Diponegoro dari Sudut Pandang Pekerja Seni

basuki abdullah, lukisan diponegoro

Hujan deras tak menghalangi langkah segelintir warga Jakarta yang kini mengantri di ruang depan bangunan utama Asrama Putri Carpentier Alting Stitching (CAS) siang itu. Bangunan yang dibangun pada 1817 oleh G.C van Rijk atas prakarsa Yayasan CAS, sebuah lembaga yang dibentuk oleh Pdt Albertus Samuel Carpentier Alting yang bernaung di bawah ordo van Vrijmetselaren.

basuki abdullah, lukisan diponegoro
Dua anak kecil sedang mengisi tugas di depan lukisan karya Basuki Abdullah di pameran Aku Diponegoro

Ketika pemerintah Indonesia pada masa Soekarno mengeluarkan larangan berkegiatan yang berbau Belanda, pengelolaan lembaga pendidikan ini diserahkan kepada Yayasan Raden Saleh. Karena ditengarai masih berada di bawah naungan Vrijmetselaren Lorge sebuah gerakan yang dinyatakan sebagai gerakan terlarang di Indonesia, maka pada 1962 Yayasan Raden Saleh dibubarkan. Gedung dan seisinya berikut pengelolaannya kemudian dialihkan kepada Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. Continue reading “Diponegoro dari Sudut Pandang Pekerja Seni”

Aku Diponegoro, Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa

aku diponegoro, lukisan raden saleh, diponegoro

Apa yang terbersit dalam benak Anda ketika mengenang satu sosok karismatik, Pangeran Diponegoro?

aku diponegoro, lukisan raden saleh, diponegoro
Dua sosok inspirator di Aku Diponegoro

Sukses menggelar pameran Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Indonesia Modern pada Juni 2012 lalu, Goethe-Institut Indonesien kembali menggandeng Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Jerman di Indonesia, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Erasmus Huis dan Djarum Foundation untuk menggelar pameran, Aku Diponegoro.

Continue reading “Aku Diponegoro, Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa”