My Son: Rindu yang Tak Tuntas


My Son menguatkanku mengambil keputusan mampir ke Hoi An dan melewatkan Da Nang. Sejak mendengar dan membaca kisah – kisah romantis tentangnya, aku merindukan waktu untuk menjumpai dirinya berdiri gagah menyambut mentari yang perlahan – lahan turun menyingkap selimut kabut dan memeluknya dengan hangat di lembah Hon Quap.

Terberkatilah pepohonan rindang yang memagari dan meneduhkan pekarangannmu. Terberkatilah akar – akar pepohonan yang mencengkeram kuat – kuat ke dalam tanahmu. Yang bersetia menyimpan air untuk My Son, menjadikan daerah aliran sungai Thu Bon tak pernah kering mengaliri penjuru negeri hingga bermuara di Hoi An sebelum mengalir lepas ke Laut Cina Selatan sedari berabad – abad lalu.

Aaaah … membayangkannya saja hati berdesir, bangkitkan hasrat tuk bersegera menemuimu, My Son.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Kemarin pagi – pagi, kutinggalkan Hue dengan kereta pertama menuju Da Nang sebelum melanjutkan perjalanan dengan bus kota berbau ikan asin ke Hoi An. Semakin dekat jarak padamu, namun belum juga kutentukan pilihan bagaimana cara mencapaimu. Kabar terakhir yang kuterima dari Hagar, narahubung Lady Biker –  operator perjalanan yang jasanya kugunakan di Hue – mengenai tarif sewa mobil sehari; membuat dompet mengkerut. Aku menghindari menyewa motor. Otot pantatku masih pegal setelah berkeliling dengan motor di Hue. Terlalu banyak hal yang harus kutimbang – timbang sebelum memutuskan (yang kupikir) pilihan terbaik saat itu.

Nguyen, salah satu karyawan di Ti Pi Hostel, tempatku menginap; menyarankan untuk naik bus yang disediakan oleh tur operator. Ongkosnya lebih murah dan sudah ditemani seorang pemandu. Nah, iniiii! Walau sebenarnya tak suka berjalan dalam kelompok yang ramai, tak ada salahnya kupertimbangkan sarannya. Aku tak ingin isi dompetku terkuras lebih cepat.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Malamnya, setelah menikmati purnama di pinggir Thu Bon, aku mampir ke sebuah gerai souvenir. Bukan untuk berbelanja oleh – oleh! Tapi mencari tiket perjalanan ke My Son pada perempuan yang duduk di sebuah meja kecil di dekat pintu masuk. Aku melihat paket perjalanan yang ditawarkannya tertulis besar – besar di dinding di belakangnya. Perempuan itu menanyakan apakah aku akan menjumpaimu di pagi atau menjelang matahari terbenam? Dia menjelaskan dengan bahasa campur aduk, mereka hanyalah perpanjangan tangan dari pengelola perjalanan. Jadi, dirinya harus bertanya dulu ketersediaan bangku sesuai jadwal yang kuinginkan.

Pk 21.30 saat itu. Jalan – jalan Hoi An yang tak lebar dipenuhi turis dan aku menabung harap untuk sebuah bangku ke My Son pk 08.00 esok hari. Pintar, sejak kapan kamu berjalan tanpa persiapan?

OK, one eighty, suara perempuan itu membuyarkan pikiranku yang asik berjalan – jalan sendiri dan mulai beradu. Tarif yang disodorkan lebih mahal dua puluh ribu dong dari selebaran yang ditunjukkan Nguyen di penginapan. Aku tak ingin mendebatnya. Kukeluarkan VND 180.000 dari dompet. Ia menyorongkan selembar tanda terima sebelum aku beranjak dari hadapannya. Tiga langkah keluar dari pintu, kutengok perempuan itu membereskan mejanya dan mematikan lampu di depan gerai. Terpujilah Tuhan.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Di sinilah aku pagi ini. Duduk menguasai dua bangku depan, di sisi kanan bus berpendingin dengan hiburan suara pemandu dari pelantang suara yang krasak – kresek. Busnya berkapasitas 40 bangku tapi yang ditempati tak sampai setengahnya. Baguslah. Aku lebih suka kawanan kecil.

My Son (dibaca mi’i song) adalah tempat suci umat Hindu yang dibangun pada akhir abad ke-4 hingga 13 Masehi semasa Kerajaan Campa menguasai wilayah tengah hingga selatan Vietnam. Duluuuuu sekali, ketika Campa berjaya, sungai Thu Bon selalu ramai dengan lalu lalang kapal dan Hoi An menjadi kota pelabuhan yang sibuk disinggahi para pedagang dan pejalan asing dari berbagai penjuru bumi.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

We’ll reach My Son in an hour. I will continue the story later. Enjoy your nap. Suara Mr. Yu, pemandu kami pagi itu – di kartu yang disodorkannya saat  mengenalkan diri tadi tertulis Mr. Funny, kenapa panggilannya jadi Mr Yu? – yang serupa orang berkumur – kumur mengakhiri ocehannya. Ia menamai kami, kelompoknya, My Son Team dan mengabsen penghuni bus dengan memanggil nama negaranya. Three ladies from Japan, a family from California USA, a young man from UK  🙂

Walau kurang tidur, mataku tak bisa diajak diam barang sebentar. Ia lebih tertarik dengan pergantian suasana yang berlarian di luar. Dari keriuhan pasar yang dijejali warga Hoi An yang tumpah ke jalan dan memaksa bus berjalan pelan – pelan meninggalkan kota, menyeberangi jembatan yang terentang di atas sungai lebar, lalu berganti sawah menghijau dengan latar gunung – gunung.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa
Susunan bata di dalam salah satu candi yang masih asli
my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa
Susunan bata pada candi hasil restorasi yang menyerupai aslinya

Teruslah berjalan karena hidup haruslah bergerak. Ijinkan waktu yang akan menguji sabarmu. Jika waktumu berhenti, selesai sudah! Kamu tak bisa memintanya kembali. Petuah seorang kawan ketika kuceritakan rinduku padamu melintas memutus lamunanku.

Hoi An tertinggal jauh di belakang. Bus mulai memasuki kampung Duy Tan. Dari jalan beraspal yang lebar, menyempit menjadi jalan tanah yang sedikit bergelombang di tepian hutan yang hanya cukup dilalui satu badan bus. Ranting – ranting pohon yang menjuntai, bergantian menowel – nowel badan bus yang melewatinya hingga mencapai tempat terbuka yang luas; lahan parkir. Pak supir memilih memarkir busnya di tempat teduh, di pekarangan kedai makan yang ada di sisi kanan lahan parkir itu.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Welcome to My Son, the heart of the Chams people.
My Son in local language means .. a beautiful mountain.

Suara Mr. Yu membangunkan penghuni bus yang tertidur. Mengingatkan (lagi) beberapa panduan demi memastikan setiap orang memahami aturan bermain selama berjalan bersama – sama. Aku bergegas turun, meluruskan kaki yang terlalu bersemangat untuk segera berjalan.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

+ Hi you, Indonesia, don’t go too far!
Kebelet bro, mau ke toilet sebentar

Mendengar kata toilet, yang lain menyusul berbaris seperti bebek di belakangku. Mr. Yu berhenti berteriak.

Adalah Sri Bhadravarman, Raja Campa pertama yang meletakkan dasar My Son, tempat suci yang didedikasikan untuk Siwa pada abad ke-4 Masehi. Bhadresvarasvami, semua yang ada di muka bumi bahkan hidupnya dipersembahkan untuk Siwa. Pada abad ke-6, seluruh bangunan awal yang terbuat dari kayu itu, habis dilalap api ketika kebakaran hebat melanda lembah My Son. Di masa pemerintahan Shambhunavarman, pada awal abad ke-7; My Son dibangun kembali dengan menggunakan batu bata yang disusun sedemikian rupa hingga merekat satu sama lain. Penataannya mengingatkanku pada susunan batu – batu juga relief yang ada pada Candi Sukuh dan Cetoh di  Karanganyar.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa
Nandishwara, kendaraan Siwa dan patung Siwa tanpa kepala

Dilihat dari desain arsitektur bangunannya, My Son dihiasi relief – relief yang melambangkan kebesaran dan kesucian gunung Meru – tempat yang dikeramatkan sebagai tempat bersemayam dewa – dewa Hindu di pusat alam semesta – dihadirkan di bumi oleh bangsa Campa. My Son, Kingdom of Linga Shiva! matamu akan terbiasa dengan banyaknya artefak lingga, yoni, dan patung Siwa di My Son.

Orang – orang Campa tak lahir di sini! Mereka juga bukan pemilik lahan di sini. Mereka pendatang. Mereka ke sini HANYA membangun tempat ibadah. Nenek moyangnya diyakini berasal dari Jawa – ada pula yang menyebutkan Borneo – salah satu pulau di Nusantara, negara yang kini dikenal sebagai Indonesia.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

My Son menjadi pusat spiritual Kerajaan Campa pun berkembang menjadi pusat kebudayaan Campa yang banyak dipengaruhi budaya India. Dari catatan pada prasasti yang ditemukan di sana, My Son juga  menjadi tempat peristirahatan para raja dan orang – orang hebat Campa hingga abad ke-13 Masehi. Sebagai tempat suci, My Son bukanlah tempat tinggal. Ia hanya didatangi oleh orang – orang Campa ketika hendak berdoa termasuk ketika ada penobatan raja baru, sang raja akan datang berdoa ke tempat ini.

Pada abad ke-12 ketika pamor Campa mulai menurun, keberadaan mereka yang sedari awal tak disukai oleh Vietnam menjadi alasan untuk mendorong – dorong orang Campa semakin terpojok ke selatan. Saking bencinya, sepeninggal Campa, My Son terbengkalai selama berabad – abad. Vietnam tak peduli. Prancis datang.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Dari hasil dokumentasi yang dilakukan oleh Henry Parmentier, arkeolog Prancis pada 1898, didapati 70 candi dengan banyak prasasti penting yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Campa. Henry juga mengelompokkan candi – candi tersebut sesuai dengan masanya dibangun (dan digunakan sebagai panduan konservasi sampai hari ini). Lalu perang Indocina disusul perang Vietnam pecah. Kegiatan penelitian pun terhenti. Amerika yang mencurigai My Son sebagai tempat persembunyian tentara Viet Cong, menghujaninya dengan bom. Selepas perang, para arkeolog Prancis kembali ke My Son dan menemukan HANYA 8 candi yang masih utuh. Yang lain sudah menjadi puing. Vietnam masih tak peduli!

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

UNESCO turun tangan menjadikannya situs cagar budaya pada 1999 dan menamai tempat ini My Son Sanctuary, merujuk pada nama tempatnya di My Son. Italia pun mengirimkan orang ahlinya. India yang mengetahuinya sebagai tempat suci Hindu, datang mengulurkan bantuan. Jepang pun turut memberikan bantuan dana. Master plan program konservasi dibuat demi menyelamatkan situs arkeologi yang tercatat sebagai tinggalan masa tertua di Indocina yang juga menggambarkan peradaban bangsa Asia Tenggara tertua di bidang spiritual dan politik.

My Son Sanctuary
My Sơn, Duy Xuyen, Quang Nam, Vietnam
HTM: VND 150.000
Jam Operasional pk 06.00 – 17.00

Hasilnya? My Son Sanctuary yang kini berada di wilayah propinsi Quang Nam, Vietnam bagian tengah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang diminati di Vietnam. Beberapa candi berhasil direstorasi dan dibangun baru sesuai aslinya. Butuh kejelian membedakan warna bata dan teknik perekatan yang digunakan oleh orang Campa dengan teknik modern yang menggunakan resin.Belakangan, pemerintah Vietnam pun mau tak mau ikut serta dalam program restorasi dan konservasi My Son.

Pelajaran penting yang perlu diingat baik – baik: jangan benci terlalu dalam pada sesuatu (atau seseorang) karena bisa jadi yang kamu benci adalah jalan Tuhan untuk memberkatimu!

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa
Salah satu candi hasil restorasi
my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa
Prasasti yang menunjukkan makam raja Campa

Panduan berkunjung My Son:

  • My Son dapat dijangkau 1 (satu) jam berkendara dari Hoi An. Saya memilih berjalan dari Hoi An karena lebih dekat juga sekalian mengeksplorasi kota tua Vietnam itu. Jika danamu cukup, baiknya sewalah kendaraan sendiri agar lebih leluasa mengatur waktu perjalanan. Bila ingin berhemat, ikutlah tur sehari yang banyak ditawarkan oleh tur operator.
  • Siapkan kaki untuk berjalan. Jarak dari tempat parkir ke situs cukup jauh. Tersedia electric shuttle untuk antar jemput dari dekat museum hingga tempat istirahat sebelum situs.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

  • Bawalah air minum yang cukup, sebotol air mineral ukuran 1.5 liter sepertinya masih kurang jika tubuhmu senang berkeringat ketika berkegiatan.
  • Jika diperlukan, pemandu lokal bisa kamu dapatkan di tempat peristirahatan sebelum berjalan ke situs. Kantornya ada di belakang area penjemputan electric shuttle.
  • Berjalanlah dengan memperhatikan marka di situs. Beberapa lokasi tak boleh diakses karena sedang dalam pengerjaan dan penelitian.

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

  • Ada 2 (dua) alternatif jalur pulang saat kembali ke Hoi An. Dengan bus seperti ketika datang ataukah turun di tengah jalan dan melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Thu Bon dengan perahu hingga pelabuhan Hoi An. Dengan perahu sampainya lebih lama karena kamu akan diajak mampir ke Tra Kieu, ibukota Campa dan jika masih ingin berjalan – jalan kamu bisa meminta mampir di kampung nelayan. Tempo hari saya memilih naik bus yang jalannya lebih cepat. Saya harus mengambil keril yang dititipkan di penginapan, menyempatkan makan siang sebelum mengejar kereta sore ke Sai Gon dengan naik bus berbau ikan asin ke Da Nang.

Kegiatan ekskavasi dan restorasi masih terus berjalan di My Son. Informasi kegiatan lalu hingga hari kini, dapat dilihat di Museum My Son, tak jauh dari tempat penjualan tiket. Minggu lalu, aku membaca berita yang dikabarkan salah satu media India, tim arkeolog India yang sedang melakukan ekskavasi di sana, baru – baru ini menemukan lingga Siwa dari abad ke-9 Masehi. Wowww!

my son sanctuary, the history of cham kingdom, jejak campa di Vietnam,sejarah kerajaan Campa

Perjalanan menujumu, My Son, mengajariku banyak sabar. Sabar mengatur rencana perjalanan, sabar menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkan mimpi, sabar menanti pagi datang  dan menunggu jemputan meski hati berdebar – debar karena waktu terus bergulir, termasuk harus sabar karena tak bisa ikut turun menjejak di ibukota Kerajaan Campa, Tra Kieu dan menyusuri sungai Thu Bon di akhir perjalanan. Tunggulah, aku pasti akan kembali My Son. Rinduku belum tuntas, saleum [oli3ve].

 

2 thoughts on “My Son: Rindu yang Tak Tuntas

  1. makasih ya mbak Olive, membaca berulang tak bosan. Naksir banget UNESCO World Heritage ini. Teman jalan pada nggak mau ya wis, mayan dapat UNESCO World Heritage Hoi An saja, padahal dekat ya huu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s