Kepel, Buah Terlarang Rahasia Kecantikan Puteri Keraton Mataram

Stelechocarpus burahol, pohon kepel, pohon kepel, manfaat buah kepel, pohon langka di indonesia

Awalnya ketika melihat buah serupa sawo bergerombol dan bergelantungan pada batang pohon yang menjulang di jalan masuk Rumah Ndekem beberapa bulan lalu, saya pikir itu semacam parasit yang menumpang hidup pada si pohon. Saya pun menebak – nebak buah itu tak bisa dikonsumsi karena yang sehari – hari melewati pekarangan itu sendiri tak menggubrisnya. Hingga minggu lalu saat kembali bertandang ke Rumah Ndekem dan melihat buahnya koq seperti menggoda untuk dipetik; saya jadi penasaran. Pun karena yang sehari – hari berkantor di situ menawarkan untuk mencoba mencicipi buah terlarang itu.

Stelechocarpus burahol, pohon kepel, pohon kepel, manfaat buah kepel, pohon langka di indonesia
Buah Kepel, sekepalan tangan dewasa

+ Kak, buah pohon itu dimakan?
– Iya. Aku pun baru tahu setelah bertahun di sini, baru tahun ini makan coba.
+ Rasanya gimana?
– Gak ada duanya. Gak bisa diungkapkan dengan kata – kata
+ Namanya buah apa kk, kepel?
– Iya, kepel.

Hmm .. kalau ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata, semacam orgasme donk? Eh, ini ngomongin apa sih? Kepel, buah terlarang yang bikin rasa melayang hahaha.

Continue reading “Kepel, Buah Terlarang Rahasia Kecantikan Puteri Keraton Mataram”

Pecinan Semarang

laksamana cheng ho, diorama cheng ho, klenteng sam po kong

Aku dan senja berjalan berlambat-lambat dari Tay Kak Sie ketika malam datang tergesa-gesa. Tiga langkah dari Kali Koping, sebelum senja bergegas menaiki jungkung yang ditambatkannya di sana sejak matahari perlahan-lahan turun di barat. Malam memintanya segera pulang, tanpa peduli aku masih ingin berlama-lama dengan senja. Aku tahu giliran malam untuk berjaga. Tapi, kenapa dia datang terlalu cepat? Senja melambaikan salam perpisahan. Tubuhnya beringsut ke dalam jungkung yang melaju perlahan-lahan mengikuti arah angin menuju ke barat hingga hanya pendar bayangnya yang tampak memerah di ujung-ujung bubungan rumah yang menjulang rapat-rapat di sepanjang bibir Kali Koping.

Kiang Cu Gee, Jiang Ziya, Klenteng Tay Kak Sie Semarang
Kiang Cu Gee

Gang Lombok pelan-pelan rebah dalam pelukan malam. Tak terdengar lagi suara cumbu wajan dengan sodet dari Kedai Lumpia di jalan itu. Aku tadi terlalu asik mendengar tuturan Kiang Cu Gee yang kutemui di beranda belakang Tay Kak Sie. Lupa bila senja datang, wajan dan sodet di kedai itu pamit beristirahat. Continue reading “Pecinan Semarang”

Nginthir Kalijaga, Tersedak Air Kali Kreo

river tubing kandri, nginthir kalijaga, desa wisata kandri, river tubing kali kreo, semarang hebat

bleep .. bleep ..
uhuuuuwaaaakkkk … kumuntahkan air coklat yang masuk ke dalam mulut, ada yang tertelan, sedikit ah banyak .. ughhhfff ..
bleeheeellleep … leppp … bleellppp …

ohh maaak …. mati gw … this is the time …
TUHANku ke dalam tanganMU kuserahkan jiw … bukkssss … adooooooh
punggung tipisku dicium batu kali raksasa

selagi meringis nggak karuan, ada suara-suara yang sayup terdengar … hati-hati pantat, angkaaaaat!!
Megap-megap di derasnya arus, sekali lagi punggung berciuman dengan batu, buuukkkkzz … arrgggghhh … suka-sukaMU TUHAAAAAN, suka-sukaMU TUHAAAAN …

BAPAku, haruskah berakhir di air menahan sakit seperti ini? Nggak boleh ya, selagi tidur di pelukannya? Eh, maaf, maksudnya berakhir tanpa perjuangan gini? Kuingat-ingat lagi instruksi yang diberikan di pos Gedung Ceret sebelum turun ke air tadi. Sepertinya semua SOP sudah dijalankan dengan baik. Lengan santai menempel di ban, angkat pantat saat melewati arus agar tak dicium paksa batu yang tak terlihat, goyang-goyangkan badan seperti ulat keket selagi arusnya diam saja, kalau jatuh lepaskan saja bannya nanti badan akan naik dengan sendirinya selama life jacket dipasang dengan benar blaa ..blaa …blaaa.
Continue reading “Nginthir Kalijaga, Tersedak Air Kali Kreo”

Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa


Semarang En Erstecht Venetie. Schimmen Glitsering Bekoorin; Semarang Venesia dari Timur. Indah berkilauan. Julukan yang disematkan oleh Ratu Belanda, Wilhelmina III, pada kota yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-469 pada 2 Mei lalu. Kota yang kembali saya sapa setelah 3 (tiga) tahun berlalu kala terakhir kali mampir menikmatinya meski hanya sesaat dalam perjalanan singkat ke Lasem kala itu. Menyapanya pagi ini, membangkitkan kerinduan untuk menikmati getar kenangan yang tersimpan pada ikon-ikon kota yang pernah dijejaki bersama.

semarang hebat, semarang night carnival, akulturasi budaya semarang, sejarah semarang, lontong cap go meh
Jongkie Tio, salah seorang sesepuh Semarang wajib bertandang ke restorannya bila mampir ke Semarang

Bincang kenangan bersamanya dibuka dengan semangkok Soto Ayam Khas Semarang Pak Man di kawasan Pamularsih. Sedikit nasi yang ditempatkan di dalam mangkok, diberi suwiran ayam, irisan bawang putih dan merah goreng, daun bawang, beberapa lembar kecambah rebus, diberi irisan tomat dan disiram dengan kuah soto panas yang bening. Sangat pas dengan selera lidah yang tak terlalu menyukai soto pekat. Menikmatinya ditemani penganan berupa sate telur puyuh, dan sate jeroan ayam serta tempe goreng dan perkedel. Seperti memutar kembali roda masa dengan arah yang terbalik. Tiga tahun lalu Pamularsih adalah tempat terakhir yang dikunjungi dengan bertandang ke rumah Raja Gula Semarang, Oei Tiong Ham. Namun hari ini, ia menjadi tempat untuk mengawali hari di Semarang.
Continue reading “Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa”

Menepi di Senyapnya Taman Indria Purwokerto

bu kasur, pak kasur, taman kanak-kanak indria

Bayu tak banyak bicara, surya pun hanya mesem saat aku beranjak dengan Dwipangga menuju Purwokerto, menggeret segudang tanya yang tiada henti berputar membuat kepala meringis. Apa sih yang menarik dari Purwokerto sehingga harus dikunjungi? Jika melintas di pikiran saja tak pernah, untuk apa mencari tahu keunikan ibukota Banyumas, Jawa Tengah ini?

Hampir lima jam perjalanan dan aku tak berhasil mengumpulkan memori yang bisa membuatku sedikit saja membebaskan diri dari tanya yang terus saja mengusik.

bu kasur, kuburan bu kasur, taman kanak-kanak indria
Sudah lama tak disapa

Waktu mengingatkanku, terkadang hanya perlu menjejak di satu tempat dimana jejak masa pernah bersandar agar engkau tersadar bahwa jejak itu pernah ada. Di peron stasiun Purwokerto, satu per satu memori yang menepi di sudut yang paling sepi perlahan beranjak pada ingatan masa perjalanan dengan Kereta Api Terakhir.

Continue reading “Menepi di Senyapnya Taman Indria Purwokerto”

Belajar Dharma dari Sang Buddha

buddha tidur, vihara ratanava arama, vihara di lasem

Ketika memutuskan kembali ke Lasem untuk sebuah petualangan kecil di Minggu pagi itu, sudah terbayang sebuah perjalanan yang akan memberi warna dan jejak penuh makna. Setelah menyusuri potongan jalan pantura, kendaraan yang kami tumpangi berbelok meninggalkan jalan beraspal. Sisa hujan semalam masih membekas di beberapa ruas jalan tanah yang dilalui. Di dalam elf, badan bergoyang mengikuti ayunan kendaraan yang menari di atas jalan berlumpur.

uruvela, destinasi wisata lasem, vihara ratanava arama, buddha gautama
Sang Buddha saat bersemedi selama 4 tahun di hutan Uruvela, India tubuhnya menjadi kurus

Eh, kita nggak salah jalan kan ya?” Rasa khawatir mulai menjalari pikiran saat kendaraan semakin menjauh dari peradaban. Tak tampak lagi rumah-rumah penduduk. Yang terhampar di kiri kanan hanyalah petak-petak sawah yang berganti dengan gerombolan pepohonan kala kendaraan mulai menanjak di jalan yang tak bersahabat. Continue reading “Belajar Dharma dari Sang Buddha”