Jejak Sang Pitarah

pong maramba, makam pong maramba, wisata sejarah toraja, kuburan toraja

Dua ponggawa kampung berkulit kecoklatan berdiri pongah di ujung jalan menyambut langkah saat muncul dari balik tikungan yang menanjak menuju tongkonan Buntu Pune di jelang siang itu. Suara mereka memecah senyap, berlomba mengirimkan pesan pada Semesta yang lelap akan hadirnya seorang asing di wilayah kekuasaan mereka.

buntu pune, wisata sejarah toraja, destinasi wisata toraja, pong maramba
Tongkonan Buntu Pune dilihat dari tangga menuju Benteng Kaluku

Mata kami beradu, langkah kami bertemu di tengah tanjakan. Moncong mereka mulai mengendus-endus ujung sneakers busuk yang membalut tapak kaki, beranjak naik menyusuri setiap jengkal tungkai kaki. Bukan gagah-gagahan kalau langkah terus diayun, menepis ragu dalam diri untuk undur.

Continue reading “Jejak Sang Pitarah”

Umba Nakua Kareba Nek Baso’?

Pongtiku

Kamis (25/07/13) sebuah perhelatan akbar berlangsung di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Dari hasil mengintip berita di portal online dan gambar yang diunggah di sosial media, ada tiga acara yang dirangkai menjadi satu: puncak peringatan 100 tahun Injil Masuk Toraja (100IMT), peringatan Hari Ulang Tahun Toraja Utara (Torut) yang ke-5 dan peringatan Hari Pongtiku yang ke-11. Timeline sosial media dipenuhi dengan beragam ungkapan dari syukur hingga keluhan karena jalanan macet bahkan orang aja tak bisa lewat saking padatnya!’

Saya tidak akan menyinggung tentang 100IMT karena pendapat saya mengenai kegiatan tersebut sudah pernah dibagikan. Pun untuk ultah Torut saya hanya bisa berharap bukan sekedar seremoni belaka dengan hadirnya para petinggi dari lembang hingga pusat. Dan karena tak bisa mudik dan melihat langsung keriaan di sana, maka saya lampiaskan dengan berbagi siapa Nek Baso’ yang saya sapa lewat judul tulisan ini,”Umba Nakua Kareba Nek Baso‘? (=apa kabar Nek Baso’?)” Continue reading “Umba Nakua Kareba Nek Baso’?”

Top Five

my passion

Seminggu ini suka senyum-senyum sendiri memandangi traffic pengunjung Olive’s Journey yang ‘nyasar karena mencari beragam informasi. Berdasarkan pemantauan iseng-iseng, saya bagi traffic-nya dalam dua kategori yaitu TOP FIVE dan TOP TEN ditengok.

Mari kita lihat hasil pemantauan pagi tadi; pada kategori TOP FIVE, 4 (empat) ulasan  tentang Toraja menempati posisi tiga teratas dan posisi kelima.

my passion
Top FIVE yang dilirik pembaca

Continue reading “Top Five”

Perahu Kita Oleng ke Kiri


Baru beberapa saat yang lalu dengan semangat saya merilis Sejumput Asa untuk Toraja, mendadak ada notifikasi keramaian di milis Toraja seputar terbakarnya  tongkonan (=rumah adat Toraja) di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Ketika hati kita masih diliputi iri hati, dengki, dendam, kecewa dan segala hal yang mengotorinya; kita tidak akan pernah bisa dekat dengan Tuhan dan pertikaian (dengan sesama) itu akan senantiasa terjadi.…,”kata-kata Bante Priyadhiro di pelataran Vihara Ratanava Arama, Lasem, Jawa  Tengah awal Maret lalu sore ini kembali terngiang. Continue reading “Perahu Kita Oleng ke Kiri”

Meresapi Makna Injil di 100 Tahun Injil Masuk Toraja


Banyak yang terpanggil namun sedikit yang terpilih – [Mat 22:14]

Pada 16 Maret 1913 sebanyak 20 (dua puluh) orang murid sekolah Lanschap di Makale, Toraja mengaku percaya dan menyerahkan diri untuk dibaptis oleh Hulpprediker F. Kelleng, pendeta bantu dari Bantaeng. Setahun kemudian di penghujung April 1914, sepasang pengantin baru menginjakkan kaki di Toraja memenuhi panggilan Tuhan menjadi misionaris utusan Gereformeerde Zendingsbond (GZB). Pasangan muda itu adalah Antonie Aris van de Loosdrecht dan Alida Petronella Sizoo yang kemudian mulai intens mengenalkan Injil dan kasih Kristus kepada masyarakat Toraja.

Seabad berselang, Sabtu, 16 Maret 2013; di seputar kolam Makale lokasi pembaptisan pertama, umat Kristiani Toraja dari berbagai denominasi menggelar perayaan menyambut 100 Tahun Injil Masuk Toraja (100IMT). Continue reading “Meresapi Makna Injil di 100 Tahun Injil Masuk Toraja”

Menyapa Pagi di Peristirahatan Antonie Aris van de Loosdrecht

van de loosdrecht

Mentari perlahan tersenyum dari balik bukit, sekilas jarum jam di pergelangan tangan kanan menunjukkan pk 07.30. Di ujung jalan, seorang lelaki mondar-mandir bak setrikaan mengamati dari kejauhan mungkin penasaran dengan sekelebat bayangan memasuki gerbang makam yang terbuka setengah di belakang sebuah gudang. Tempat perhentian yang sekian lama dirindukan itu mematung di depan mata. Untuk kedua kalinya ujung mata yang mulai digenangi setitik air perlahan menyusuri tulisan yang terpatri di atasnya. Ada desiran halus yang tiba-tiba menjalar di sekujur pembuluh darah membuat kaki undur tiga langkah merapatkan diri ke bibir pagar. Continue reading “Menyapa Pagi di Peristirahatan Antonie Aris van de Loosdrecht”