Naik Kereta Api Tut Tut Tuuttt

ka argo parahyangan, stasiun kereta bandung, kereta bandung jakarta, kaigreetings

Kemarin dulu, saya mendadak ingin sekali berjalan ke luar kota dengan menumpang kereta api. Kebetulan banget, di saat yang bersamaan, ada urusan administrasi kependudukan yang mesti diselesaikan di Bandung. Hanya karena ada satu angka yang tidak klop dan baru ketahuan setelah 5 (lima) tahun aman jaya, mau tak mau harus berurusan dengan si penginput data. Hikmahnya, bisa pulang ke Bandung naik kereta, horeee #norak ya  😉

ka argo parahyangan, stasiun kereta bandung, kereta bandung jakarta, kaigreetings

Meski pernah tinggal selama 4 (empat) tahun di Bandung, bahkan duluuu sering mudik Cilegon – Bandung lalu Jakarta – Bandung; tak sekalipun perjalanan dilakukan dengan kereta api. Selalu saja naik bus. Lalu, beralih ke travel yang poolnya ada di seberang kantor. Jadi, kalau pun hendak bepergian dengan kereta api, saya selalu bagian tahu beres. Beli tiket diwakilkan pada yang mau menjadi volunteer. Dan saat hendak berjalan; tinggal datang ke stasiun sesuai jadwal. Tapi, kali ini semua dilakukan sendiri. Karenanya, kemarin itu selagi makan siang, langsung buka tiket.com lewat gawai di tangan dan memesan tiket Kereta Api (KA) Argo Parahyangan jurusan Jakarta – Bandung. Continue reading “Naik Kereta Api Tut Tut Tuuttt”

Rindu Tuan Dramaga


Langit pagi di Bogor selepas hujan semalam masih digelayuti mendung. Kami berkendara dengan kecepatan sedang saja meninggalkan kota yang mulai riuh di akhir pekan seusai menikmati sarapan di sebuah gerai cepat saji di seberang stasiun keretanya. Kampung Pilar, desa Sibanteng di Jasinga menjadi tujuan kami pagi itu. Perjalanan tersendat saat melintasi pasar  Dramaga dan pasar Jasinga (kalau tak salah) karena angkot yang berhenti sesuka hati. Selepas pasar jalanan cukup lowong dan lancar hingga di tempat peristirahatan keluarga van Motman.

van_motman_07
Selamat datang di Mausoleum van Motman

Ucu Sumarna menyambut kami di gerbang yang menyisakan dua pilar menjulang dengan pucuk-pucuknya yang diselimuti lumut. Di pekarangan yang rumputnya menghijau itu tumbuh bermacam tanaman seperti pohon pisang, pohon pepaya, talas Bogor, singkong, pohon lada dan beberapa pohon lain yang familiar. Continue reading “Rindu Tuan Dramaga”

Berkenalan dengan Tan Sin Hok, Sang Ahli Mikropaleontologi

tan sin hok, ahli mikropalaeontologi, ereveld pandu

Aku tak kuasa meredam amarah surya siang itu di Pandu. Sengatnya memaksa langkah beranjak kembali ke pendopo, mengusapkan sun protection lotion ke permukan kulit yang perih. Telat? Tak usah kau pikirkan. Yang jadi tanyaku, kemana sejuknya Bandung, yang dulu kau banggakan? Jika air mineral yang tersaji di atas meja bisa tandas dalam sekejap?

tan sin hok, ahli mikropalaeontologi, ereveld pandu
Tan Sin Hok di Delft, ehhmm ganteng ya 😉 (dok. brieven Tan Schepers)

Bukan karena merindu perihnya sengatan matahari aku kembali bergegas ke pelataran yang dipenuhi patok-patok berbentuk salib berwarna putih itu. Bukan pula karena siulan angin yang tak pernah takut tersengat matahari. Tapi, karena nama asing yang menggelitik gendang telinga, yang terpatri di salah satu patok putih entah di sebelah mana? Continue reading “Berkenalan dengan Tan Sin Hok, Sang Ahli Mikropaleontologi”

Selamat Ulang Tahun Opa Schoemaker

kuburan pandu bandung, makam kristen pandu, makam schoemaker

hallelujah, hallelujah, hallelujah
keerden veilig Heer Jezus je zegenen, aaaamen

Amin adalah kata sakti yang dinantikan sebagian besar umat saat kantuk menyerang tiada ampun di tengah pergolakan batin memusatkan konsentrasi. Mengikuti jalannya ibadah, atau membiarkan pikiran liar berkelana tak terbendung. Amin, kata penanda usai jua segala tata ibadah yang terkadang bahkan lebih sering membuat mata  pasrah, menyerah pada kantuk mengikuti liturgi yang lamban dan membosankan.

kuburan pandu bandung, makam kristen pandu, makam schoemaker
I follow my direction

Begitu pendeta memutar badan turun dari mimbar, riuh pula derit sol sepatu bergesek dengan ubin menahan tubuh yang serentak berdiri dari bangku yang telah membuat duduk gelisah selama satu setengah jam. Berpasang langkah bergegas keluar dari deretan bangku-bangku panjang, berdesakan menanti giliran memberi salam kepada pendeta yang telah menanti di depan pintu keluar. Continue reading “Selamat Ulang Tahun Opa Schoemaker”

Soldaten Kaffee: Selamat Sore Führer!

soldaten kafe, sejarah hitler

Think thousand times before taking a decision. But, after taking decision never turn back even if you get thousand difficulties – [Adolf Hitler]

Ehmmm, maaf lagi ngapain mbak?”

Suara deheman dari balik punggung menghentikan gerakan tangan yang siap meng-capture gambar swastika yang tertancap di lantai. Balik badan, mata bersirobok dengan tatap penuh tanya seorang lelaki yang raut mukanya cukup familiar; Henry Maulana, pemilik tempat yang telah dijajah selama sepuluh menit muncul di hadapan saya. Kami pun berkenalan dan mengobrol singkat seputar kegemarannya yang berlanjut ke sebuah usaha tempat makan yang mengundang kontroversi publik.

soldaten kaffee, kuliner bandung, nazi
Direction

Kepulangan mendadak ke Bandung Juli lalu mempertemukan langkah dengan Henry tanpa ada kesepakatan pertemuan di Soltaden Kaffee Continue reading “Soldaten Kaffee: Selamat Sore Führer!”

Warung Kota Bandung

kuliner bandung, warung kota

Secara nggak langsung, Mas Joko-lah yang menghentak kaki melenggang ke Bandung awal bulan kemarin setelah berabad-abad nggak pulang. Kalau tak salah mengingat, terakhir menjejak di bumi Parahyangan kurang lebih 2 (dua) tahun lalu. Idiih, gilingan cabe! Lama juga ya! Dan, gegara Maknya Cemen semalam bertanya panjang lebar keabsahan sebagai warga Bandung, jadi teringat perjalanan demi selembar kertas suara untuk Indonesia yang lebih baik.

kuliner bandung, warung kota
Meja di Warung Kota dihiasi dengan sangkar burung

Dapat jadwal travel untuk pulang ke Jakarta masih beberapa jam lagi.  Perut mulai meronta, bukannya pulang ke rumah; malah memilih kelayapan mengusir galau. Melangkahkan kaki mencari tempat yang enak untuk mengisi waktu luang. . Continue reading “Warung Kota Bandung”

Tragedi Junyo Maru

junyo maru

Mendung menyelimuti langit Cimahi kala kami sampai di depan gerbang Ereveld Leuwigadjah sore itu. Perjalanan menyusuri jejak sunyi seharian ini dikawani tiga lelaki Mas Dipo, Wibi dan Yoan bikin lupa waktu. Kami baru sempat mengisi perut jelang pk 15 di sekitar Cimahi usai beranjak dari Pandu, Bandung. Setelah menyempatkan untuk melihat-lihat beberapa makam tua yang terbengkalai di depan gerbang ereveld, melihat langit semakin muram; bergegas kami melangkah ke dalam ereveld. Pemandangan di balik gerbang sangat kontras dengan pemandangan di luar tadi. Di dalam mata disegarkan dengan jejeran patok-patok nisan yang tertata rapi di atas hamparan rumput hijau dengan latar belakang bukit yang mulai dikelilingi awan tebal.

Langkah perlahan diayun menikmati senyap menyusuri setapak yang membatasi hamparan berumput hijau tempat patok-patok itu berdiam dalam sepi. Tempat untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan. Tulisan itu terpatri di depan salah satu monumen untuk para korban semasa perang yang tak dikenal. Continue reading “Tragedi Junyo Maru”

Jalan-jalan ke Rumah Opa Treub


Sebenarnya tak ada rencana untuk berkunjung ke rumah Opa Treub siang itu. Masuk ke Kebon Besar/Kebun Raya Bogor (KRB) pun hanya karena iseng menghabiskan waktu sembari menanti kereta senja sebelum kembali ke Jakarta. Kadung sudah di dalam, usai dari tempat Kuhl & Hasselt; sang kawan yang penasaran dengan raflesia minta dikawani berkeliling mencari tempat tumbuh si kembang bangkai.

Raflesianya gak ketemu karena memang lagi gak musim, malah nyasar ke pekarangan rumah Opa Treub. Demi melihat bangunan lama bergaya kolonial yang menggoda di depan mata, kami memberanikan diri untuk bertamu meski tak ada di daftar undangan pesta kebun yang digelar di lapangan Astrid, di seberang rumah Opa Treub. Continue reading “Jalan-jalan ke Rumah Opa Treub”