Tags

, , , , ,


Apa yang akan kamu lakukan pertama kali saat menginjakkan kaki di Vietnam? Hati perempuan itu bertanya – tanya ketika pikirannya sedang kusut memikirkan rencana perjalanan yang diundur – undurnya sejak akhir tahun lalu. Hari itu sudah menjelang akhir bulan kelima, dan dia belum juga mengambil keputusan kapan akan memulai perjalanan yang seharusnya dilakukan pada akhir April itu. Menjumpai Bac Ho! Jawab perempuan itu santai. Matanya tak lepas dari layar laptop yang terbuka di hadapannya.

+ Hmm .. Baaa .. Back who? Hatinya terus saja mencecar pikirannya.
– Bac Ho, B-A-C H-O
+ Sahabat pena atau kenalan yang namanya dipilih acak dari milis?
– Ugh .. ada deh

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Kadang, obrolan – obrolan ringan antara pikiran dan hatinya memunculkan perdebatan sengit dalam diri perempuan itu. Ketika pikirannya menimbang – nimbang satu hal dan hatinya mulai was – was, atau hanya lantaran keinginan hatinya sering tak sejalan dengan akal sehat  (menurut pendapat orang – orang di dekatnya), dirinya acap dicap tak waras oleh mereka yang mengklaim dirinya waras.

Seminggu setelah perdebatan itu, di Sabtu kedua bulan keenam, perempuan itu tampak berdiri di tengah – tengah antrean warga di sisi belakang lapangan Ba Dinh. Ia berhasil meyakinkan hatinya, beralasan ke Sai Gon dengan memulai perjalanan dari Hanoi. Hari itu ia sengaja datang pagi – pagi agar berkesempatan masuk lebih awal. Tapi ternyata ketika dirinya tiba di sana pk 07.00; antrean sudah mengular di pedestrian sementara waktu pertemuan paling pagi dengan Bac Ho baru dibuka pk 08.00. Tak mengapa datang lebih pagi, toh dia bisa berbincang dengan orang – orang di sekelilingnya.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Tentang Bac Ho di salah satu ruang rumah yang didiami pada 1954 – 1958

Pagi itu ia bersua dengan Nguyen, lelaki baik hati yang jauh – jauh datang dari Da Nang, Vietnam bagian tengah bersama keluarganya. Nguyen pagi itu mengenakan setelan kemeja putih lengan panjang, celana katun berwarna hitam yang licin, dan sepatu kulit hitam mengkilap. Di lehernya ia mengalungkan kamera DSLR, strap-nya berwarna hitam tampak masih baru dengan tulisan berwarna kuning yang menonjol, Nikon.

+ We can take picture inside. Seperti membaca sorot matanya yang penuh tanya, Nguyen mencoba meyakinkannya meski ia tampak masih canggung memegang kamera barunya.
– Hmm .. are you sure?
+ Ya, that’s why i bring my camera
– OK baeklah .. we’ll see

Perempuan itu bersyukur di perjalanan kali ini membawa selembar kemeja flanel kotak – kotak kebanggaannya untuk dikenakan pagi itu. Beruntung pula semalam dia menyempatkan mampir ke lapangan Ba Dinh sehingga memerhatikan tata cara menjumpai Bac Ho dan tak datang dengan kaos kesenangan dan celana hijau lorengnya yang kependekan.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Kebanggaan seorang ayah, mengabadikan anaknya dengan mobil Bac Ho

Melihat dirinya diomeli lelaki berseragam hijau dengan bahasa kumur – kumur karena tampak serupa orang bingung melihat manusia yang tumpah di jalan pagi itu, Nguyen mengajaknya mengantre di barisan keluarganya. Ia pun masuk ke barisan di sisi pagar dari dua lajur barisan panjang yang terentang dari depan gerbang masuk hingga satu kilometer di belakangnya. Ia memerhatikan wajah – wajah dan tutur mereka yang ada di barisan itu semua serupa dengan Nguyen, orang Vietnam! Matanya baru menangkap satu dua pejalan asing melangkah ke barisan paling belakang saat mereka mulai diijinkan untuk berjalan mendekati pintu masuk.

Dari Nguyen ia mendapat informasi bahwa orang – orang yang mengantre pagi itu datang dari beberapa kota di luar Hanoi – dari utara, tengah, dan selatan Vietnam – datang berombongan dengan menyewa bus. Tujuan mereka satu, menautkan rindu dan memanjatkan doa – doa untuk lelaki kesayangan yang disegani warga Vietnam; Nguyen Sinh Cung, lelaki yang diakrabinya dengan sapaan Bac Ho.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Ruang kerja Bac Ho di rumah yang ditempati 1954 – 1958

Bergetar hati perempuan itu mendengar cerita Nguyen, betapa cinta dan kagum telah menyertai langkah mereka datang jauh – jauh ke lapangan Ba Dinh. Dalam hatinya perempuan itu menggumam sendiri, aku paham sekarang kenapa engkau sangat ingin bersua Bac Ho.

Nguyen Sinh Cung lahir di Kim Lien, Nam Dan, Propinsi Nge An, Vietnam bagian tengah pada 19 Mei 1890. Ayahnya seorang guru, lulusan seni yang menyelesaikan ujian doktoralnya di bawah bimbingan guru Confusius. Sedang ibunya, anak perempuan dari bapak angkat juga guru ayahnya; adalah ibu rumah tangga serupa perempuan Vietnam pada umumnya yang giat menenun sutera dan menggunakan waktu luangnya bekerja di ladang untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur keluarganya. Di usia 10 tahun, ayahnya mengganti nama Nguyen Sinh Cung menjadi Nguyen Tat Thanh seturut tradisi Vietnam.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Dapat salam dari Bac Ho  🙂

Sewaktu ayahnya pindah tugas ke Hue, Nguyen Tat Thanh yang sedari kecil belajar private dari sang ayah; didaftarkan ke Quoc Hoc – sekarang Hue National High School – sekolah menengah khusus untuk anak – anak keluarga kerajaan dan keturunan bangsawan. Nguyen Tat Thanh tak suka dengan Prancis yang berkuasa di negerinya. Selesai dari Quoc Hoc ia meminta ijin kepada ayahnya untuk turun ke selatan, keluar masuk beberapa sekolah, mencari sesuatu yang tak jua didapatnya hingga ia memutuskan pergi jauh dari negerinya dengan menjadi juru bantu di bagian dapur di kapal Prancis.

Ia pernah tinggal dan bekerja di London sebelum pindah ke Paris dan menjadi salah satu tokoh pendiri Partai Komunis Prancis. Di Paris, ia mulai belajar dan banyak menulis dengan mengganti namanya menjadi Nguyen Ai Quoc (Nguyen the Patriot) yang gencar melakukan pergerakan melawan kolonialisme Prancis di Vietnam. Tak banyak yang tahu dirinya seorang jurnalis dan pujangga yang menguasai bahasa Prancis, Inggris, Kanton, dan Rusia selain bahasa ibunya. Tulisan – tulisannya mendengungkan anti kolonialisme.

patung lenin di hanoi, ho chi minh, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Dengan membaca sejarah Vietnam, akan paham kenapa patung Lenin yang berdiri di dekat Ba Dinh Square bukan Stalin

Tiga tahun di Paris, ia pun pindah ke Moskow dan menimba ilmu serta mencari pengalaman di Comintern, organisasi internasional dari Rusia yang bertujuan menyebarkan paham komunisme di seluruh dunia. Dari sana ia turun ke Tiongkok dan tinggal di sana beberapa tahun mengumpulkan amunisi untuk melakukan perlawanan terhadap Prancis sebelum pulang ke Vietnam memperjuangkan kebebasan negaranya.

Di Tiongkok Bac Ho dikejar – kejar Prancis, beberapa kali ditangkap, masuk penjara, ketika bebas ia bergerak lagi tanpa lelah. Ia pun menyempatkan kembali ke Moskow dan belajar di Institut Lenin bahkan mengajar di sana. Saat kembali ke Vietnam, ia mengganti namanya menjadi Ho Chi Minh (the brighter light of Ho), nama yang melekat hingga akhir hayatnya dan dikenal sampai detik ini. Oleh pemujanya ia diakrab disapa dengan panggilan Bac Ho atau Paman Ho.

View this post on Instagram

We are foreigners and strangers in Your sight, as were all our ancestors. Our days on earth are like a shadow, without hope – [1 Chron. 29:15] . Hal pertama yg ingin dilakukan sesampai di Hanoi Jumat lalu adalah menjumpai Paman Ho. Sayangnya Paman Ho tidak menerima tamu di hari Jumat. Jadi, Sabtu pagi – pagi saya sudah berdiri di tengah antrean pemuja Paman Ho yg datang dari berbagai kota tetangga Hanoi. Paman Ho, lelaki kesayangan dan sangat dihormati warga Vietnam. . Tepat pk 07.30 antrean 2 lajur yg sudah mengular itu diberi ijin untuk bergerak. Semakin dekat ke tempat Paman Ho menunggu, debaran jantung makin kencang. Rasanya serupa hendak bertemu yg dirindukan. . Pada bangunan di sisi belakang itu, setelah melewati dua penjaga yg berdiri di kiri kanan pintu masuk, kami berbelok ke kiri, menapaki 33 anak tangga untuk mencapai pintu kamar Paman Ho yg sejuk. Lelaki itu tampak berbaring di dalam ruang kaca. Bintang dan arit terpatri di dinding di atas kepalanya. Empat orang tentara berseragam putih siaga di samping pembaringannya. Mereka berdiri di kiri kanan bagian depan dan belakang. . Saat langkah tepat di depannya, saya menatap lekat – lekat lelaki yang meninggal karena serangan jantung pada 8 September 1969 itu. Dengan menaruh tangan kanan di dada saya menyampaikan salam hormat pada lelaki yang tersenyum di tidur panjangnya. . Selamat berakhir pekan. Abaikan muka jutek yg awas melirik kamera dikerubuti warga Vietnam. Mungkin heran melihat ada yg usaha motret sendiri 😉 . . #TukangKuburanStory #tourismvietnam #museum #mausoleum #hochiminh #badinhsquare #hanoi #vietnam #selfportrait #canon #TukangKuburan #thebiblesays #quoteoftheday

A post shared by Olive Bendon (@olive_ssb) on

Pikirannya berhenti meracau, suara lelaki berseragam putih yang terdengar membentak – bentak dan memberi tanda pada barisan di depannya agar berjalan cepat – cepat dan tak merekam gambar, membuatnya tersadar. Perempuan itu keluar dari barisan, ia menghampiri loket penitipan kamera. Diserahkannya tas merah yang ditentengnya dari gerbang depan. Dari lelaki yang bertugas di dalam loket, ia mendapatkan nomor bukti penyimpanan dan diberitahu untuk mengambil tas merahnya di loket yang ada di samping kamar Bac Ho.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Rumah panggung Bac Ho kamarnya hanya dua: ruangan kerja dan ruang tidur.

Pada 2 September 1969 pagi, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Vietnam Utara yang dideklarasikannya 24 tahun sebelumnya di Lapangan Ba Dinh; Bac Ho menghembuskan napasnya yang terakhir di kamarnya, di rumah panggung yang ditinggalinya di belakang istana presiden. Semasa menjadi presiden, Bac Ho tak mau tinggal di istana. Ia memilih tinggal di rumah kecil di samping istana sebelum membangun rumah panggung sederhana di seberangnya. Rumah tempatnya bekerja, menerima tamu, dan beristirahat.

Semenjak badannya tak sehat, ia telah meminta agar jasadnya dikremasikan dan abunya disebar di utara, tengah, hingga selatan Vietnam agar dirinya senantiasa hadir di setiap jengkal tanah negerinya. Namun pemerintah Vietnam Utara kala itu, melakukan yang berbeda. Jasad Bac Ho dibalsem, ditempatkan di dalam peti kaca lalu disemayamkan di dalam mausoleum, bangunan yang dibuat dari batu granit pada 1973 – 1975. Dengan cara seperti itu, setiap orang yang rindu padanya dapat menjumpai Bac Ho di Mausoleum Ho Chi Minh yang dibuka untuk dikunjungi publik sejak Agustus 1975.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Tepat di atas kepala mas penjaga ini kamar Bac Ho, tempat ia beranjak ke tidur panjangnya

Semakin dekat ke pintu tempat Bac Ho beristirahat, semakin kencang debaran jantungnya. Rasanya serupa menahan rindu yang siap tumpah setelah bertahun – tahun tak bersua kekasih jiwanya. Ia mengayun langkahnya pelan – pelan, memberi jarak pada perempuan di depannya. Berharap di dalam nanti ia memiliki kesempatan lebih lama sepersekian detik dari waktu satu menit yang diberikan kepada setiap pengunjung untuk menjumpai Bac Ho.

Ia memerhatikan di depan mausoleum petugas berseragam putih – putih berdiri rapat – rapat, ada dua orang di setiap sudut yang mengawasi gerak – gerik pengunjung. Ia menghela napas perlahan, melewati dua penjaga yang bergeming di depan pintu, lalu berbelok ke kiri mengikuti arus antrean. Hawa sejuk dari ruangan itu menerpa tubuhnya, tepat saat kakinya menyentuh ujung anak tangga. Makin dalam ia melangkah, hawa dingin ruangan itu semakin terasa. Tak ada suara yang terdengar selain gemuruh napas pengunjung yang mendaki anak tangga menuju kamar Bac Ho. Di hatinya ia menghitung 33 anak tangga yang ditapaki hingga tubuhnya menggapai pintu terakhir yang harus dilalui untuk berjumpa Bac Ho.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Lapangan Ba Dinh di waktu malam

Hatinya berdebar – debar. Dimasukinya ruang yang temaram. Dilihatnya lelaki itu terbaring dalam ruang kaca. Bintang dan palu+arit terpatri di dinding di belakang kepalanya. Empat lelaki berseragam putih bersiaga di samping pembaringannya, berdiri di kiri kanannya, di bagian depan dan belakang. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk. Ada sesuatu yang dirasakannya menyentuh tubuhnya.

Tepat saat berhadapan dengan Bac Ho, perempuan itu buru – buru meletakkan tangan kanannya di dada, menundukkan kepala, lalu hatinya merapalkan sebait doa. Penglihatannya mendadak buram, matanya memanas. Ada genangan air yang dirasakannya mendesak – desak hendak turun. HHhggggg … ditariknya napas dalam – dalam, memutar badannya, dan kembali melangkah mengikuti barisan di depannya sebelum dipelototi petugas yang berjaga di dekat pintu keluar.

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Patung Bac Ho di depan Saigon City Hall (dikenal juga dengan Ho Chi Minh City Hall)

Pada 2 Juli 1976 Vietnam Utara dan Selatan melebur menjadi Republik Sosialis Vietnam sesuai harapan dan perjuangan Bac Ho semasa hidupnya. Untuk mengenang jasa bapak revolusioner dan visioner Vietnam itu, Saigon yang sebelumnya ibukota negara Vietnam Selatan berganti nama menjadi Ho Chi Minh.

Mausoleum Ho Chi Minh
8 Hung Vuong, Dien Bien, Ba Dinh, Hanoi
Jam Operasional: pk 08.00 – 10.30 (Senin – Kamis), pk 07.30 – 11.00 (Sabtu, Minggu)
TUTUP setiap Jumat dan Oktober – November 2019 (setiap tahun periodenya berbeda tergantung jadwal perawatan)
HTM: GRATIS

ho chi minh, uncle ho, bac ho, paman ho, kuburan ho chi minh, mausoleum ho chi minh

Semua tentang Bac Ho, bacaan menyenangkan yang mengitari pedestrian Saigon (Ho Chi Minh) yang dipasang untuk memperingati hari ulang tahun Bac Ho

Di pintu keluar perempuan itu mengusap air yang menumpuk di ujung matanya. Dirinya tak percaya, ia baru saja menjumpai Bac Ho. Di matanya masih terbayang – bayang, mata teduh lelaki yang tersenyum dalam tidur panjangnya. Hati dan pikirannya berekonsiliasi, berterima kasih pada Semesta yang telah merestui langkahnya ke negeri ini serta memohon ijin untuk meneruskan menyusuri jengkal demi jengkal jejak lalunya, dari utara turun ke tengah hingga sampai di selatan, saleum [oli3ve].

Yang iseng dibolak – balik:

  • Ho Chi Minh on Revolution: Selected Writings 1920 – 66, Bernard B.Fall & Ho Chi Minh, Signet, 1967
  • Ho Chi Minh: A Political Biography, Jean Lacouture, Random House, Inc, 1968

 

Advertisements