perjumpaan dengan Lelakimu.

image

Continue reading “Di Persimpangan, Sebuah Resensi untuk Lelaki dari Samatoa”