Murah Meriah di Central Market, Kuala Lumpur

Central Market KL, Kasturi Walk Central Market, Tempat Belanja Oleh-oleh di KL, Belanja di Central Market

Pada 1888, semasa Yap Ah Loy menjadi Kapiten Cina di Kuala Lumpur; dirinya berinisiatif mendirikan sebuah pasar yang menyediakan dan menjual kebutuhan sehari-hari untuk warga lokal serta penambang timah yang berdatangan di kota yang baru dibuka masa itu. Waktu terus berjalan, Kuala Lumpur pun kian bertumbuh. Pemerintah Inggris yang masa itu mengatur tata kota, mulai membangun berbagai fasilitas yang memberikan kenyamanan bagi warga dan pendatang di Kuala Lumpur dalam berkegiatan. Salah satunya, sarana transportasi publik; kereta api. Pasar di jantung kota itu terancam dibongkar untuk dijadikan stasiun, namun ia masih terselamatkan.

Central Market KL, Kasturi Walk Central Market, Tempat Belanja Oleh-oleh di KL, Belanja di Central Market

Ketika bangunan-bangunan menjulang mulai bermunculan pada 1980 di kota yang berdiri di pertemuan Gombak dan Klang, kembali bangunan pasar yang dirancang oleh RH Steed itu diombang-ambing isu pembongkaran. Warga yang mencintai keberadaannya pun gelisah. Kegelisahan yang menggerakkan The Malaysian Heritage Society melancarkan petisi untuk mempertahankan gedung pasar mengingat jejak sejarah dan keunikan arsitektur bangunannya. Tak sekadar mengajukan tuntutan, mereka pun bersedia untuk membuatkan program yang menarik pengunjung dan menghidupkan keriaan kota.

Continue reading “Murah Meriah di Central Market, Kuala Lumpur”

Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang

suku Iban Malaysia, fantasy rainforest, putrajaya international convention centre, magical theatre malaysia, teater malaysia, discover selangor, burung kenyalang, burung enggang badak

Pada satu masa ketika damai masih ramah dan ketenangan terjalin indah di rimba tadah hujan Malaysia. Ketika semua makhluk menikmati hidup dan bergirang mengisi hari-harinya tanpa ada cemas yang diam-diam membuntuti. Ketika tumbuh-tumbuhan tak pernah ragu menari dan hewan-hewan selalu riang ke sana kemari, hidup rukun bersama suku asli di hutan itu, orang Iban.

fantasy rainforest, putrajaya international convention center, discover selangor, teater di malaysia

Tak ada hari berlalu tanpa suka cita berdendang dan menari bersama. Hingga di satu masa, hidup mereka diliputi gelisah. Ketenangan itu terusik oleh hadirnya seorang pemburu yang berkeliaran menyampirkan dan menodongkan moncong senapannya untuk menakut-nakuti semua makhluk di hutan.

Continue reading “Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang”

De Art Seksyen 19

Hotel De Art Shah Alam, Hotel De Art Seksyen 19, Hotel di Shah Alam, Hotel di Malaysia

Saya mengenal Shah Alam ketika hendak berangkat mengikuti Eat Travel Write (ETW) 3.0 Selangor April lalu. Namanya tercantum di dalam agenda kegiatan sebagai salah satu destinasi yang akan dihampiri. Di hari pertama ETW, kami beranjak dari pelataran Malaysia Tourism Centre (MATIC), Kuala Lumpur ke Bangunan Sultan Salahuddin Abdul Azis Shah di Shah Alam sebagai tempat peluncuran program ETW 3.0. Lalu, di penghujung acara, pada hari keempat, kami kembali lagi ke kota itu untuk makan malam.

Hotel De Art Shah Alam, Hotel De Art Seksyen 19, Hotel di Shah Alam, Hotel di Malaysia
Selamat Datang di De Art Seksyen 19 (dok. Hotel De Art)

Jujur, saya buta dengan kota ini. Cuma tahu sebatas dirinya adalah ibukota Selangor berdasarkan maklumat Sultan Selangor pada 7 Desember 1978. Itu pun hasil bertanya ke Eyang Gugel menjelang keberangkatan. Tak berpikir untuk mencari informasi tempat-tempat seru di sini karena sedari awal yakin banget tak akan tinggal di Shah Alam. Jadi, meski di hari pertama ETW, Shamsoul sudah mengenalkan saya dengan Alia Nazlia, Public Relation Manager De Art, hotel yang nantinya akan saya inapi, namun otak saya sepertinya belum on. Lucunya, selama berkegiatan, saya pun nggak kepikiran untuk bertanya lebih detail kepada Alia tentang tempat kerjanya selain makan, jalan dan tidur eh maksudnya hmm … makan, jalan dan menulis (di dalam mimpi zzz … zz ..) #uppsss. Yaa, saya baru ‘ngeh De Art, tempat untuk beristirahat semalam selepas ETW itu adanya di Shah Alam pada saat turun dari Fraser’s Hill.
Continue reading “De Art Seksyen 19”

The Story of Kuala Lumpur

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Aku baru saja duduk dan menanggalkan lelahku setelah seharian berjalan mengitari Ampang ketika tetangga sebelah yang juga baru kukenal dari sapanya, mampir dan mengajakku ke rumah Teja. Katanya, “Teja dan Mamat nak kenduri malam ni, mari kita tengok bisa bantu apa.” Sudah menjadi adat di timur, bila melihat tetangga sibuk maka sebagai tetangga yang berpengertian dan wujud toleransi, kita pun turut sibuk memberi bantuan. Lagi pula sebagai pendatang di kampung Ampang, aku melihat ini kesempatan baik untuk memperkenalkan diri serta mengenal lebih dekat mereka yang telah lebih dulu berdiam di sini.

our story of kuala lumpur, mudkl, sejarah kuala lumpur, mud, panggung bandaraya, eat travel doodle, dekatje, ikon kuala lumpur

Teja baru saja melahirkan puterinya yang pertama. Dia yang tak bisa diam, menyambutku dengan senyum ramah sembari menggendong bayinya. Kulihat semua orang sibuk di pekarangan belakang rumah yang berubah menjadi dapur. Muka-muka girang terpancar lewat canda tawa di sela tangan yang terus bekerja. Tugasku ringan saja. Pekerjaan yang sudah biasa kulakukan semasa masih tinggal di kampung dahulu. Menggerus bumbu hingga halus menggunakan ulekan dari kayu.
Continue reading “The Story of Kuala Lumpur”

Menikmati Kuala Lumpur dari Ketinggian

kl tower, sky box, sky deck, menara kl, icon wisata kuala lumpur, menara petronas, tiket menara kl, tiket sky box, atmosphere 360

Kalau Jakarta punya Monas, Kuala Lumpur punya Menara Kembar Petronas dan Menara Kuala Lumpur (Menara KL). Nah, Mei lalu bolehlah ya berbangga bisa manjat Menara KL dan menikmati Menara Kembar Petronas dari ketinggian.

Hari itu saya mesti check out dari hotel di kawasan Pudu Raya selepas sarapan karena sore harinya harus pindah hotel ke kawasan Chow Kit. Jarak dari hotel ke Menara KL sebenarnya tak begitu jauh. Tapi kalau berjalan kaki dengan gembolan depan belakang sembari geret-geret koper kan nggak lucu juga. Jadilah pagi itu saingan dengan para pekerja yang berhamburan keluar dari stasiun kereta dan yang berlarian di trotoar; berdiri di pinggir jalan menanti Uber.

menara kl, kl tower, petronas twin tower, menara petronas, eat travel doodle

Dengan tinggi 421m, Menara KL tercatat sebagai menara telekomunikasi tertinggi ke-7 di dunia yang selesai dibangun pada 1996. Mulai dibuka untuk umum pada 23 Juli 1996, dan diresmikan pada 1 Oktober 1996 oleh Y.A. Bhg Tun Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia pada masa itu.

Apa saja yang bisa dinikmati di Menara KL? Continue reading “Menikmati Kuala Lumpur dari Ketinggian”

Glamping Semalam di The Sticks

the sticks eco-resort, the sticks guide, visit hulu selangor 2017, discover selangor, eat travel write, gaya travel

Rubin Gan menghentikan pick up putihnya di tengah-tengah sungai. Ia keluar dari kendaraan, menengadah ke atas jembatan gantung yang bergoyang ke kiri dan ke kanan terbebani oleh gerak badan kami yang meniti di atasnya. Dia baru tersadar, dia lupa mengingatkan, jembatan itu harus dilintasi bergantian. Maksimal 3 (tiga) orang dewasa dengan berat badan yang wajar. Tapi, sedikit langkah lagi kami sampai di mulut jembatan. Tak mungkin untuk kembali ke ujung yang satu dan mengulang melangkah secara bergantian bukan? Rubin kembali memasuki kendaraannya, mungkin sembari berdoa di dalam hati semoga jembatan baru yang membentang di atas aliran Sungai Chiling itu baik-baik saja.

the sticks eco-resort, the sticks guide, visit hulu selangor 2017, discover selangor, eat travel write, gaya travel

Ini hari kedua kami menyusuri Hulu Selangor, dan setiap pagi harus siap beranjak dengan membawa semua barang ke tempat yang baru. Selama perjalanan dari Chiling Sanctuari menuju The Sticks saya memilih untuk tidur. Baru saja lelap, bus yang kami tumpangi sudah berhenti. Mata saya masih menahan kantuk. Setengah melayang, menitipkan Meywah di pick up Rubin, lalu mengayun langkah  mengekor langkah-langkah yang lain menuruni anak tangga bersemen hingga sampai di jembatan gantung ini. Sedang pick up itu diajak Rubin berjalan menerabas air sungai. Kami melanjutkan langkah, sedikit berjalan menanjak untuk sampai di sebuah sebuah ruang yang ternyata adalah ruang makan. Continue reading “Glamping Semalam di The Sticks”

Jejak Kuliner KKB, Selangor

Swee Len Food Industries, Swee Len Oh, Visit Selangor

April lalu di tengah keriaan Eat Travel Write (ETW) Selangor, kala berjalan-jalan di kawasan kota tua Kuala Kubu Bharu (KKB), Selangor; lidah mendadak sangat ingin sekali menyesap rasa manis. Mata pun sedikit kriyep-kriyep padahal hari itu kaki masih harus melangkah. Eh, namanya jodoh, ketemu sebuah kedai kopi sederhana di sebuah rumah toko yang berderet di tengah kota itu. Kedai ini telah ada semenjak 1930, dindingnya dipenuhi potret dan gambar tempo dulu serta lebih banyak lagi pigura berisi piagam tanda terima kasih dari pemerintah kepada Tan Saw Sewan. Encik Tan, meneruskan Sun Sun Nam Cheong, usaha kedai kopi yang dirintis oleh ayahnya dengan menu spesial keluarga Tan, Hailam Mee dan Kopi-O.

Sun Sun Nam Cheong, kuliner kuala kubu bharu, eat travel write, heritage city selangor, visit hulu selangor 2017
Kesibukan di dapur Sun Sun Nam Cheong

Jelang pk 10 saat Mas Eka, Danan, Anazkia dan saya memilih duduk-duduk sebentar di kedai itu menanti pesanan Teh Tarik Dingin untuk melegakan kerongkongan saat yang lain sibuk mengambil gambar kota tua KKB. Perut masih penuh, dengan santun kami menampik tawaran sajian lain untuk teman minum teh. Tapi diam-diam, dalam hati saya berjanji, bila esok atau lusa berkesempatan kembali ke KKB, tak akan melewatkan sepiring Hailam Mee dan Toast Bread dari Sun Sun Nam Cheong sebelum beranjak ke Fraser’s Hill.

Continue reading “Jejak Kuliner KKB, Selangor”

Godaan Udang Galah Asam Pedas

udang galah asam pedas, kuliner kuala kubu bharu, udang enak, eat travel write

Hari sangat terik ketika kami berhenti di Dataran Kuala Kubu Bharu (KKB), Selangor. Teriakan dari perut ramai sekali. Aku merindukan minuman yang segar dan dingin itu! Aku pun ingin sesuatu yang padat mengisi lambungku! Ah, aku lapar! Lidahku mulai gelisah.

udang galah asam pedas, kuliner kuala kubu bharu, udang enak, eat travel write

Kuteguk setengah botol air mineral yang tersisa dan memilih sebuah bangku di meja yang disusun memanjang agar banyak yang bisa duduk berhadapan-hadapan di depannya. Aku sedikit curiga ketika Anazkia memilih bangku di depanku. Selama perjalanan ini, dia selalu saja mengincar piringku. Bukan karena ingin meminta sebagian yang ada di situ, dia selalu saja penasaran pada apa yang dituang ke dalamnya. Puji Tuhan, hari ini semua yang duduk di meja itu mendapatkan makanan dalam porsi yang sama. Jadi, dia tak bisa mengambil gambar tak senonoh  🙂 .

Continue reading “Godaan Udang Galah Asam Pedas”

Selamat Pagi Opa Gurney

cheras cemetery, cheras war cemetery, henry gurney, commonwealth war grave cemetery, tukang kuburan

Mentari masih betah meringkuk di peraduannya saat aku bergegas turun ke pelataran parkir memanggul JLo dan Meywah yang terasa semakin berat saja meski bebannya tak bertambah. Semalam, Juliana, kawan yang kutumpangi di Cheras sudah mewanti-wanti. Kalau kita keluar di atas pk 07.00 pasti terjebak macet. Jadilah kami bangun pagi-pagi sekali meski semalam baru kembali ke rumah setelah berpusing-pusing di seputar Cheras, Kajang hingga Kuala Lumpur sampai jelang pagi. Benar saja, begitu melaju di jalan raya Cheras – Kuala Lumpur, kendaraan kami pun ikut merayap. Untung saja pagi itu kami hanya akan berputar di Jl Kuari, dan mencari jalan masuk ke Cheras Cemetery jadi tak khawatir berlebih terjebak di kemacetan.

cheras cemetery, cheras war cemetery, henry gurney, commonwealth war grave cemetery

Tak ada yang bisa menghentikanku untuk terus memikirkannya semenjak pertama kali mendengar namanya disebut. Gurney, nama yang identik dengan tepi pantai, tempat yang sering sekali dijadikan sebagai titik pertemuan di George Town, pula sebuah pusat perbelanjaan yang ada di depannya. Siapa yang tak kenal dengan Persiaran Gurney? Plaza Gurney? Nama yang menghadirkan tanya, siapa dan kenapa namanya melekat pada beberapa nama tempat di Malaysia?
Continue reading “Selamat Pagi Opa Gurney”

Soliter dari Sungai Dusun Wildlife River

Tapirus indicus, tapir asia, penangkaran tapir, Sungai Dusun Wildlife River, eat travel write, visit hulu selangor 2017

Punya binatang kesenangan? Tentu saja punya. Saya jatuh hati pada Tapir semasa TVRI adalah satu-satunya saluran tontonan yang menayangkan Flora dan Fauna. Dia yang kulitnya mengkilat bila tertimpa cahaya, dan moncongnya yang bergerak-gerik lucu bila sedang berjalan terlebih saat mengendus makanan, dinanti setiap saat. Dulu saya mengira moncong itu serupa belalai yang putus karena panjangnya nanggung bila dibandingkan dengan belalai gajah. Bila memerhatikan bentuk badannya, selintas ia serupa dengan babi. Saya pun berpikir, dia pasti sepupunya babi. Ternyata, dirinya adalah kerabat dekat badak dan kuda. Bingung kan? Akhirnya saya pun menebak-nebak, mungkin, mungkin lhooo … sewaktu hamil, ibunya sangat ingin sekali punya anak serupa dengan babi idolanya  ;).

Tapirus indicus, tapir asia, penangkaran tapir, Sungai Dusun Wildlife River, eat travel write, visit hulu selangor 2017
Ranger (dok. Aku Graphy)

Setelah puluhan tahun berlalu, angan masa kecil untuk bersua dan bersapa dengan Tapir akhirnya mewujud. Kami bersua di hari Kartini. Hari saat saya berkesempatan mengunjungi Sungai Dusun Wildlife River Conservation di Kuala Kubu Baru, Hulu Selangor, Malaysia bersama teman-teman blogger, media cetak/online serta agen perjalanan dari Brunei, Filipina dan Malaysia saat mengikuti kegiatan Eat Travel Write (ETW) 3.0 di Selangor pertengahan April lalu.

Continue reading “Soliter dari Sungai Dusun Wildlife River”