Menjumpai Murugan

dewa murugan, batu caves, jumlah tangga batu caves, thaipusam batu caves, rentak selangor, dewa di batu caves

Tawa sumbangmu selalu membahana bila melihat kepalaku mengangguk – angguk, meyakinkan dirimu, belum pernah sekali pun kakiku meniti ratusan anak tangga ke puncak Batu Caves. Jangankan meniti anak tangganya, menjejak di pelatarannya saja aku tak pernah. Tapi ketika ada kawan yang hendak pelesiran ke Malaysia dan bertanya bagaimana menggapai Batu Caves; aku selalu yakin menyarankannya naik Kereta Tanah Melayu a.k.a KTM tujuan Batu Caves dari KL Sentral dan turun di stasiun perhentian terakhir. Aku tahu jalur keretanya karena beberapa kali Meywah bersenggolan dengan pejalan yang membopong ransel tinggi – tinggi di dalam gerbong kereta hendak pergi atau baru saja turun dari Batu Caves.

Dewa Murugan, batu caves, bagaimana ke batu caves, rentak selangor
Patung Dewa Murugan

Aku percaya, kesempatan terbaik itu akan selalu menghampiri di saat yang tepat. Dan waktu itu datang kala banyak orang merayap di jantung Jakarta dengan #Aksi212, aku memilih menyepi dan berdiri di depan Murugan yang menjulang di depan Batu Caves. Tempat yang beberapa kali disebut oleh Syers, Kapten Harry Charles Syers, kepala polisi federasi Malaysia yang membangun rumah pasung di Bukit Jugra karena bukit kapur itu berada di wilayah pengawasannya.

Continue reading “Menjumpai Murugan”

Born to Roam


Apa yang akan kamu lakukan bila check in di hotel pk 02 dini hari dengan mata sayu, berjalan pun setengah melayang? Aku mengidam – idamkan kucuran air hangat untuk membasuh muka dan pembaringan empuk dalam ruang sejuk untuk mendapatkan jam istirahat yang cukup sebelum kembali berjalan. Namun sapa hangat lelaki yang menyodorkan kunci kamar di Avenue J Hotel dini hari itu membuatku diam – diam menghentikan langkah sedikit lama di depan lift demi menikmati kerlap – kerlip lampu pohon natal yang berdiri di tengah ruang tamunya. Ia dikelilingi bangku persegi dengan bantal – bantal empuk yang merindu pelukan sembari menyesap secangkir kopi panas dari kedai kopi di depannya, bersulang  menyambut pagi.

Avenue J Hotel, Hotel dekat Dataran Merdeka, Hotel dekat Central Market, Hotel murah di Kuala Lumpur

Kulirik kotak kecil penanda tanggal pada jam di pergelangan tangan kanan. Angka 1 tertera di sana. Ah, selamat pagi Desember.

Continue reading “Born to Roam”

Rentak Selangor: Mengakrabi Selangor lewat Budaya dan Jejak Sejarahnya

Rentak Selangor, Discover Selangor, Homestay Banghuris

Selangor bertumbuh dan berkembang pesat semasa Sultan Abdul Samad menjadi Sultan Selangor. Selama 41 tahun kepemimpinannya (1857 – 1898), ada banyak kebijakan – kebijakan politik, hukum, ekonomi, diterapkan. Pada masanya pula perang sipil Selangor pecah, Kuala Lumpur berdiri dan Frank Swettenham diterima menjadi Residen Jenderal Federasi Melayu yang punya andil dalam menata kota – kota di Malaysia yang jejaknya bisa dinikmati hingga hari ini. Potongan – potongan perjalanan masa dari berdiri hingga keberadaan Negeri Selangor saat ini, saya jumpai di dalam ruang – ruang Museum Sultan Alam Shah, Shah Alam, Selangor, Malaysia pada Kamis pagi (01/12/2016) lalu.

Rentak Selangor, Discover Selangor, Homestay Banghuris
Pembukaan Rentak Selangor, Nafas Nadi Bumi Kami di Homestay Banghuris oleh YB Amirudin Shari, Exco Pembangunan Generasi Muda, Olah raga, Kebudayaan dan Pembangunan Usahawan Selangor disertai Nuar Md. Diah, Managing Director Gaya Travel

Selangor tercatat sebagai negeri terkaya dari 13 negera bagian yang ada di Malaysia. Ia sedari dulu terkenal dengan timah yang dihasilkan dari tempat – tempat penambangan di Lukut, Klang, Ampang, hingga Muar di Johor. Hasil kebunnya berupa teh hitam yang tersohor dari kebun – kebun tehnya yang tersebar hingga ke Pahang, juga kelapa sawit serta getah karetnya yang lebih unggul dari Indonesia dan Thailand. Kuala Lumpur yang dahulu ibu kota Selangor sebelum ditetapkan sebagai ibukota negara dan menjadi kota terbesar di Malaysia pun berada di wilayah Selangor.

Continue reading “Rentak Selangor: Mengakrabi Selangor lewat Budaya dan Jejak Sejarahnya”

Mengenang Ah Loy di Lantern Hotel, Kuala Lumpur

lantern hotel, lantern hotel kuala lumpur, hotel near china town kuala lumpur, hotel at petaling street

Aku kembali ke Kuala Lumpur untuk beristirahat setelah 4 (empat) hari berkeliling di sekitar Kuala Langat, Selangor. Dari kantor Malaysia Tourism Center (MaTIC) Ampang, Aven memberikan tumpangan kereta (di Malaysia mobil disebut kereta) ke Petaling Street. Masih punya waktu 24 jam lebih sebelum beranjak ke KLIA yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai – santai saja menikmati Kuala Lumpur sebelum kembali ke kehidupan nyata. Lhooo, kemarin itu berjalan dalam bayang – bayang ya?  😉

“Cakeeeep, pintu hotelnya depan penjual air mata buaya. Ntar malam mau beli, aaah.”
“Mbaaaak, air mata kucing!”
“Air mata buaya, itu lho minuman segar – segar yang ada agernya.”
“Air mata kucing mbaaaak! Tuh baca tulisannya!”
“Oohh … eeeh … salah nyebut ya.” *ngikik sendiri, ‘kan masih melayang*

air mata kucing, petaling street, food stall at petaling street
Si Air Mata Kucing   😉

Obrolan tak penting yang membuka percakapan di padatnya Petaling Street yang selalu riuh dari pagi hingga jelang pagi lagi. Bayangkanlah ada orang bertubuh mungil menggeret – geret koper yang disampirin gembolan, mencari celah di antara pengunjung yang tumpah dan seliweran di kawasan pecinan Kuala Lumpur itu. Kasihan juga sih, tapi pundak saya pun kebebanan My Meywah yang rasanya bertambah berat dari hari ke hari. Agar nggak dituduh tak setia kawan, sesekali saya menoleh ke belakang ketika langkahnya tertinggal dan badannya “terjepit” di antara tubuh – tubuh menjulang yang berjalan berlawanan arah dengan kami.

Continue reading “Mengenang Ah Loy di Lantern Hotel, Kuala Lumpur”

Bermalam di Kampung Perancis, Colmar Tropicale

Colmar Tropicale. Colmar Tropicale French Theme Resort, Berjaya Hills, Bukit Tinggi, Hotel di Pahang

Mendadak sekali kami harus bermalam di Perancis. Saya baru mendengar kabar itu sesaat menjelang siang berakhir lewat bisik – bisik antar tetangga yang beredar usai makan siang. Sebagai pejalan yang tak terlalu mempermasalahkan tempat untuk berbaring ketika badan sudah sangat lelah asalkan bersih, saya mah hayuk aja. Lebih cepat dapat kepastian dan sampai di tujuan, lebih cepat beristirahat bukan?

Kepastian kabar berdengung itu akhirnya saya dapatkan dari salah seorang yang dapat dipercaya omongannya. “Malam ini kita akan menikmati perkampungan Perancis abad 16 di Colmar Tropicale, Lip. Kamu pasti sukalah

Colmar Tropicale, Colmar Tropicale French Theme Resort, Berjaya Hills, Hotel di Pahang
doc. Colmar Tropicale

Di itinerary memang tertulis kami akan berkunjung ke Colmar Tropicale. Hanya berkunjung layaknya para pelancong yang datang bergembira dan bergambar di beberapa spot foto. Lalu pulang, tak bermalam! Jadi, saya tak terlalu tertarik untuk mencari tahu seperti apa kamar yang tersedia di sana. Karenanya setelah dapat kunci dan mulai mencari kamar yang akan diinapi, masih santai – santai aja. Tapi … begitu pintu kamar dibuka, ada yang nyeletuk,”Ini kamar apa apartemen ya? kamarnya kayak kamar Cinderela!”

Continue reading “Bermalam di Kampung Perancis, Colmar Tropicale”

Senandika dari Bukit Jugra

Sultan Abdul Samad, Sultan Selangor keempat, Kesultanan Selangor, History of Selangor

Pernah pada satu masa aku berangan menggapai puncak menara Sultan Abdul Samad, bangunan besar nan megah yang merentang di Dataran Merdeka. Berharap sekali dapat melongok mesin pengatur waktu yang masih bersemangat berputar mengikuti pergeseran waktu, sesekali memperdengarkan dentangnya agar setiap yang mendengar tersadar meski ia bersendiri selama ratusan tahun; ia masih ada. Pun hasrat menalu tuk menikmati pergeseran detik demi detik kala kaki menjejak selangkah demi selangkah pada anak-anak tangganya. Namun, harus kusabarkan hati menanti saat untuk menapakkan kaki di dalam setiap ruangnya, menjaga agar angan tak pupus seiring berlalunya waktu. Siapa tahu aku berjodoh menjumpainya, satu hari nanti. Esok, lusa, bulan depan, tahun depan, entah kapan tetap kujaga mimpi itu.

bukit jugra, Sultan Abdul Samad, Sultan Selangor keempat, Kesultanan Selangor, History of Selangor
Pemandangan dari puncak Bukit Jugra

Hingga satu pagi ketika hasratku kututurkan padamu, wejanganmu mengalun dari sela-sela bibir yang berkomat-kamit bergantian menyeruput kopi panas yang terhidang di atas meja. Katamu, kesabaran diuji lewat perkara – perkara yang kau jumpai dalam setiap perjalanan, yang kan mengasah pikirmu dan sikapmu menjadi dewasa atau bahkan menjadi kerdil dalam pandangan. Semua itu tergantung bagaimana dirimu menyerap berita yang terhembus, menelaah bacaan yang ditawarkan pada mata dan menyaring kata lewat pendengaran. Belajarlah bersyukur atas setiap perkara yang kau jumpai dan rintangan yang harus dilalui kakimu.

Continue reading “Senandika dari Bukit Jugra”

Ummph! BOH ..!! Sepotong Cerita dari Secangkir Teh

BOH Tea Plantation, teh tarik, teh hitam, sejarah BOH Tea

Setelah sejam perjalanan yang disi dengan tidur-tidur ayam dari Kuala Lumpur, bus yang kami tumpangi mulai mengelindingkan roda-rodanya dari jalan beraspal yang lebar ke jalan perkebunan yang menyempit. Hamparan kebun teh di kanan jalan dengan rumah-rumah perkebunan berdinding putih dengan daun pintu dan jendelanya yang hijau pupus berdiri jarang-jarang di sisi kiri menyapa siang itu. Di depan sebuah bangunan, bus melambatkan lajunya sebelum berhenti.

Tan Chong Wee, BOH Tea Plantation, BOH tea, teh hitam, black tea plantation
Tan Chong Wee, sang manajer

Kami turun satu-satu disambut Tan Chong Wee yang bersegera mengajak kami melangkah ke salah satu bangunan di sana. Di depan pintu, sebelum jauh melangkah ke dalam ruangnya, ia membagi-bagikan penutup kepala berwarna putih pada yang tak mengenakan tudung kepala yang wajib dikenakan selama berada di dalam ruang itu. Saya meraih satu, dan memasangnya dengan menutupi rambut seperti saat hendak mandi. Setelah semua kepala tertutup, kami pun diajaknya melangkah ke ruang pabrik pengepakan BOH Tea Plantations Sdn Bhd yang dikepalainya.

Continue reading “Ummph! BOH ..!! Sepotong Cerita dari Secangkir Teh”

HoHo … Ketinggalan di Istana Negara

Hop on hop off Kuala Lumpur, Hoho Kuala Lumpur, bus wisata di Malaysia, double decker tour bus Kuala Lumpur, Istana Negara Kuala Lumpur

Tengah hari yang menyengat ketika bus Hop on Hop off aka HoHo yang kami tumpangi berhenti di pelataran parkir Istana Negara Kuala Lumpur. Ia berdiri di samping toilet umum, tepat di sebelah pintu bilik tandas untuk lelaki. Penumpang diberi masa selama 10 menit untuk turun melihat-lihat sebelum bus beranjak ke destinasi berikutnya. Yang sudah menahan pipis sedari tadi, bergegas ke toilet. Sedang yang enggan berpanas-panas, hanya memindahkan pantat dari ruang dek terbuka di lantai atas ke dalam ruang yang tertutup. Sisanya, turun dari bus hanya untuk meluruskan kaki.

Hop on hop off Kuala Lumpur, Hoho Kuala Lumpur, bus wisata di Malaysia, double decker tour bus Kuala Lumpur, Istana Negara Kuala Lumpur
Gambarnya Emak Gaoel Winda Krisnadefa

Saya, satu dari beberapa ekor penumpang yang memanfaatkan 10 menit turun dari bus, berlari meniti tangga ke pelataran istana, dan melangkah panjang-panjang mendekati gerbang yang kiri kanannya dijaga oleh dua pasang penjaga. Mereka masing-masing menempati pos di samping pintu gerbang. Dua orang berseragam merah, duduk di atas kuda. Sedang dua lagi berseragam putih berdiri saja di dalam posnya. Istana, sebagaimana di negara lain adalah tempat tinggal resmi pemimpin negara. Continue reading “HoHo … Ketinggalan di Istana Negara”

Murah Meriah di Central Market, Kuala Lumpur

Central Market KL, Kasturi Walk Central Market, Tempat Belanja Oleh-oleh di KL, Belanja di Central Market

Pada 1888, semasa Yap Ah Loy menjadi Kapiten Cina di Kuala Lumpur; dirinya berinisiatif mendirikan sebuah pasar yang menyediakan dan menjual kebutuhan sehari-hari untuk warga lokal serta penambang timah yang berdatangan di kota yang baru dibuka masa itu. Waktu terus berjalan, Kuala Lumpur pun kian bertumbuh. Pemerintah Inggris yang masa itu mengatur tata kota, mulai membangun berbagai fasilitas yang memberikan kenyamanan bagi warga dan pendatang di Kuala Lumpur dalam berkegiatan. Salah satunya, sarana transportasi publik; kereta api. Pasar di jantung kota itu terancam dibongkar untuk dijadikan stasiun, namun ia masih terselamatkan.

Central Market KL, Kasturi Walk Central Market, Tempat Belanja Oleh-oleh di KL, Belanja di Central Market

Ketika bangunan-bangunan menjulang mulai bermunculan pada 1980 di kota yang berdiri di pertemuan Gombak dan Klang, kembali bangunan pasar yang dirancang oleh RH Steed itu diombang-ambing isu pembongkaran. Warga yang mencintai keberadaannya pun gelisah. Kegelisahan yang menggerakkan The Malaysian Heritage Society melancarkan petisi untuk mempertahankan gedung pasar mengingat jejak sejarah dan keunikan arsitektur bangunannya. Tak sekadar mengajukan tuntutan, mereka pun bersedia untuk membuatkan program yang menarik pengunjung dan menghidupkan keriaan kota.

Continue reading “Murah Meriah di Central Market, Kuala Lumpur”

Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang

suku Iban Malaysia, fantasy rainforest, putrajaya international convention centre, magical theatre malaysia, teater malaysia, discover selangor, burung kenyalang, burung enggang badak

Pada satu masa ketika damai masih ramah dan ketenangan terjalin indah di rimba tadah hujan Malaysia. Ketika semua makhluk menikmati hidup dan bergirang mengisi hari-harinya tanpa ada cemas yang diam-diam membuntuti. Ketika tumbuh-tumbuhan tak pernah ragu menari dan hewan-hewan selalu riang ke sana kemari, hidup rukun bersama suku asli di hutan itu, orang Iban.

fantasy rainforest, putrajaya international convention center, discover selangor, teater di malaysia

Tak ada hari berlalu tanpa suka cita berdendang dan menari bersama. Hingga di satu masa, hidup mereka diliputi gelisah. Ketenangan itu terusik oleh hadirnya seorang pemburu yang berkeliaran menyampirkan dan menodongkan moncong senapannya untuk menakut-nakuti semua makhluk di hutan.

Continue reading “Fantasy Rainforest: Kenyalang Nan Sayang”