5 Tempat WAJIB Mampir di Makassar

coto makassar bandara hasanuddin, makan coto makassar enak dimana, enaknya coto makassar, kuliner asik di makassar

Seorang kawan pernah mengeluhkan perjalanannya ke Toraja tak seperti cerita orang – orang yang kembali dari sana dengan banyak kisah menyenangkan. Kisahnya lebih banyak drama! Dalam perjalanan menuju Toraja, rombongannya diajak mampir dulu ke beberapa tempat di sekitar Makassar yang dilewati dalam perjalanan ke tempat tujuan utama. “Tak nyaman dan programnya dipaksa – paksakan agar semua tempat itu didatangi,” keluhnya. Dengan santai saya jawab, ”Kamu ikutan famtrip, kan? Dinas gak mau rugilah, bro! sudah mengeluarkan dana banyak untuk menerbangkan kamu ke Sulawesi, pasti dibuatkan paket komplit gempor ha .. ha...”

coto makassar bandara hasanuddin, makan coto makassar enak dimana, enaknya coto makassar, kuliner asik di makassar

Tapiiiii .. kamu paham kan maksudku, Lip? Sebagai sesama “tukang protes” di beberapa perjalanan, saya sangat paham. Sayangnya tidak semua pengelola perjalanan – apalagi yang dikemas dengan embel – embel promosi – bisa memahami keinginan sederhana pejalan untuk menikmati satu destinasi wisata tanpa tergesa – gesa berpindah ke destinasi berikutnya. Karena, target mereka sebisa mungkin semua tempat yang ingin dipromosikan disambangi walau dengan waktu terbatas TANPA peduli jarak dan kenyamanan peserta berikut kendaraan yang ditumpangi menuju tujuan. Paling aman, berjalanlah sendiri!

Jadi, kalau ingin mampir – mampir di sekitar Makassar di perjalanan menuju Toraja, baiknya ke mana, Lip? Continue reading “5 Tempat WAJIB Mampir di Makassar”

Melunakkan Rasa di Gravity Sky Lounge

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Selepas hari – hari kelabu yang mewarnai perjalanan di Makassar tahun lalu, harap yang diam – diam kutabung satu – satu di hati hanyalah tak akan menginjakkan kaki ke sana hingga kenangan akan hari – hari yang menyesakkan itu tertepis dari ingatan. Bisakah? Selama rasa masih melekati hidup, terlalu sulit untuk menghalau semua kenangan itu. Bahkan bila harus pura – pura lupa.

Dan .. di sinilah aku kini. Di kota yang ingin kuhindari namun tak bisa kutampik untuk hadir karena memang harus berada di sini! Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 membawaku kembali ke Makassar! Kali kedua hadir di kegiatan literasi terbesar di Indonesia Timur, di tempat para pegiat literasi berkumpul dan berbagi energi positif.

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar, tempat nongkron di makassar

Continue reading “Melunakkan Rasa di Gravity Sky Lounge”

Cerita Secangkir Kopi Susu dari Pantai Makassar

kopi itam, kopi toraja

Tak banyak yang mampir ke Warkop Elim selama saya duduk menyeruput secangkir kopi susu yang disajikan Nenek Lanny, pemilik kedai pagi itu. Kedai sederhana yang dibuka di lantai bawah rumah tua peninggalan orang tua Nenek Lanny yang terjepit di antara bangunan hotel, rumah toko, dan kedai kopi kekinian di Jl Penghibur, Makassar. Di rumah yang merangkap tempat usaha itu, perempuan bertubuh kecil dengan badan yang mulai bungkuk itu tinggal sendirian.

warkop elim, kedai kopi tradisional, coffeeshop di makassar

Menurut Nenek Lanny, duluuu .. sewaktu dirinya masih remaja, di kedai yang mulai menyempit itu, ayahnya yang pandai memasak; membuka rumah makan. Pengunjungnya ramai. Usaha sang ayah terus berkembang sehingga mereka pun harus mempekerjakan beberapa orang karyawan untuk membantu pekerjaan sehari – hari. Continue reading “Cerita Secangkir Kopi Susu dari Pantai Makassar”

Siri’ na Pacce’

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

Mentari menurunkan sengatnya saat langkahku menggapai pelataran Benteng Tamalate, tempat yang banyak menyimpan kenangan akan perjalanan masa meski terkadang banyak yang abai pada jejaknya. Aku membayangkan benteng yang dulu berdiri kokoh di bukit ini pastinya memiliki pemandangan yang luas, dengan pagar yang tinggi dan tebal melingkupi puncak bukit membuatnya terlindungi. Kumainkan segala imaji, membayangkan masa itu sambil terus melangkah masuk ke pekarangannya dan mendapati dirinya duduk bersendiri, memandangi merah putih yang menari – nari mengikuti buaian angin senja. 

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

Angin memberikan kesejukan pada udara senja, membuatnya tak terlalu panas, tak juga dingin; hingga ia betah menengadah ke langit tanpa sedikit pun bergeser dari duduknya.

Aga kareba, Karaeng? Baji’ – baji’ki?”

Continue reading “Siri’ na Pacce’”

Menyusuri Jejak – jejak Kerajaan Gowa

masjid tua di makassar, masjid kesultanan gowa, masjid katangka, masjid al-hilal, makam raja gowa, makam hasanuddin

Gigitan terakhir deppa kakau a.k.a sawalla (= kue gemblong, bhs Jawa) meluncur ke kerongkongan tepat saat langkah menggapai gerbang kecil di samping Masjid Al-Hilal. Akhirnya kembali ke sini setelah 6 (enam) tahun berlalu dari langkah pertama dijejakkan di parkiran masjid ini. Waktu itu, bang Aras, kawan yang menemani berjalan, meminta ijin untuk sholat Jumat sebentar di masjid terdekat yang kami lalui selama berkeliling di Gowa dan Al-Hilal-lah yang kami tuju saat panggilan sholat menggema.

masjid katangka, masjid kesultanan gowa, masjid tertua di sulawesi, masjid tertua di gowa
Masjid Al-Hilal, Katangka

Saya mampir ke Masjid Al-Hilal selepas iseng bermain ke tempat peristirahatan Sultan Hasanuddin. Dari belakang masjid, tempat peristirahatan itu terlihat di ketinggian Bukit Tamalate. Ada gerbang di belakang peristirahatan, tapi menurut Mustaqim, abang yang berjaga di tempat itu, gerbangnya dikunci. Jadilah saya jalan – jalan petang menyurusi jalan raya untuk turun ke masjid – yang lagi – lagi kata Mustaqim lumayan jauh – dan setiap melewati pagar rumah penduduk atau berpapasan dengan mereka yang melaju dengan kendaraan bermotor; dilihatin dengan pandangan penuh tanya. Jaraknya nggak jauh koq. Keenakan duduk manis di atas kendaraanlah membuat orang malas untuk mengayun langkah.

Continue reading “Menyusuri Jejak – jejak Kerajaan Gowa”

Mencintai Sedalam dan Sekuat Cinta Maipa Deapati dan Datu Museng

Datu Museng, Maipa Deapati, Makam Datu Museng, Romeo Juliet Makasa

Bangunan mungil berwarna hijau pupus yang berdiri di mulut gang, tak jauh dari persimpangan jalan besar di seberang pantai Losari itu sepi – sepi saja saat saya mendekati pekarangannya. Tak ada penunjuk arah ke tempat itu, saya hanya berjalan mengikuti langkah kaki sembari menerka – nerka letaknya ketika menyeberang dari Stella Maris. Ternyata tak sukar untuk menemukannya. Lagi pula mereka, penghuni rumah inilah yang telah mengajak saya ke sini. Membiarkan bersendiri di depan pagar besi berwarna hijau tua setinggi kuping yang ujungnya runcing seperti tombak ditancapkan ke tanah. Pada pintu pagar ada gapura yang melengkung ke atas. Mungkin dahulu ada penanda selamat datang tertulis di sana. Sekarang semuanya polos, hijau tua.

Datu Museng, Maipa Deapati, Makam Datu Museng, Romeo Juliet Makasa
Di depan makam Datu Museng & Maipa Deapati (abaikan muka belum mandi 😉 )

Rumah di depan saya beratap seng. Plafonnya rendah, ada enam lubang udara berbentuk kotak di bawahnya menyerupai kotak sabun colek yang pernah berjaya di masa dulu. Dua jendela persegi empat dengan lubang – lubang berbentuk kembang yang berfungsi sebagai lubang udara, melengkapi bangunan kecil itu sehingga ia tampak layaknya sebuah rumah pada umumnya, memiliki pintu dan jendela dengan sedikit teras yang dilapisi ubin kekuningan. Tepat di tengah, di bawah kaki jendela, ada pusara kecil, tertutup ubin yang senada dengan ubin pada lantai teras. Continue reading “Mencintai Sedalam dan Sekuat Cinta Maipa Deapati dan Datu Museng”