Maghrib di Baiturrahman

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab

Banda Aceh sore itu. Kita duduk melepas penat, menikmati seduhan kopi dari sebuah kedai kopi yang berdiri di salah satu pojok Blangpadang. Pilihanmu es cappucino, sementara aku, memesan kesenangan lidahku; sanger dingin.

Maghrib sebentar lagi datang. Kita harus bergegas ke Baiturrahman, agar tak terlambat menyambutnya.”

masjid baiturrahman aceh, syarat berkunjung ke masjid baiturrahman aceh, ke aceh harus berjilbab
Selamat datang di Serambi Mekkah 😉

Kuseruput sanger yang tersisa di dalam cangkirku sebelum kubereskan  tagihan pada si abang penjaga kedai yang sedari tadi kuperhatikan sebentar – sebentar melirik ke meja kita. Rupanya si abang penasaran, kamu makhluk dari bumi sebelah mana? Kenapa rupanya tanyanya senada dengan penjaga Museum Tsunami yang kita mampiri tadi? Serupa jawabanku di museum, kuberi jawab si abang itu dengan,”PERI[bumi], bang.” Jawaban yang membuat mereka puas – kurasa – karena tak kudengar lagi tanya yang mengikutinya.

Selangkah dua langkah terayun, aku teringat pesan seorang kawan ketika kuutarakan niat untuk kembali ke Baiturrahman,“Eh Nong, jangan coba – coba melangkah ke Baiturrahman bila tak mengenakan busana syar’i!” Continue reading “Maghrib di Baiturrahman”

Mencari Ibrahim Lamnga

monolog cut nyak dien, perjuangan cut nyak dien, sha ine febriyanti dan cut nyak dien, sha ine febriyanti

Saban hari, perempuan itu mengayun puteranya dengan buaian pengantar tidur diiring doa dan harap sang putera bertumbuh menjadi pemuda gagah perkasa yang siap untuk maju ke medan perang menyusul ayahnya berjuang mengusir para khape Belanda dari tanah tercinta.

Doda idi doda idang,
Geulayang blang ka putoh talou,
Beurijang rayek pemuda seudang,
Jak tulong prang bantu nanggrou

Doda idi doda idang,
Boh mancang srot u bumou,
Beurijang rayek aneuk lon sayang,
U mideun prang tajak sambinou.
Continue reading “Mencari Ibrahim Lamnga”

Lelaki Berdagu Biru

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Sinar mentari merengkuh tanah saat kami menggapai gerbang Gampong Bitay, Meuraxa. Sesuai perkiraan ketika melihat plang penunjuk arah di persimpangan jalan kala meluncur ke Gampong Punge Blang Cut pagi tadi, bila bersetia mengikuti jalan lebar yang beraspal; sebentar juga sampai. Tapi Hadi yang tiga tahun lalu menemani berkeliling jejak sunyi, tetap menepikan kendaraan di depan sebuah kedai untuk memastikan kami tak salah mengambil arah.

Bang Pasha, kita sudah sampai. Turun yuk,” seruku pada si ganteng yang belum juga menemukan posisi duduk yang nyaman di kabin belakang mobil yang membuat badannya sedikit terlipat.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay
Jejak yang tertinggal di Gampong Bitay

Lelaki berwajah tirus dengan dagu hijau kebiruan itu; kulit kuningnya berkilat diterpa cahaya matahari. Dirinya menjulang di depanku sesaat setelah Hadi kumintai tolong untuk mengabadikan gambar di depan gerbang taman. Diayun-ayunkannya kakinya yang tadi terlipat di mobil sembari menebar senyum mengajak melangkah ke dalam tempat peristirahatan yang senyap itu. Pasha menguntitku sejak kemarin petang. Kata kak Yasmin yang menemani ke Bukit Malahayati, dia melihat lelaki tinggi kekar dan ganteng itu mengawaniku berbincang saat bermain ayunan di bawah pohon beringin besar yang tegak di belakang Indra Patra.

Continue reading “Lelaki Berdagu Biru”

Kedai Interkom Cut Kak Pipi

kedai cut kak pipi, sarapan murah di banda aceh, kuliner banda aceh

Kapan ke Banda (Aceh) lagi? Mau kuajak sarapan lontong enak
Jadi, kapan sarapan lontong bareng? Sampai kapan di sini?
Besok aku jemput sarapan di Kak Pipi, ya

Pesan-pesan tersebut meramaikan kotak surat selama empat bulan kemarin. Dikirimkan Poetri, seorang kawan dari Banda Aceh. Jika tak salah mengingat, kami bersua pertama kali di Kedai Kopi Solong, Ulee Kareung tapi baru berkenalan dan berbincang di trotoar Peunayong, tiga tahun lalu. Dia membuat panik saat melihat celana 3/4 yang melekat di badan. Celana itu dikenakan selama berjalan seharian di Sabang dan belum sempat diganti hingga merapat di Banda Aceh jelang makan malam.

lontong sayur banda aceh, tempat sarapan di banda aceh, sarapan murah di banda aceh
Lontong Sayur di Kedai Cut Kak Pipi, Banda Aceh

Continue reading “Kedai Interkom Cut Kak Pipi”

Pieter de Bruijn

Siron Mass Grave

Matahari hanya diam, ia memandangiku dengan muka ditekuk-tekuk. Belumlah waktunya makan siang, namun dirinya tampak sudah terlalu lelah dan hendak menangis saja. Harusnya yang tersedu si Darlang, yang berdiri tanpa kepala di depanku. Kepalanya hilang entah kemana. Aah, keterlaluan sekali mereka yang tega memisahkannya dari si empunya badan. Beruntung aku melihatnya di saat matahari masih ada, sehingga tak perlu khawatir berlebihan saat menjumpainya menyendiri di sudut kerkhof.

Apa yang membuat orang menghancurkan jejak masa, sebuah karya yang seharusnya bisa dinikmati oleh generasi yang lahir jauh setelahnya? Uangkah? Kebanggaaankah? Kepongahankah? Atau kebencian?

Pikiranku sedang berputar-putar memikirkan semua itu ketika lelaki di depanku ini mendadak muncul dari belakang Darlang. Lelaki berkulit hitam, yang sorot matanya tajam, yang raut mukanya terlihat bersahabat meski tampak kikuk berhadapan dengan orang yang baru dijumpainya.

Continue reading “Pieter de Bruijn”

MerinduMU Menyapa Pagi

Benteng Inong Balee, Benteng Malahayati, Laksamana Malahayati, Inong Balee

Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony – [Mahatma Gandhi]

Pagi yang dinanti itu datang juga. Sebait syukur dipanjatkan padaNYA yang selalu setia menuntun langkah dan tak pernah bosan menyayangi jiwa. Di pagi yang dinanti itu; kembali tersungkur dalam diam. Berterima kasih masih bisa menghela napas, memenuhi rongga paru dengan udara pagi dan diberi kesempatan untuk melihat dunia.

Berkemas. Sebuah pertemuan telah disepakati dari beberapa bulan sebelumnya. Pertemuan yang waktunya telah berkali-kali berganti karena kesibukan yang menyertainya. Percaya, tak ada yang terjadi secara kebetulan. Di antara kesibukan itu, diberinya kita kesempatan untuk menyiapkan hati menyambut pertemuan ini, bukan? WaktuNYA tak pernah terlambat, meski harus melewati proses penantian panjang yang terkadang melelahkan dan mulai membosankan. Continue reading “MerinduMU Menyapa Pagi”

Perempuan Pengutip Kerang


Aku mematung di ujung Indra Patra, memandang mentari beranjak memunggungiku. Dia mengijinkanku menyaksikan senja mencumbui cakrawala, menghantarkan desah binarnya memancarkan rindu pada tembok-tembok bisu yang padanya kaki kujejakkan. Ini kali pertama dirinya membiarkanku menikmati kemesraan senja, setelah berkali harapku pupus dilerai derai hujan.

benteng indra patra, sejarah benteng di aceh
Bagian belakang Benteng Indra Patra

Pikirku, mungkin ini hari yang istimewa. Atau … sapa rindu penebus kesalahan setelah melewati hitungan tahun untuk kembali menjejak di sini. Entahlah, aku tak ingin berdebat. Aku hanya ingin menikmati senyum puas senja, usai memagut-magut setiap jengkal benteng yang telentang di hadapannya. Mencoba memindai setiap gerak-geriknya, tuk kuceritakan bila nanti kita berjumpa. Entah kapan. Menebaknya aku meragu. Hanya jejak yang kutitipkan di gerbang Indra Patra dengan sejuta asa kupasrahkan pada sang waktu. Continue reading “Perempuan Pengutip Kerang”

Rindu Jantho


Jantho tak pernah tahu dirinya telah lama divonis mati. Bahkan kembang-kempis paru-parunya tak teraba meski nadinya masih berdenyut mengalirkan darah ke bilik jantungnya.

jantho_08
Kembang Jantho

Jantho tak pernah tahu, sepinya akan dirindu karena pesona lekak-lekuk bebukitannya yang menggoda rasa tuk memeluknya. Continue reading “Rindu Jantho”

Manuskrip dari Aceh

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh
Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Continue reading “Manuskrip dari Aceh”