Cerita Pagi Itu di Jalan Lembang 58


Ketika membincangkan 30 September 1965, ingatan saya tak bisa lepas dari kenangan semasih kelas satu SMP. Bermula di satu siang, ketika Kepala Sekolah berkeliling ke setiap kelas membacakan surat edaran di tangannya yang mewajibkan semua siswa datang ke bioskop pada hari yang telah ditentukan. Mengunjungi bioskop pada masa itu adalah hal yang dihindari karena film – film yang diputar gambarnya aduhai. Tak baik untuk ditonton oleh anak – anak. Begitu selalu pesan dari orang – orang tua. Saya jadi terbiasa menonton film yang diputar di televisi atau menunggu layar tancap digelar di lapangan sepak bola di depan rumah. Meski begitu, pernah sekali, saya diajak ayah ibu ke bioskop menonton film Cinderella.

Tapi hari itu, menjadi hari yang berbeda. Semua sekolah WAJIB membawa siswanya ke bioskop sesuai dengan jadwal yang mereka terima. Ketika hari itu datang, berangkatlah kami sepulang sekolah ke Apollo. Bioskop berdinding kayu, tak jauh dari rumah. Setelah mengisi daftar hadir, kami boleh masuk, menempati bangku yang kosong menunggu pemutaran film … Pengkhianatan G30S/PKI. Sejam film diputar, kawan sebangku mengeluh perutnya berputar – putar melihat adegan berdarah – darah di layar. Ia mencoba tetap duduk, menonton dengan sesekali menutup mata. Pada bagian ketika Ahmad Yani jatuh tersungkur dan diseret keluar rumah, dia muntah.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Teras depan Museum Sasmitaloka Museum Ahmad Yani

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi

Peristiwa 30 September 1965 adalah goresan kelam sejarah Indonesia. Permainan intrik politik ketika sekelompok orang yang ingin berkuasa menyusun siasat – katanya – untuk mengamankan NKRI. Tujuan utama pergerakan yang mereka sebut Gerakan 30 September adalah menculik tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang mereka sebut sebagai anggota Dewan Jenderal untuk dibawa ke Lubang Buaya. Hidup atau mati!

Jumat dini hari di 1 Oktober 1965, Letnan Jenderal Ahmad Yani – Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) masa itu – gugur di rumahnya setelah tubuhnya diberondong peluru pasukan Tjakrabirawa yang datang menjemputnya pagi – pagi buta. Badannya yang berdarah – darah, diseret dan dilemparkan ke atas truk di pekarangan rumah. Momen itu, disaksikan anak – anaknya. Di Pengkhianatan G30S/PKI penggambarannya sedikit lebih manusiawi. Kejadian sebenarnya, kejam sekali!

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Potret Ahmad Yani dan Yayu Rulia Sutawiryo di ruang keluarga

Bertahun – tahun setelah acara menonton wajib itu – yang diikuti dengan menonton tayangan WAJIB selama bertahun – tahun di TVRI setiap 30 September; saya mengunjungi rumah Ahmad Yani. Rumah yang banyak menyimpan kisah lalu itu; berdiri di hook Jl. Latuharhary dan Jl. Lembang, kawasan Menteng, Jakarta. Saya sengaja mampir di satu siang sepulang dari Teuku Umar, usai bermain di Selasa Pagi bersama Adek.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Foto peristiwa 30 September 1965 dan proses pengangkatan korban di Lubang Buaya
sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Jejak peluru dan retakannya pada pintu penghubung ruang belakang dan rumah induk

Petugas yang berjaga mengingatkan untuk melepas sepatu sebelum masuk rumah. Ubinnya dingin. Kulit tapak kaki rasanya ditarik – tarik saat menginjaknya. Serupa menarik kembali ingatan kepada kawan yang perutnya pusing di bioskop ketika Lasma, kawan yang menemani bermain siang itu; melompat dan berteriak. “Iiih, kakiku diusap – usap.” Sepertinya ada yang mendapat sapaan selamat datang. Sapa yang biasa di tempat – tempat yang menyimpan cerita luka. Hanya kami berdua di ruangan itu. Berdiri berjarak, asik dengan pikiran masing – masing. Siapa yang mengusap kakinya? Saya senyum – senyum saja.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Kursi malas di samping bar yang biasa menjadi tempat bersantai Ahmad Yani

Ruang dan perabotan di rumah itu masih sama seperti dulu semasih ditinggali keluarga Ahmad Yani. Yang membedakan fungsi ruang di belakang, kini dijadikan ruang pamer dengan papan – papan berisi gambar – gambar kegiatan Ahmad Yani. Juga gambar – gambar peristiwa dini hari yang terjadi di rumah itu, di awal Oktober 55 tahun lalu.

Melewati selasar yang menghubungkan ruang belakang dengan rumah induk, ada yang merasa kakinya ditiup – ditiup. Di sini terjadi perdebatan kecil. Karena selasar itu dibatasi oleh jendela kaca berteralis yang juga berfungsi sebagai penerang ruangan, saya berpikir .. itu angiiiiin dari luar, Neng! Yang merasa kakinya ditiup membela diri, kalau angin pasti kibasannya terasa juga di bagian lain. Upsss.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Salah satu ruang tidur anak – anak

Retakan pada pintu kaca yang menghubungkan ruang belakang dengan ruang tengah, dibiarkan begitu saja. Saksi bisu yang melihat peluru berlarian menerabas tubuh Ahmad Yani. Tak jauh dari pintu, selangkah ke kanan; sebuah prasasti di lantai, menjadi penanda tempat gugurnya salah satu putera terbaik bangsa. Sebelum pintu kaca itu, sebuah kamar mandi yang bersisian dengan dapur berada di sisi kanan selasar. Kamar mandinya dilengkapi dengan bathtub dan pancuran.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi

Ruang tengah difungsikan sebagai ruang makan sekaligus ruang keluarga. Di sisi kiri terdapat bar, tempat biasa Ahmad Yani bersantai. Tiga kamar tidur – dua kamar anak untuk anak – anak dan satu kamar utama ditempati Ahmad Yani dan ibu – terletak di pojok kiri dengan pintu kamar Ahmad Yani berhadapan langsung dengan ujung kiri bar. Dinding setiap ruang dihiasi dengan potret anggota keluarga, kegiatan Ahmad Yani, juga potret enam perwira tinggi yang menjadi korban Gerakan 30 September: R.D. Soeprapto, M.T. Harjono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutojo Siswomi Hardjo, dan Pierre Tendean.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Tempat tidur Ahmad Yani
sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi
Catatan harian Ahmad Yani

Di salah satu kamar anak – anak, terdapat lemari kaca berisi koleksi boneka yang matanya tampak hidup. Adakah yag ingin bercerita kejadian dini hari itu? Tak ingin terjebak dengan pikiran yang berandai – andai, saya bergegas ke kamar Ahmad Yani. Kamarnya dilengkapi kamar mandi yang bathtub-nya berisi air. Serupa kamar mandi di rumah berpenghuni yang selalu siap untuk digunakan. Setiap hari bak itu harus terisi dengan air yang bersih.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september, pahlawan revolusi

Sebuah jejak retakan bercabang dari langit – langit pojok dinding kanan atas kamar Ahmad Yani dicat keemasan. Di bawahnya diberi tulisan Halilintar yang menyambar kamar Alm. Jend. A. Yani seminggu sebelum  pengangkatan beliau menjadi Menpangad.

Ada kisah yang mengalir dari mulut salah seorang penjaga yang menyusul ke kamar. Si mas penjaga – yang saya lupa menanyakan namanya – menjelaskan asal muasal retakan yang dipercaya sebagai pertanda. Karenanya titik itu ditandai dan kamar Ahmad Yani TAK BOLEH dipotret. “Nanti ada yang mengikuti mbak, sudah ada kejadian,” kata mas penjaga. Ketika sesuatu yang sebenarnya bisa dijelaskan dengan nalar kemudian disangkut – sangkutkan dengan sesuatu yang tak kasat; yaaa .. semua kembali ke penerimanya.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september
Ruang tamu

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani
Jl. Lembang No. 67
Menteng, Jakarta Pusat
Buka: Selasa – Minggu pk 08.00 – 10.00 (Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP)
HTM: GRATIS

Ruang tamu dan ruang tunggu menjadi bagian terakhir rumah yang ditengok. Dulu, setiap tamu yang hendak bertemu Ahmad Yani, WAJIB melapir ke petugas jaga yang mejanya ada di sisi kanan ruang tunggu. Sama dengan ruang – ruang yang lain, dinding kedua ruang ini pun dipenuhi dengan gambar dan lemari berisi buku koleksi Ahmad Yani.

sasmitaloka ahmad yani, museum ahmad yani, rumah ahmad yani, gerakan 30 september
Ruang ajudan

Setelah jasadnya diangkat dari sumur di Lubang Buaya, Ahmad Yani dimakamkan bersisian dengan R.D. Soeprapto, M.T. Harjono, S. Parman, dan Sutojo Siswomi Hardjo dengan upacara militer di Taman Makam Kalibata, Jakarta pada 5 September 1965. Ketujuh korban Gerakan 30 September itu kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Mengunjungi rumah Ahmad Yani di masa sekarang, tak sama semasa beliau masih ada dan tinggal di rumah itu. Rumah berikut isinya yang telah diserahkan keluarga kepada negara sejak 1 Oktober 1966 itu, telah beralih fungsi menjadi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani yang dikelola TNI Angkatan Darat. Setiap tamu yang datang, akan diarahkan untuk masuk melalui pintu samping. Pintu yang dilewati oleh Tjakrabirawa untuk masuk dan keluar ketika menculik Ahmad Yani. Dengan begitu, diharapkan pengunjung bisa memaknai kisah pagi itu yang terjadi di rumah ini berpuluh tahun lalu, saleum [oli3ve].

2 thoughts on “Cerita Pagi Itu di Jalan Lembang 58

Leave a Reply to BaRTZap Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s