Thich Quang Duc Membakar Dirinya di Sai Gon


Lelaki itu melempar senyum sejak pertama kali mata kami bersirobok saat saya melangkah mendekati tempat duduknya, mencari nomor bangku yang tertera di tiket. Senyum tak hilang dari wajahnya bahkan setelah saya duduk di sampingnya dan berterima kasih karena telah sigap berdiri dari duduknya, membantu mendorong punggung Meywah ke atas tempat penyimpanan barang. Wajahnya sumringah ketika tahu saya yang menempati bangku di dekat jendela, tetangga duduknya di 21 jam perjalanan dengan kereta malam Da Nang – Sai Gon.

Kantuk sudah menguasai mata saya sedari tadi. Setelah meletakkan pantat dengan nyaman, tak ada keinginan untuk berbasa-basi dengan tetangga duduk selain segera tidur. Tapi .. tak sopan rasanya menampik uluran tangan dari lelaki di sebelah yang matanya kini ikut tersenyum.

“Minh Hy.”

Suaranya bersaing dengan gemeletuk gerbong kereta. Dia terus saja tersenyum sembari sesekali membenarkan letak kain  yang disampirkan di bahunya. Saya jadi ikut-ikutan merapikan head buff di leher dan membalas senyumnya dengan sedikit terpaksa. Entah dilihatnya tulus, dia menyambutnya dengan bercerita tentang kehidupannya. Lebih lagi setelah tahu saya habis ngider di Hue, kampung halamannya, Minh Hy yang hari itu berangkat tugas ke salah satu biara di Sai Gon, makin bersemangat bercerita. Karena sepanjang bercerita dia berkali-kali mengucapkan kata .. meng meng .. terkadang .. meng ai .. – kebiasaan orang Vietnam jika berbicara, di belakang beberapa kata sering ditutup dengan bunyi ‘ng’ – tanpa sadar, saya pun menyapa dirinya dengan panggilan Meng Meng. Lucunya, lelaki yang mengaku tinggal di biara Linh Unh, pagoda terkenal di Da Nang itu; tak komplen.

biksu meng meng
Minh Hy a.k.a Meng Meng

Menurut Meng Meng, dia mendapat panggilan mengikut Sang Buddha setelah menikah dan memiliki tiga orang anak perempuan. Dia minta ijin ke keluarganya untuk meninggalkan rumah dan tinggal di biara untuk belajar menjadi seorang biksu. Setelah dua anaknya menikah dan Minh Hy ditempatkan di Da Nang; istrinya pun masuk salah satu biara di Hue. Sesekali, mereka masih saling berkunjung. Bila tak mudik ke Hue, istri dan anaknyalah yang datang menjenguknya ke Da Nang.

Kantuk saya tiba-tiba hilang. Obrolan dengan Minh Hy berlanjut membincangkan Thich Quang Duc, biksu yang membakar dirinya di Sai Gon pada 1963. Serupa dengan yang ditulis di berita-berita, Meng Meng bilang, apa yang dilakukan Quang Duc adalah aksi protes pada diskriminasi pemerintahan Ngo Dinh Diem terhadap umat Buddha. Protes terhadap kesemena-menaan pemerintah di masa itu sudah berkali-kali dilakukan tapi suara para biksu tak pernah didengar. Sungguh ironis, mengingat hampir 90% warga Vietnam beragama Buddha tapi pemerintah memaksa hendak meng-katolik-kan Vietnam.

Sebulan sebelum peristiwa itu, di hari ulang tahun Sang Buddha, umat Buddha berkumpul di Hue merayakan Phat Dan. Amarah Diem bangkit karena di perayaan tersebut bendera-bendera komunitas Buddha bebas berkibar – hal yang dilarang keras di pemerintahannya! – sebagai bagian selebrasi. Diem mengirimkan pasukan bersenjata untuk menghentikan kegiatan dengan menembaki kerumunan massa yang ada di sana bahkan mereka diseruduk dengan tank. Massacre! Banyak korban terluka, bahkan ada anak kecil yang meninggal! Walau sedikit terlambat menerima kabar tak mengenakkan itu karena sedang mengisolasi diri dan bertapa di gunung; Quang Duc bertindak cepat. Ia bergegas turun ke kota dan pergi ke kuil Xa Loi di Sai Gon. Sesuatu harus dilakukan untuk menyelamatkan umat.

Thich Quang Duc, the Burning Monk (doc. AP)

Di pagi yang pilu itu, Quang Duc berangkat dari Xa Loi. Kendaraan yang ditumpanginya diiringi mars ratusan biksu dan biksuni menuju pusat kota. Di perempatan jalan Nguyen Dinh Chieu dan Cach Mạng Thang Tam (dulunya Phan Dình Phùng Boulevard dan jalan Lê Văn Duyệt), Quang Duc duduk bersila mengambil sikap doa di atas sebuah bantal yang diletakkan di tengah jalan. Matanya dipejamkan sembari memutar-mutar mala di tangannya, merapalkan doa. Seorang biksu mendekat, menyiramkan bensin ke tubuhnya. Tak lama, ia memantikkan api dari korek yang telah disiapkan. Dalam sekejap api membakar tubuhnya hingga ia jatuh terkulai tanpa sedikit pun terdengar suara kesakitan keluar dari mulutnya. Quang Duc biksu senior yang sangat dihormati. Tak ada yang tahu pasti akan apa yang dipikirkan dan hendak dilakukannya. Tak ada yang bisa menghentikannya. Selanjutnya .. cerita itu bergulir lewat gambar-gambar dan berita yang berseliweran ke seluruh penjuru dunia. Quang Duc rela mati dengan membakar dirinya sendiri demi mengetuk hati Ngo Dinh Diem agar memberlakukan manusia sederajat dan keadilan serta kesetaraan beragama ditegakkan di Vietnam.

“Have you see the car parked at the backyard of Thien Mu Temple?”
“The Blue Austin? Itu kendaraan yang ditumpangi Quang Duc dari Xa Loi, kan?”

The Blue Austin

Obrolan kami terputus oleh kehadiran petugas gerbong restorasi yang mendorong brankar menawarkan makan malam. Meng Meng memesan Nasi Ayam yang isinya benar-benar hanya nasi putih dan sepotong ayam goreng tepung. Saya mengintip isinya karena Meng Meng menawarkan untuk makan berdua ketika melihat saya tak memesan makanan sama sekali. Walau belum lapar, saya pun mengeluarkan kantung kertas berisi Bakpao Isi Babi Cincang yang saya beli di Stasiun Da Nang sebelum naik kereta demi menghentikan “rayuan paksa” makan nasi pera dan ayam goreng alot melihat perjuangan Meng Meng memakannya.

“Olive, you are Christian, aren’t you?”
“I am. How do you know that .. ?”
“I see you praying before you eat your food.”

Uppsss .. kebiasaan itu memang tak pernah menghiraukan tempat 🙂 dan Meng Meng yang duduk tepat di samping saya menyambung, “Induk semang saya waktu di Amerika juga Kristen, jadi saya tahu dan biasa memperhatikan kebiasaan dan bagaimana mereka berdoa.” Dia melompat dari topik, teringat masa-masa dirinya mendapat kesempatan belajar ke Amerika. Tak lupa, dia membuka album di gawainya, menunjukkan bukti dirinya memang pernah tugas belajar ke Negeri Paman Sam.

Setelah empat jam kereta menjauh dari Da Nang, seorang petugas lain menghampiri Minh Hy. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Vietnam. Saat kereta berhenti sebentar di Stasiun Diêu Tri, Minh Hy bangkit dari duduknya dan mengambil gembolan dari atas tempat penyimpanan barang. Ia senang sekali bisa pindah tidur ke salah satu tempat tidur di gerbong kompartemen. Saya pun girang karena bisa segera tidur tanpa gangguan dengan menguasai dua bangku di 17 jam sisa perjalanan, Diêu Tri – Sai Gon. Sebelum beranjak, dia berpesan,”Kalau sempat, pergilah ke kuil Xa Loi. Lihat sendiri jantung Thich Quang Duc yang utuh di sana.” Meski sempat berjalan-jalan meluruskan tungkai kaki ke beberapa gerbong, saya tak pernah lagi bersua Meng Meng eh .. Minh Hy hingga kereta berhenti di Stasiun Sai Gon keesokan sorenya.

Thich Quang Duc Memorial

Hari terakhir di Sai Gon, Jamie, seorang kawan baik, mengajak motoran keliling kota. Saat berhenti di lampu merah Le Van Tam Park, taman yang sangat ingin saya kunjungi; Jamie menggagalkan niat itu. Ia tiba-tiba memutar motor hingga berbalik arah sambil berteriak,”I would like to show you something.” Dua minggu di Vietnam saya jadi terbiasa melihat pengendara motor yang seenaknya saja berhenti, berbelok, atau berputar arah. Ini kali kedua Jamie berputar sesuka hati di jalanan yang ramai, tak peduli saya teriak-teriak di belakangnya. Malah dengan santainya dia menyahut, “Tenang, pengendara lain tidak akan menabrak kita koq.

Di sebuah perempatan jalan yang sangat ramai, Jamie menaikkan motor ke atas trotoar dan berhenti tepat di bawah lampu merah, di pojok jalan. Saya turun dari motor.

“Look at your left side. Do you recognize that statue?”
Thich Quang Duc?”

Saya berdiri di depan tugu, melihat lurus ke patung Quang Duc yang ada di taman di seberang jalan. Sedang Jamie, mendekati altar di depan tugu, menyalakan hio sebelum kembali ke motor dengan senyum-senyum meninggalkan saya yang masih sedikit bingung, “Enjoy your time. Feel it .. what happen in this spot, today, back to 56 years ago.”

Thic Quang Duc Monument

Tugu dan patung Thich Quang Duc dalam jilatan api itu dibangun sebagai pengingat peristiwa kelu di 11 Juni 1963 pagi. Dan saya berdiri di sana tepat di 56 tahun lewat sepuluh hari dari peritiwa itu. Kalau kata Jamie, tugu itu adalah peristirahatan Quang Duc karena sebagian abunya disimpan di dalam sebelum disemen rapat-rapat agar tak ada yang mencurinya. Sebagian lagi disimpan di kuil tempatnya bertapa. Jantungnya yang tak terbakar, seperti cerita Minh Hy, disimpan di kuil Xa Loi. Sayang kami tak sempat ke sana karena Jamie malah mengajak saya ke kuil tertua di Sai Gon. Nantilah saat kembali ke Sai Gon, saya akan menagih janji Jamie untuk menemani ke Xa Loi.

Tak ada yang terjadi secara kebetulan. Di itinerary Vietnam, saya sama sekali tak berpikir tentang Thich Quang Duc, The Burning Monk yang gambarnya pernah saya lihat duluuuuu sekali di majalah dua mingguan berbahasa asing milik paman. Kadang, perjalanan mempertemukan kita dengan jiwa-jiwa lain yang rindu disapa. Saleum [oli3ve].

2 thoughts on “Thich Quang Duc Membakar Dirinya di Sai Gon

  1. Ah iya, Quang Duc memang lekat dengan sejarah Vietnam. Sekarang, Buddhism masih menjadi agama mayoritas di Vietnam ya, kak? (Setelah atheism, tentu)

    2 bulan di Palembang aku juga jadi hafal pengendara lalu lintas di sana, motor atau mobil, yang suka keluar gang atau belok tanpa lihat-lihat 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s