Menggalang Penggalan Jejak Tak Pupus

galang refugee camp, kamp pengungsi vietnam pulau galang, pulau galang, destinasi wisata batam, mannusia perahu vietnam

I was in Galang from 05/31/90 – 10/11/93 KI 0531/84. We will never forget Galang Refuge Camp – [Hieu Nguyen, USA]

Tulisan tangan yang berderet rapi pada buku tamu yang ujungnya menebal karena terlalu sering dibolak-balik di Museum Galang pagi itu mengaburkan pandangan. Alih-alih membuka lembar baru yang bersih untuk menuliskan pesan di sana, setelah menyeka ujung mata yang mendadak memanas dan berair; saya melanjutkan membaca pesan-pesan lain yang tertulis di atasnya.

Galang refugee camp, kamp pengungsi vietnam galang, kamp pengungsi, pulau galang, destinasi wisata batam
Jejak yang tersisa di Museum Pulau Galang

Galang, pulau di selatan Batam, Kepulauan Riau; pada 1976 atas desakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dibuka sebagai kampung penampungan “manusia perahu”, sebutan yang melekat pada warga Vietnam (dan Kamboja) yang terdampar di sekitar kepulauan Riau, Indonesia serta pulau-pulau di sekitar Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Continue reading “Menggalang Penggalan Jejak Tak Pupus”

Menggonggong hingga Berlendir di Batam

gonggong, kuliner batam

Psssttt … makannya jangan terlalu kenyang, masih ada babak selanjutnya yang lebih seru.” Towel lelaki ganteng yang duduk di samping saya pada sebuah jamuan makan malam. Hmmm … menurutmu ada babak yang lebih seru selain merebahkan diri di atas pembaringan usai santap malam karena kekenyangan? Bukannya berhenti memamah biak, lelaki di sebelah ini malah kembali menghampiri meja panjang tempat aneka hidangan penggugah selera disajikan.

Melihatnya mondar-mandir mengambil penganan, membuat tangan kembali memegang sendok dan garpu mengembangkan seni bersantap memenuhi rongga perut dan menyisakan sedikit ruang yang renggang untuk hidangan penutup. Selang 10 menit, setelah memberi kesempatan kepada saluran cerna untuk beristirahat sejenak, kami pun beranjak dari meja makan mencari keseruan menyenangkan hati. Continue reading “Menggonggong hingga Berlendir di Batam”

Terkenang Pixy dan Max

kuburan anjing, kuburan di bintan resort

+ Bapak ingin ditemani keliling pulau besok pagi, Nduk
Lhaaa ‘nggak bisa mbak, kami mau main sendiri saja.
+ Tapi ini permintaan khusus dari Bapak, Nduk. Kalian harus ikut
Ya embaaaaak, itu bukan permintaan tapi titah. Lagi pula, kami sudah tak ada baju ganti buat besok
+ Yo wis, besok dicarikan baju ganti tapi temani Bapak ya, Nduk
– Uwaaaat?

Bapak lagi, bapak lagi … kenapa selalu bawa-bawa nama bapak sih? Memangnya bapak nggak bisa pergi sendiri dengan teman-temannya?

tanjung berakit, bintan resort, wisata bintan
Numpang pipis di Tanjung Berakit 😉

Aku jadi ingat almarhum kakek. Kakek dan nenek tinggal di lain kota, 3 jam perjalanan dengan kendaraan umum jika tak ada jalan yang longsor. Kalau musim penghujan dan bukit-bukit yang akar pohonnya dibabat ngambek, tanah bercampur lumpur akan tumpah di jalan poros yang menghubungkan kota tempat tinggal kami ke kota kakek. Continue reading “Terkenang Pixy dan Max”

Jalur Samudera Cheng Ho

cheng ho, armada cheng ho

Cheng Ho (Zeng He) sangat dihormati di Tiongkok pula di Indonesia, diharapkan lewat program wisata Jalur Samudera Cheng Ho (JSC) dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) khususnya Tiongkok ke Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya di ruang makan Golden Cheng Ho II seusai peluncuran program wisata JSC di Kawasan Wisata Golden City, Bengkong, Batam, Sabtu (21/02/2015) lalu.

cheng ho, armada cheng ho
Golden Cheng Ho II merapat di dermaga Golden City, Bengkong

Lebih lanjut Arief Yahya mengatakan jumlah wisman Tiongkok sekitar 100 juta, tapi yang datang ke Indonesia baru sekitar 1 juta. Jika dibandingkan dengan Thailand yang mencapai 5 juta, Indonesia masih kalah. Disamping itu, wisata kemaritiman di Indonesia belum maksimal karena baru menyasar 60% wisata, 30% wisata laut dan sisanya 10% alam bawah laut. Continue reading “Jalur Samudera Cheng Ho”