Martha Christina Tijahahu, Mutiara dari Nusa Laut

martha christina tijahahu, pahlawan wanita maluku, nusa laut, benteng beverwijk

Buku stensilan berukuran folio yang tampak usang itu tergeletak di atas meja di salah satu sudut rumah peninggalan Thomas Matulessy atau yang dikenal dengan Kapitan Pattimura di Saparua. Sampul merahnya menarik perhatian terlebih saat mata terantuk pada tulisan samar-samar yang menyembul di antara tumpukan DVD dan beberapa kotak kaset yang berserakan di atasnya.

Sendiri di ruangan ini menggoda rasa penasaran menggerakkan tangan menyingkirkan satu per satu barang yang menindih si buku. Perlahan lembar demi lembar kertas yang menguning dimakan usia itu terbuka di atas meja membuat mata terbelalak. Hati berdebar menyusuri rangkaian kata yang tertuang di dalamnya. Takjub! Continue reading “Martha Christina Tijahahu, Mutiara dari Nusa Laut”

Hari Haruku di Haruku


Speedboad yang membawa kami dari pulau Pelauw perlahan merapat di bibir pantai Haruku. Air sedang surut, kami tak dapat menepi di tempat yang biasanya dilabuhi di pulau ini. Jujur, baru mendengar nama Haruku sehari setelah ditawari perjalanan ke Maluku oleh Nokia Indonesia dan mengecek agenda perjalanan. Haruku, selain nama pulau juga merupakan nama salah satu negeri di gugusan pulau Haruku. Haruku bukan harumu, nama yang lucu-lucu sedap di kuping.

Di Haruku, langit dan laut tak henti menebar pesona birunya, pantai pasir putih yang lengang dari pengunjung. Meski matahari garang, sejuk dihembuskan semilir angin yang menebar wangi garam serta lambaian nyiur dari pantai mengajak langkah mendekat ke daratan. Continue reading “Hari Haruku di Haruku”

Jejak Pattimura di Maluku

Pattimura

Hari kedua di Maluku. Selepas menikmati nasi kuning di halaman rumah raja Sila, kami beranjak dari Nusa Laut menuju Saparua. Hanya perlu waktu 15 menit menyeberang hingga perahu motor cepat yang membawa kami dari Sila merapat di belakang pasar Saparua.

“Eh nona dari gunung San[d]iri-kah?”
“Tidak bapa, beta ramai-ramai dari Jakarta dengan rombongan di rumah sebelah.”
“Tapi nona  baru turun San[d]iri?” Continue reading “Jejak Pattimura di Maluku”

Di Haruku Kujumpai Latuharhary


Bagi yang mengikuti berita seputar banjir yang melumpuhkan Jakarta beberapa hari ini; bisa dipastikan nama Latuharhary akrab singgah di kuping. Jebolnya tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) karena tak kuat menahan derasnya terjangan air di jalan yang menggunakan namanya, mengakibatkan air meluap hingga menggenangi jalan protokol dan kawasan bisnis Jakarta. Siapa gerangan pemilik nama Latuharhary? Kenapa namanya layak untuk diabadikan menjadi nama sebuah jalan di daerah elit Menteng?

Sosok lelaki berperawakan sedang itu berdiri menantang birunya laut. Tangan kanannya memegang ujung jas, tangan kirinya menggenggam buku,”Azab Sengsara Maluku”. Lelaki itu setia memandangi satu per satu perahu yang merapat dan bertolak dari bibir pantai. Lelaki yang menjejak di indahnya negeri Haruku itu adalah putera Ambon yang pernah memimpin Sarekat Ambon. Dilahirkan di Ulath, Haruku; salah satu negeri di Maluku Tengah pada 6 Juli 1900 dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru, Jan Latuharhary. Continue reading “Di Haruku Kujumpai Latuharhary”

Hati Beta Tertambat di Nusa Laut


Langit biru menyambut ayunan langkah menuruni bis yang membawa kami dari Ambon ke Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, Sabtu pagi (17/11). Deretan kendaraan pribadi menyesaki lahan parkir yang tak begitu lapang di mulut dermaga, menjadikan suasana tampak lebih ramai dari hari sebelumnya. Nusa Laut, negeri yang menjadi tujuan perjalanan pagi ini bersama Komunitas Sahabat Museum (Batmus) setelah  sehari sebelumnya puas mengunjungi Pelauw, Haruku dan Hila.

“Ayo nona, langsung naek spitbot!” sapa seorang bapak yang wara-wiri di atas dermaga. Bapak yang wajahnya saya kenali sebagai salah seorang yang kemarin menyorongkan kakinya sebagai pijakan untuk turun ke speedboat. Saya menyambut sapaannya dengan melempar senyum, lalu beranjak menikmati pagi di dermaga dengan ikut mengantri di toilet darurat. Dua jam perjalanan dari Tulehu ke Nusa Laut menjadi pertimbangan untuk mengosongkan isi tanki menghindari hasrat buang air kecil di tengah laut. Continue reading “Hati Beta Tertambat di Nusa Laut”

Setelah Kunjungan Pak Dubes


Tadi sebelum istirahat buka-buka Kompas.com dan membaca berita kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Greg Moriarty ke Morotai, Maluku Utara. Ternyata ayahnya dulu adalah tentara sekutu yang bertugas di Morotai pada masa Perang Dunia II (PDII). Di Morotai, Moriarty menyempatkan berkunjung ke makam tentara sekutu dan mencoba mencari jejak ayahnya. Sayang tak ditemuinya nama sang ayah tercantum pada salah satu dari 12 makam yang ada.

Yang menjadi pertanyaan kenapa pak Dubes gak sekalian ke Tantui, Kapaha Ambon ya? Kalau di sana ada sekitar 2.000–an makam tentara sekutu dan sebagian besar justru berasal dari Australia. Lebih sayang lagi, di berita tersebut tak disebutkan nama ayah pak Dubes jadi gak bisa juga mencari namanya, padahal mau coba bantu cek di list taman pemakaman. Continue reading “Setelah Kunjungan Pak Dubes”