Keluarga Juragan Susu yang Tinggal di Rumah Nomor 841


Sepertinya Minggu pagi adalah hari baik untuk membeli susu. Aku menebaknya dari langkah terburu-buru Emma dan umat lainnya ke koperasi susu Bandoengsche Melk Centrale (BMC) yang berdiri tak jauh dari persimpangan Logeweg dan Atjehstraat usai ibadah pagi itu. Walau baru saja duduk diam di dalam gereja dan mendengar firman, bukan jaminan kepala tak diganduli khawatir kehabisan susu sehingga tak sabar mengantre bersalaman dengan pendeta. Riuh seperti lebah berhamburan meninggalkan De Nieuwe Kerk yang sekejap saja senyap. Aku pun tergesa pamit meninggalkan bapak tua yang sedang ingin bercerita banyak itu karena teriakan gemas Emma dari gerbang, “Kuuuuullll! Kom, cepat-cepat, we hebben om melk te kopen.”

“Emma, kenapa kamu berjalan seperti orang berlari? Heb geen haast, susunya pasti dapat.” Napasku memburu menyamai langkahnya. Dua tiga langkah lagi dan kami sampai di gerbang BMC yang memang tak jauh dari gereja.
Weet niet ja jou. Kalau besok pagi tidak ada susu di meja makan, jangan mengomel!”Jawabnya sedikit ketus. Dalam sekejap, dirinya sudah menghilang dari hadapanku. Badannya yang mungil, tenggelam di kerumunan pemburu susu. Bahkan, pucuk kepalanya saja tak tampak.

Kemarin dulu, berita utama di De Preanger-Bode mengulas pernyataan BMC yang menjamin ketersediaan stok susu pasteurisasi untuk memenuhi kebutuhan susu harian masyarakat Bandung dengan harga yang stabil. Apakah mereka belum mendengar kabar baik itu? Atau … mereka terlewat membaca beritanya?

Lembangsche Melkerij Ursone, juragan susu ursone, sejarah susu di bandung, Bandoengsche Melk Centrale, mausoleum ursone

Sepeninggal Emma, perhatianku terpecah pada lelaki berkulit putih bersih yang mendorong sepeda kumbangnya ke pekarangan BMC. Hei … bukankah itu Pietro Antonio Ursone, lelaki yang gambarnya muncul di koran kemarin? Tampaknya dia juga baru saja pulang dari misa pagi di St. Franciscus Regis. Dia meninggalkan sepedanya di dekat tempatku berdiri dan berlalu ke dalam BMC. Aku sedikit ragu untuk menyapanya. Kenapa dia mengayuh sepeda? Kepalaku masih mencoba mencari jawabannya ketika dirinya sudah kembali berdiri di dekat sepedanya.

Deze, ambillah … kamu pasti suka.” Lelaki itu menyodorkan sebotol susu segar. Sebagai penikmat susu, tentu saja kusambut dengan hati riang. Kubaca tulisan pada botolnya keras-keras. “Melk van Lembangsche Melkerij Ursone? Grazie signor Pietro.” Alisnya bersijingkat ketika aku menyebut namanya. Kupasang senyum selebar-lebarnya, ”Pietro Antonio Ursone. Aku mengenali wajah dan tahu nama Anda dari berita di De Preanger-Bode.” Lelaki itu menganggukkan kepalanya yang licin, mendudukkan pantatnya di sadel sepeda, dan berlalu dengan senyum menghiasi wajahnya.

Pietro Antonio Ursone meninggalkan Alessandria, kota kelahirannya di barat Italia, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik dengan menempuh perjalanan jauh ke Hindia Belanda. Pietro tak sendirian. Ia mengajak serta dua adiknya, Guizeppo dan Antonio. Bermodalkan talenta bermusik, ketiga lelaki Ursone itu kemudian membentuk kelompok musik de Gebroeders Ursone dan sepakat memulai kehidupan baru di Bandung. De Gebroeders Ursone memiliki jadwal konser tetap di Soceiteit Concordia, mereka pun acap terlihat bermain di Savoy Homan, mengiringi pesta dansa di pertemuan-pertemuan orang Eropa dan kelas atas; juga membuka kelas musik dari rumah.

Lembangsche Melkerij Ursone, juragan susu ursone, sejarah susu di bandung, Bandoengsche Melk Centrale, mausoleum ursone

Tak banyak orang yang mau mengambil risiko untuk pindah haluan ketika karirnya sedang menanjak. Namun, Pietro justru memutuskan untuk berhenti menjadi pemusik ketika de Gebroeders Ursone sudah mendapat tempat di hati warga Priangan dan mulai berbisnis. Kelak, kedua adiknya pun mengikuti jejaknya. Pietro salah satu pengusaha susu di sekitar Bandung yang memelopori berdirinya BMC, badan usaha gabungan para peternak sapi perah dan pengusaha susu yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi yang luas. Antonio, adiknya, terpilih sebagai salah satu ketua BMC. Lembangsche Melkerij Ursone yang dirintis Pietro pada 1895, dikenal luas sebagai pabrik susu terbaik di Hindia Belanda. Bisnis keluarga Ursone berkembang dari perkebunan teh dan kopi serta peternakan sapi perah dan pabrik susu segar di Lembang hingga usaha dagang carrara; keramik terbaik Italia di Bantjeuy.

Sejak kutinggalkan bertahun lalu, Bandung telah banyak berubah. Di waktu-waktu tertentu ketika mengunjunginya, kadang, aku tersasar dan berputar-putar di satu jalan yang searah untuk mencapai tempat pertemuan. Namun, berbeda ketika mengunjungi Pandu. Mengunjungi keluarga Ursone, juragan susu yang tinggal di rumah nomor 841. Walau komplek pemukiman itu sudah sangat padat, tak akan pernah tersasar. Bangunan rumah mereka yang menjulang, sangat khas. Mudah dikenali di antara bangunan lainnya yang tidur di tanah. Kalaupun kamu baru pertama kali bermain ke Pandu, tanyakan saja kepada mereka yang duduk-duduk di sekitar gerbang. Mereka pasti akan menunjukkan arah ke rumah Ursone.

Setelah cukup lama tak berkunjung, siang itu aku mampir sebentar ke rumah nomor 841. Mausoleum, rumah perhentian yang awalnya dibangun di Oude Europeesche Begraafplaats atau yang lebih dikenal sebagai Kerkhof Kebon Jahe. Di akhir 1973, ketika komplek itu diratakan dengan bulldozer karena lahannya akan dipakai sebagai tempat olah raga; rumah peristirahatan keluarga Ursone terpaksa diangkut ke Nieuwe Europeesche Begraafplaats – sekarang dikenal sebagai Tempat Pemakaman Umum Pandu – tempat peristirahatan yang diperuntukkan bagi orang-orang Eropa dan dibuka pada 1932.

Lembangsche Melkerij Ursone, juragan susu ursone, sejarah susu di bandung, Bandoengsche Melk Centrale, mausoleum ursone

Serupa dengan mausoleum pada umumnya, selalu ada tanda pengenal pemiliknya. Tepat di atas pintu mausoleum yang dindingnya dilapisi marmer carrara putih itu, terpampang tulisan FAM URSONE sedang di fasadnya nukilan dari Litani of Saints, ORATE PRO NOBIS yang secara harfiah artinya Doakanlah Kami. Tulisan itu ditopang oleh dua pilar. Di kaki pilar sebelah kiri terbaca nama J.A.G van Dijk. Jika memerhatikan letaknya, tulisan ini awalnya hendak diukir pada dinding depan sebelah kanan, di bawah nama Antonio Domenico de Biasi. Pada dinding itu, masih tersisa jejak tiga huruf yang sempat ditorehkan IJK.

Baca juga:

Seiring dengan membaiknya ekonomi mereka, beberapa anggota keluarga Ursone pun ikut hijrah ke Hindia Belanda. Hal ini bisa dilihat dari tinggalan jejaknya di mausoleum Ursone di Pandu. Selain de Biasi dan van Dijk, dari memerhatikan nama-nama yang diukir di dinding mausoleum, rumah peristirahatan ini “pernah” dihuni 8 (delapan) orang anggota keluarga Ursone. Mereka adalah Maria Giuseppe Ursone, Pietro Antonio Ursone, Guizeppo M. Ursone, Antonio Ursone, Antonio Domenico de Biasi, J.A.G. van Dijk, A.C. Ursone van Dijk, dan DR. C.G. Ursone. Sayangnya, aku sama sekali tak menemukan jejak P.V. Ursone, ayah Pietro dan adik perempuannya Marta Ursone selain nama suaminya de Biasi, orang terakhir yang masuk ke rumah ini pada akhir 1966.

Sebuah dokumen putusan Mahkama Agung Republik Indonesia bertahun 2019 menyebutkan, Pietro Antonio Ursone samenlaven dengan seorang perempuan bernama Oerki. Mereka tinggal di Een Western Enclave, kawasan pemukiman elit bangsa Eropa di Cipaganti. Selama hidup bersama, mereka tak memiliki anak sehingga mengangkat seorang anak perempuan dan dilaporkan secara verbal di Raad Agama Bandung pada 10 Februari 1914. Anak perempuan itu diberi nama Mafalda. Kemana mereka?

Lembangsche Melkerij Ursone, juragan susu ursone, sejarah susu di bandung, Bandoengsche Melk Centrale, mausoleum ursone

Di ruang dalam mausoleum, terdapat tiga prasasti yang dipindahkan dari peristirahatan sebelumnya. Prasasti milik ibunya, Maria Giuseppe Scotelaro Ursone yang dibaringkan dan menempel di lantai mausoleum. Di atas kepalanya prasasti milik J.A.G van Dijk dan di dinding kirinya prasasti dengan dua nama tertera di atasnya G.M. Ursone dan DR. G.G. Ursone. Jika melihat urutan penulisannya, kemungkinan Giuseppe Gioacchino adalah anak dari Guizeppo Ursone. Lalu kedua orang dengan nama van Dijk, bisa jadi juga adalah bapak dan anak, keluarga dekat dari Ursone. Kalau tidak, tak mungkin mereka diijinkan beristirahat di situ.

Kutinggalkan rumah juragan susu saat matahari semakin tinggi. Kerinduan pada secangkir susu segar panas, mengantarkan langkahku ke BMC. Tempat yang juga sudah banyak berubah. Walau sudah membolak-balik menu yang disodorkan pramusaji hingga tiga kali, tak ada lagi menu susu segar di sana. Semua telah berganti dengan menu kekinian yang tak akur dengan lidah. Aku kembali ke Jakarta sore itu membawa kenangan akan sebotol susu segar dan ketergesaan para pemburu susu di satu Minggu pagi, yang tak akan pernah hilang. Saleum [oli3ve].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s