5 Tempat Sarapan dan Brunch Menyenangkan di Toraja

kopi toraja, arabica toraja, robusta toraja, sejarah kopi toraja

Menyesap secangkir kopi sembari duduk berbincang – dan berkhayal – di alang (=lumbung) adalah ritual pagi orang Toraja. Kadang sebagai teman ‘ngopi dihadirkan sepiring singkong atau pisang rebus/goreng atau deppa te’tekan. Tak ketinggalan satu dua batang rokok habis disulut hingga kopi tandas. Deppa te’tekan – sering pula disebut deppa tori’ – adalah kue tradisional Enrekang, kabupaten tetangga dekat Toraja. Saya tak tahu pasti kapan tori’ mulai bertandang ke Toraja. Namun sebagai tetangga sebelah rumah, tori’ sudah lama bergaul dengan keseharian orang Toraja, hadir di upacara adat, dan pertemuan – pertemuan yang digelar di Toraja.

kopi toraja, arabica toraja, robusta toraja, sejarah kopi toraja

Tentang kopi, para arkeolog, pecinta sejarah dan budaya memperkirakan kopi datang ke Toraja sejak awal abad 17 bersamaan dengan kedatangan saudagar – saudagar Arab berdagang ke Sulawesi. Dalam bukunya Tana Toraja: A Social History of An Indonesian People, Bigalke menulis saudagar Arab lebih dahulu mengenalkan qahwah (= kopi) di Bugis yang kemudian mengakrabinya dengan sebutan kawa. Karena perbendaharaan abjad Toraja tak mengenal q dan w, tergelincirlah qahwah menjadi kaa. Jadi bila bertamu ke rumah – rumah orang Toraja dan ditawari hendak minum apa? Sebut saja kaa, bila kamu ingin menyesap kopinya. Continue reading “5 Tempat Sarapan dan Brunch Menyenangkan di Toraja”

Rini, Gadis Melayu dan Kembang

goresan juang kemerdekaan, pameran koleksi benda seni istana, lukisan istana kepresidenan, pameran lukisan istana kepresidenan

Kartu pers!”

Lelaki berseragam yang duduk di depan pintu menahan langkah yang siap diayun melewati pintu kaca di samping kanannya. Ah, lelaki kurus dengan bedil dibiarkan menggantung di pundak itu buang muka saat kutunjukkan selembar undangan elektronik lewat gawai.

 “Pokoknya nggak bisa mbak, harus ada ID pers atau telpon aja yang kasih undangan suruh jemput di pintu,” katanya memberi penjelasan dengan penekanan pada kata ID dan PERS, mukanya menoleh ke temannya yang berbatik. Ketika ditawarkan kartu nama, lelaki itu tak mau tahu. Harus mengenakan kartu yang dikeluarkan tempat mengabdi dengan tulisan pers yang mencolok, dan dikalungkan di leher. Kekeukeuhan si bapak membuatku berpikir untuk membuat gantungan pengenal bertuliskan pers kuburan 🙂

Dua jurnalis berkaos polo dengan logo sebuah kantor berita terpampang di dada yang datang menenteng tripod disapanya dengan ramah,”Lhoo … tadi bukannya sudah ke sini sama bapak (maksudnya pak presiden)“?”
Iya pak, balik liputan ke istana bentar belum sempat mengambil gambar di sini.Continue reading “Rini, Gadis Melayu dan Kembang”

Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang

suku Iban Malaysia, fantasy rainforest, putrajaya international convention centre, magical theatre malaysia, teater malaysia, discover selangor, burung kenyalang, burung enggang badak

Pada satu masa ketika damai masih ramah dan ketenangan terjalin indah di rimba tadah hujan Malaysia. Ketika semua makhluk menikmati hidup dan bergirang mengisi hari-harinya tanpa ada cemas yang diam-diam membuntuti. Ketika tumbuh-tumbuhan tak pernah ragu menari dan hewan-hewan selalu riang ke sana kemari, hidup rukun bersama suku asli di hutan itu, orang Iban.

fantasy rainforest, putrajaya international convention center, discover selangor, teater di malaysia

Tak ada hari berlalu tanpa suka cita berdendang dan menari bersama. Hingga di satu masa, hidup mereka diliputi gelisah. Ketenangan itu terusik oleh hadirnya seorang pemburu yang berkeliaran menyampirkan dan menodongkan moncong senapannya untuk menakut-nakuti semua makhluk di hutan.

Continue reading “Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang”

The Story of Kuala Lumpur

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Aku baru saja duduk dan menanggalkan lelahku setelah seharian berjalan mengitari Ampang ketika tetangga sebelah yang juga baru kukenal dari sapanya, mampir dan mengajakku ke rumah Teja. Katanya, “Teja dan Mamat nak kenduri malam ni, mari kita tengok bisa bantu apa.” Sudah menjadi adat di timur, bila melihat tetangga sibuk maka sebagai tetangga yang berpengertian dan wujud toleransi, kita pun turut sibuk memberi bantuan. Lagi pula sebagai pendatang di kampung Ampang, aku melihat ini kesempatan baik untuk memperkenalkan diri serta mengenal lebih dekat mereka yang telah lebih dulu berdiam di sini.

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Teja baru saja melahirkan puterinya yang pertama. Dia yang tak bisa diam, menyambutku dengan senyum ramah sembari menggendong bayinya. Kulihat semua orang sibuk di pekarangan belakang rumah yang berubah menjadi dapur. Muka-muka girang terpancar lewat canda tawa di sela tangan yang terus bekerja. Tugasku ringan saja. Pekerjaan yang sudah biasa kulakukan semasa masih tinggal di kampung dahulu. Menggerus bumbu hingga halus menggunakan ulekan dari kayu.
Continue reading “The Story of Kuala Lumpur”

Sedikit Cerita: Mengejar AriReda ke MIWF2016

AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, MIWF2016, Makassar International Writers Festival, Fort Rotterdam

+ Ketinggalan lagi deh nggak bisa ke Malang kemarin. Cukup terhibur menikmati gambar-gambarnya, melesaaaat!
– Makassar?
+ Racuuuuun 🙂 🙂
– Sengajaaaaa! Hahahaha! Kapan lagi ke Makassar Writers Festival?
+ Lalu mengecek harga tiket terbang
– Yes, pleaseeeee!

Penat yang bertumpuk dari beberapa rangkaian perjalanan dalam satu bulan ini membuat badan enggan untuk pergi jauh-jauh selain menunggu satu perjalanan saja di penghujung Mei. Namun, perbincangan Selasa pagi, dengan berbalas komentar pada sebuah gambar di  fanpage facebook AriReda dengan mbak Reda Gaudiamo, di sela jadwal #‎StillCrazyAfterAllTheseYearsTour mereka; telah membuyarkan angan untuk bersantai dan bermalasan saja.

AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, MIWF2016, Makassar International Writers Festival, Fort Rotterdam
Horeee hujaaaan

Tak perlu menimbang terlalu lama, sekejap saja, e-ticket terbang pergi pulang Jakarta – Makassar dengan harga murah karena tergoda promosi tiket murah di linimasa twitter, mendarat di kotak surat. Di siang hari, selagi menikmati makan kesiangan dengan dua sahabat, sebuah pesan melalui whatsapp masuk,”Mbak, bagi nomor rekening donk.” Ah, seperti kebetulan saja pesan tersebut diterima, dananya buat bayar tiket kan lumayan. Tak sampai sore, sebuah pesan lain masuk,”Mbak, saya dengar mau ke Makassar, nginap di tempat kita ya. Kamar untuk dua malam di depan Rotterdam sudah siap, nanti akan dihubungi sama yang di Makassar.” Waaaah, dengan senang hati, saya membalasnya. Tak lupa, ikon senyum lebar penuh cinta dibubuhkan di akhir pesan. Continue reading “Sedikit Cerita: Mengejar AriReda ke MIWF2016”

Berkontribusi Pengetahuan di Wikipedia

Bibliothek Goethe-Institut, perpustakaan Goethe, menyunting wikipedia, panduan wikipedia

Buku selalu menggoda hati untuk diselami, mencari tahu rasa yang dituangkan lewat setiap kata yang terangkai pada lembarannya. Buku tak bisa lepas dari perpustakaan, tempat bertabur godaan untuk mencumbu aneka rasa yang tersaji yang melambai-lambai penuh kerinduan dari rak tempatnya bertengger. Kerinduan itu pulalah yang membuat diri buru-buru mengiyakan ajakan untuk bermain ke Bibliothek Goethe-Institut, Jakarta, meski belum tahu apakah di harinya akan bisa bertandang ke sana. Belum tentu pula memahami sebagian besar buku-buku berbahasa Jerman yang dipajang di sana karena cuma paham dengan kalimat ich liebe dich.

Bibliothek Goethe-Institut, perpustakaan Goethe, menyunting wikipedia, panduan wikipedia
Bibliothek Goethe-Institut, Jakarta

Eh tapi sebenarnya tujuan ke Goethe bukan untuk membaca buku, tapi … mau ikut workshop penyuntingan artikel Wikipedia yang diadakan oleh Wikimedia Indonesia dan Goethe Institut. Continue reading “Berkontribusi Pengetahuan di Wikipedia”

Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja

penenun toraja, Toraja Melo, toraja weaver, tenun toraja

Kokok ayam jantan menemani mentari pagi yang perlahan turun menerangi bumi Lakipadada saat lelaki itu mengeluarkan seekor ayam berbulu hitam mengkilap dari dalam kurungannya dan membawanya ke atas rumah. Ayam itu diserahkan kepada seorang lelaki sepuh yang duduk bersila di lantai. Tubuhnya dibalut baju Toraja yang menonjolkan motif pa’miring, motif tenun Toraja dengan corak garis-garis yang didominasi warna oranye. Mulutnya berkomat-kamit melafalkan sebuah mantera.

Adalah kebiasaan lelaki dalam masyarakat Toraja ketika membuka mata di pagi hari, kawan pertama yang disapa dan dielus-elus adalah ayam peliharaan. Namun pagi ini tak nampak seperti pagi yang lain. Sebilah pisau dihantarkan oleh tangan yang mengeriput pada leher ayam yang pasrah dalam genggamannya.

Nyesssss … darah segar menetes dari urat nadi yang terputus, mengalir memenuhi cekungan piring untuk menampung darah yang dicurahkan. Tak cukup darah seekor ayam, suara cericit anak ayam berbulu halus berikut tetesan darahnya pun menjadi pelengkap ritual pagi itu. Continue reading “Toraja Melo: Perjalanan Mengulur Masa, Melestarikan Wastra Toraja”

AriReda Menyanyikan Puisi

AriReda Manyanyikan Puisi, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Sapardi Djoko Damono, Musikalisasi Puisi

Arum Dayu dan Meicy Sitorus, Tetangga Pak Gesang, malam itu mampir di Cikini. Meski bertetangga, mereka tidak tinggal di Solo sebagaimana halnya almarhum Pak Gesang. Mereka datang dari Bandung, berboncengan Naik Motor Tua mengusung Yellow Ming-Ming ke pentas.

Tetangga Pak Gesang senang bercerita keseharian mereka tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan meski lewat kata-kata yang sederhana. Obrolan-obrolan kecil mengajak penonton lebur meski sesekali terkikik melihat mereka mengusir kikuk lalu kembali dibuai oleh petikan ukulele saat tampil membuka Konser AriReda Menyanyikan Puisi di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), 26 Januari 2016 lalu.

Konser AriReda, Reda Gaudiamo, Ari Malibu, Musikalisasi Puisi
AriReda Menyanyikan Puisi

Continue reading “AriReda Menyanyikan Puisi”

Infinito Singers dan Segalariak Senandung Ulayat

Irzam Rajasa Dastriansyah, infinito singers

Bagi generasi yang menikmati masa kanak-kanak dan remaja di era 1980 hingga 1990an, yang tontonannya Aneka Ria Anak-anak Nusantara pada jaman slogan … TVRI menjalin persatuan dan kesaaaaatuuuuaaaan … sangat akrab didengar dan didendangkan; tentulah tak asing dengan lagu Cublak Cublak Suweng, Ular Naga Panjangnya, Kakak Mia, Ampar-ampar Pisang, Injit-injit Semut; lagu tradisional yang dinyanyikan kala bermain.

infinito singers, injjit-injit semut, dolanan anak nusantara
Infinito Singers saat membawakan lagu dolanan anak nusantara, Injit-injit Semut

Ada berapa banyak anak-anak Indonesia sekarang yang dolanan sembari menyanyikan atau minimal mendengarkan lagu-lagu tersebut? Berapa sering kita masih merindukan generasi sekarang mengakrabi nada-nada riang pada syair lagu sepanjang masa itu? Continue reading “Infinito Singers dan Segalariak Senandung Ulayat”

Pesan dari Kedai Kopi

AriReda, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Musikalisasi Puisi

Dapatkah engkau mengerti (dengan mudah) makna yang tersirat pada kata demi kata yang berbaris rapi dalam sebentuk kalimat yang terangkai dalam bait-bait puisi? Dapatkah engkau memahami pesan yang disampaikan seorang pujangga pada goresan puisinya, saat dia menuangkan rasanya? Gelisahkah ia, tersenyumkah ia, bersukakah dirinya?

Pernahkah engkau mencoba memahami makna, lewat alunan musik dan suara yang lembut membuai rasa, lalu berderap dan melengking di ujung-ujung kata? Pernahkah terbayang, bagaimana merangkai nada pada potongan kata dalam sebentuk puisi, memilih tinggi rendah nada untuk kata pertama, kedua dan seterusnya; meramunya menjadi paduan harmonisasi agar pesan sang pujangga tersampaikan dengan runut tak kehilangan makna?

AriReda, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Musikalisasi Puisi
AriReda @CoffeeWar

Continue reading “Pesan dari Kedai Kopi”