Surya, Mentari, dan Rembulan: Sebuah Resensi dari Sudut Pandang Anak Toraja

bas plaisier, buku tentang toraja, sejarah dan budaya toraja, sejarah sosial toraja, novel toraja

Meski tak pernah menargetkan hendak membaca berapa banyak buku dalam sebulan, tetap ada saja buku yang dibaca. Tuntas tidaknya, tergantung kebutuhan serta menarik tidaknya apa yang dibaca. Di 2019 lalu, saya lebih banyak menumpang baca buku di perpustakaan dan toko buku. Alasannya sederhana. Buku yang dicari adanya di perpustakaan, juga karena tak ingin menambah sesak rak buku.

bas plaisier, buku tentang toraja, sejarah dan budaya toraja, sejarah sosial toraja, novel toraja

Salah satu yang tidak selesai dibaca namun menarik untuk diulas adalah Surya, Mentari, dan Rembulan. Sili Suli, penulisnya, menghubungi saya lewat surat elektronik di minggu kedua November karena membaca Resensi Film dan Buku yang menurutnya baik dan menarik. Jadilah novel yang diluncurkan (ulang) di Ubud Writers & Readers Festival 2019 lalu ini, buku pertama yang diulas di awal 2020 setelah ulasan buku hiatus 3,5 tahun! 🙂

Surya penggembala kerbau di Kampung Waka’. Bersama Rombe, sahabatnya, ia menggembalakan kerbau Ne’ Bua’, orang yang disegani di kampung mereka di dataran tinggi Toraja, Napo, Lolai. Surya jatuh cinta pada Mentari, anak to minaa – pendeta aluk to dolo, kepercayaan nenek moyang Toraja – Kampung Waka’. Mentari memiliki seorang adik laki – laki bernama Mataallo yang dipersiapkan oleh Ne’ Ari, ayahnya, kelak akan menggantikannya sebagai to minaa.

Kehidupan di Kampung Waka’ berjalan baik – baik saja hingga kehadiran orang – orang dari luar kampung yang datang mencari buah tomendoyang karena tergiur isu tentang khasiat buah yang hanya tumbuh di puncak Napo itu; mengundang kegelisahan hati para tetua kampung. Demi mengembalikan ketenangan kampung dan melindungi buah langka tersebut, dibuatlah peraturan adat. Setiap pendatang dari luar Waka’ yang hendak bermalam di Gunung Napo, wajib menjalani tes ketulusan dan kejujuran; memetik buah tomendoyang. Mereka yang datang ke Waka’ dengan niat baik, dengan mudah akan mendapatkan buah tomendoyang. Sedang yang punya niat jahat, tentu saja tak akan mendapatkan buah itu.

Konflik muncul dipicu kekecewaan Tangke Bunna’, tengkulak kopi dari Pasar Kalambe yang datang ke Kampung Waka’ bersama Rob Jasen dari Belanda dan Ropu Hamid, pedagang kopi dari Luwu. Mereka bertiga sama sekali tak mendapati buah tomendoyang. Sakit hati Tangke Bunna’ dilampiaskan kepada Ne’ Ari’ sebagai penanggung jawab peraturan adat. Tangke Bunna’ menyewa komplotan Koja Lango’ menculik Mataallo.

Untuk mencari dan menyelamatkan Mataallo, dibentuklah Elang Napo yang personilnya terdiri dari pemuda Toraja tangguh: Surya, Yosua, Salla, Rombe, Botting, dan Sartje yang dipilih langsung oleh Ne’ Bua’ untuk menjalankan misi pencarian Mataallo. Perjalanan dilakukan dari Kampung Waka’, turun ke Rantepao lanjut ke Parepare lalu menyeberang ke Jawa bahkan sampai ke Nepal.

Surya Mentari dan Rembulan, novel tentang Toraja, sejarah budaya Toraja, buku tentang budaya Toraja

Surya, Mentari, dan Rembulan bercerita tentang tujuh bulan (13 Oktober 1884 –  21 Mei 1885) kehidupan Surya Sanggola Limbong, pemuda Toraja yang melakukan perjalanan sebagai pemimpin ekspedisi Elang Napo untuk mencari pemuda Toraja lainnya yang diculik dari kampungnya dan menyelamatkannya dari mata rantai perbudakan pada abad 19. Menarik, karena ceritanya disangkutkan (bahkan beririsan) dengan sejarah dan budaya di beberapa tempat – khususnya Toraja dan Yogyakarta – pada masa itu. Kehadiran Mentari Tiku Parinding dan Raden Roro Endah Ayuning Rembulan, dua perempuan yang memikat hati Surya, tentu saja melengkapi jalinan cerita yang dirangkai dengan bahasa sederhana.

Sebelum mulai membaca, saya menaruh harap banyak – banyak akan menjumpai kejutan – kejutan menyenangkan dari kisah di dalam buku ini, terlebih ketika mendapati catatan penulis tentang buku – buku yang dijadikan referensi untuk memperkaya informasi sejarah dan budaya Toraja yang dituangkan dalam novelnya; bukanlah buku biasa. Ada Sejarah Sosial Tana Toraja-nya Terance W. Bigalke dan Menjembatani Jurang, Menembus Batas-nya Dr. Bas Plaisier. Kejutan itu saya dapatkan sejak membaca bab pertama yang membuat saya harus menurunkan kadar ekspektasi yang ketinggian lalu kehilangan mood dan menghentikan melahap isi buku – sisa ceritanya saya skimming – pada perjalanan awal Surya di Yogyakarta karena terganggu dengan:

01 – Pemilihan dan Pemakaian Kata yang Tak Sesuai Era
Bagian pertama cerita diberi judul Berawal dari Hoaks, di bawahnya tertera 13 Oktober 1884. Bagaimana bisa kata hoaks dimunculkan di pertemuan tetua adat Toraja di Kampung Waka’ pada abad 19? Meski istilah hoaks sudah ada sedari awal abad 19, namun kata tersebut tidaklah familiar di lidah orang Toraja pada jaman itu. Demikian juga dengan kata KNIL, antek – antek kompeni, cie – cie, dan panggilan ibu guru yang ditujukan kepada Mentari yang membuka kelas bahasa Melayu untuk pemuda di Waka’.

Militer Belanda baru menginjak Toraja di 1905. Walau pun Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) – tentara kerajaan Belanda – garda depan Belanda untuk menguasai Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sudah terbentuk sejak 1814, tapi istilah KNIL sendiri baru populer pada 1930an. Kenapa tidak menggunakan sebutan lokal to Balanda atau to mabusa ulunna?

Kata guru dikenal oleh orang Toraja setelah para misionaris/zending masuk ke Toraja pada 1913 dan mulai mendirikan sekolah – sekolah Injil dengan menempatkan seorang guru Injil di sana sebagai upaya untuk membawa kabar baik di wilayah Toraja. Guru Injil ini didatangkan dari Makassar, Maluku, Manado, dan Sangir; selain sebagai pekabar Injil mereka juga mengajarkan dasar – dasar ilmu bumi dan bahasa Melayu. Di keseharian mereka dipanggil tuan guru – tongguru dalam pelafalan lidah Toraja. Salah satu perubahan yang tampak dengan kehadiran misionaris ini adalah munculnya nama – nama alkitab seperti Yosua, Sartje dan lain – lain yang disematkan di depan nama orang Toraja yang dibaptis dan menjadi Kristen di abad 20.

Surya Mentari dan Rembulan, novel tentang Toraja, sejarah budaya Toraja, buku tentang budaya Toraja

Jadi, janggal rasanya mendapati penamaan karakter khususnya untuk generasi muda dalam Surya, Mentari, dan Rembulan yang tak relevan dengan masanya. Termasuk dimunculkannya sosok Vukar Lodak dan Putut Agus sebagai bagian dari sekumpulan seniman terkenal yang membacakan puisi di depan NV Grand Hotel de Djogja – hotel yang dibangun pada awal 1900, terakhir dikenal sebagai Hotel Toegoe. Bahkan saya merasa lucu menemukan nama Sincan disematkan pada seekor kuda yang ditunggangi rombongan Surya untuk sampai ke Yogyakarta pun kerbau aduan di acara ma’pasilaga tedong saat upacara rambu solo’ Ne’ Suppu di Singki’ memiliki nama – nama keren.

02 – Penggambaran Tempat dan Peristiwa
Pemetaan wilayah Toraja secara administratif mulai dilakukan pada masa kolonial, sekitar 1905 – 1906 setelah Belanda datang dengan mengacu pada catatan – catatan kecil yang dibuat oleh James Brooke ketika melakukan petualangan di Celebes (sekarang Sulawesi). Namun, di Surya, Mentari, dan Rembulan; penulis menyebutkan nama Bodepa, akronim 3 (tiga) kampung di Toraja Utara: Bori’, Dende’, dan Parinding padahal penyingkatan nama – nama kampung baru bermunculan di Toraja di jelang akhir abad 20.

Nama tempat lain seperti Sawitto dan Pinrang yang rancu – bagi yang awam mungkin tak akan mempermasalahkan tentang ini. Ketika menceritakan pengalaman Mentari berobat ke Tabib Istu, penulis memakai nama Pinrang demikian juga ketika Surya dan Elang Napo memulai perjalanan disebutkan salah satu tempat yang mereka mampiri adalah Pinrang. Tetapi saat menguraikan pengalaman Ne’ Bua’, penulis memilih menggunakan nama Sawitto. Tidak diberi catatan kaki bahwa Sawiitto adalah kerajaan yang dulu berkuasa di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Pinrang. Meski usia Ne’ Bua’ dan Mentari terpaut jauh, dalam cerita ini mereka dipertemukan di masa yang sama. Pun ketika menggambarkan pakaian yang dikenakan oleh seorang perempuan yang dijumpai Surya di rumah Tabib Istu, penulis menyebutkan perempuan itu mengenakan gamis dan kerudung putih. Mendapati kata gamis, imajinasi saya serta merta berkeliaran membayangkan pakaian longgar warna – warni yang dikenakan perempuan muslim di masa kini.

Pula diceritakan di pertemuan adat pertama yang diadakan pada 1881, para tetua adat menyepakati gerakan Ma’dong Mamali’, ajakan pulang kampung bagi warga Waka’ yang telah berhasil di perantauan. Ada berapa banyak penduduk Toraja pada tahun tersebut yang merantau?, berapa banyak yang tinggal di kampung? Ma’dong Mamali’ terinspirasi dari gerakan Toraya Mamali’ – sekarang lebih dikenal sebagai bagian dari Festival Budaya Lovely Toraja, pernah pula disebut Lovely Desember – gerakan yang digagas anak – anak muda Toraja pada 2006 untuk mendongkrak angka kunjungan wisata ke Toraja.

Saat transit di Semarang, penulis menceritakan bahwa Surya dan kawan – kawan sempat mampir ke Bale Kambang menemani mas Yadi yang menemui kakaknya, Sentianova, juru masak di rumah keluarga Oei Tjie Sien. Satu bab ringkas tentang Semarang Tempo Doeloe ini menurut saya hanya jadi bagian “penggemukan” cerita ketika Surya dan Elang Napo turun dari kapal di Tanjung Mas, Semarang pada 22 November 1884. Bila tak salah mengingat, nama Tanjung Mas (kadang disebut juga Tanjung Emas) baru disematkan ke salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia itu ketika pengembangannya diresmikan Soeharto pada awal 1980an. Sebelumnya menggunakan nama Pelabuhan Semarang.

Kalau saja penulis membatasi lokasi penceritaan dalam mengisahkan perjalanan Surya dengan menggali lebih dalam kultur dan kehidupan sosial Toraja pada abad 19 tanpa harus pergi jauh – jauh, saya yakin Surya, Mentari, dan Rembulan dapat disebut sebagai Novel Toraja yang menarik di jaman milenial.

03 – Kuliner
Membincangkan budaya suatu daerah, tentulah kuliner menjadi salah satu topik yang menarik untuk diceritakan. Namun kehadiran rendang yang disampaikan lewat petuah Ne’ Bua’, menu telur asin di warung makan serta kemewahan bekal perjalanan Surya dan Elang Napo berupa pa’piong ikan dan ayam goreng terlampau cepat dimunculkan. Orang – orang Toraja yang melakukan perjalanan di awal abad 20 bekalnya masih ubi/ketela/jagung rebus kok.

Surya Mentari dan Rembulan, novel tentang Toraja, sejarah budaya Toraja, buku tentang budaya Toraja

04 – Tipografi dan Kealpaan Tata Bahasa
Buku yang saya terima, cetakan kedua. Artinya, kesalahan – kesalahan di cetakan pertama seharusnya sudah diperbaiki. Sayangnya, saya masih menjumpai typo. Paling banyak, hilangnya tanda baca yang bahkan sudah dilakukan dan tampak dengan jelas pada penulisan judul. Sekilas, yang tak detail melihat akan merasa biasa saja, tapi coba diperhatikan dengan saksama ada yang hilang di sana.

Ketika mencoba mengecek yang terlibat dalam lahirnya Surya, Mentari, dan Rembulan; saya tak menemukan proof reader ataupun penyunting selain penata aksara. Apakah fungsinya disamakan ataukah penulis merangkap sebagai penyunting bukunya?

05 – Simpulan
Terlepas dari catatan – catatan di atas, saya menjumpai banyak pesan moral yang dituangkan penulis yang bisa dipetik dari Surya, Mentari, dan Rembulan. Petuah tentang kasih, kesetiaan, pengorbanan, persahabatan, tolong menolong, harga menghargai, dan bersosialisasi dalam masyarakat majemuk yang seharusya terus dipelihara untuk menjaga harmonisasi di negeri ini.

Setelah mengulas panjang – panjang, harapan saya, jika nanti penulis berencana untuk mengeluarkan cetakan ketiga Surya, Mentari, dan Rembulan; para pembaca tak akan menjumpai lagi typo dan tata bahasanya pun menjadi lebih baik. Mengenai masa yang dipilih sebagai waktu terjadinya cerita, saran saya, hilangkan saja angka tahun yang dicantumkan pada setiap bab.

Saat hendak mengakhiri ulasan ini, pikiran saya mendadak menebak – nebak kalau Surya Sanggola Limbong adalah nama asli penulis Surya, Mentari, dan Rembulan. Bukankah Sili Suli akronim dari Surya Limbong dan Sanggola disematkan penulis pada nama salah seorang anaknya? Artinya .. mas Suli orang Toraja, kan? Tabe’ panggaa 🙂

Bacaan adalah sumber informasi dan pengetahuan. Jika yang kita baca isinya sedikit melenceng, akan melenceng pulalah pengetahuan yang kita dapatkan; terlebih lagi bila pembacanya enggan untuk menggali informasi lebih dalam dan main telan saja. Saleum [olive].

2 thoughts on “Surya, Mentari, dan Rembulan: Sebuah Resensi dari Sudut Pandang Anak Toraja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s