Perempuan Pengutip Kerang


Aku mematung di ujung Indra Patra, memandang mentari beranjak memunggungiku. Dia mengijinkanku menyaksikan senja mencumbui cakrawala, menghantarkan desah binarnya memancarkan rindu pada tembok-tembok bisu yang padanya kaki kujejakkan. Ini kali pertama dirinya membiarkanku menikmati kemesraan senja, setelah berkali harapku pupus dilerai derai hujan. Pikirku, mungkin ini hari yang istimewa. Atau ... sapa rindu penebus kesalahan … Continue reading Perempuan Pengutip Kerang

Rindu Jantho


Jantho tak pernah tahu dirinya telah lama divonis mati. Bahkan kembang-kempis paru-parunya tak teraba meski nadinya masih berdenyut mengalirkan darah ke bilik jantungnya. Jantho tak pernah tahu, sepinya akan dirindu karena pesona lekak-lekuk bebukitannya yang menggoda rasa tuk memeluknya. Jantho tak pernah tahu, hijau padang dan hembusan napasnya membawa damai ke relung jiwa. Serenade yang … Continue reading Rindu Jantho

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka. Di … Continue reading Manuskrip dari Aceh

Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

pulang, wisata aceh

Jejak hujan masih tersisa kala kaki kita menapak di Peunayong malam itu. Aku sudah tak tahan dengan rengekan usus dalam perut yang sedari siang merindu sayuran. Entah kenapa tak mudah menemukan sayuran di Aceh. Sayuran yang aku maksud adalah sayuran hijau yang dibening. Aaah dasar perut kampung! Doyannya makanan rumahan. Kata Kak Yasmin yang seharian … Continue reading Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

Janji Senja dan Secangkir Kopi di Lubuk Sukon


Hujan dan senja selalu hadirkan gelisah setiap kali mereka bertandang di saat yang bersamaan. Mendadak bayangan secangkir kopi panas menyembul dari balik lembaran majalah perjalanan yang terbentang pasrah di pangkuan. Kepulan asapnya menebar aroma mewangi, membuncah pucuk rasa untuk menyesapnya. Hmmm ... aroma arabica menggoda memori pada ritual senja di Lubuk Sukon sembari menikmati tarian … Continue reading Janji Senja dan Secangkir Kopi di Lubuk Sukon

MenjumpaiMu di Baiturrahman

masji baiturrahman

"Tahu apa kamu tentang Aceh?" gema tanya sinis memenuhi kepala saat kaki perlahan diayun ke dalam pelataran Baiturrahman. Tanya yang kau gaungkan dua minggu setelah tsunami memporak-porandakan Aceh. Semua bermula dari sebuah pesan berantai yang tersangkut di kotak suratmu, dan di sana kau temukan namaku berderet bersama nama-nama lain yang membuatmu meradang dan memaki penuh … Continue reading MenjumpaiMu di Baiturrahman