Tags

, , , , , ,


Apa yang kamu harapkan dari sebuah film yang diadaptasi dari buku karya sastrawan besar yang menuai banyak hujatan ketika rumah produksi yang akan menggarap film tersebut menentukan aktor yang akan menjadi tokoh utamanya? Sebuah film yang hadirkan kontroversi antara netizen garis keras pecinta buku sastra karya Pramoedya Ananta Toer (Pram) dan penggemar Iqbal, salah satu bintang utama film tersebut di media sosial sebelum film diproduksi? Apa yang ada di pikiranmu tentang Bumi Manusia, film yang gala premier-nya sangat wah, mengalahkan ajang festival film terbesar di Indonesia, FFI!?

poster film bumi manusia, review film bumi manusia, pemeran film bumi manusia, pramoedya ananta toer

Ulasan ini dibuat berdasarkan pengamatan seorang pembaca buku Pram yang membebaskan pikiran dari isi buku Bumi Manusia yang sudah dilahapnya bertahun – tahun lalu sebelum melangkah ke dalam studio. Tak mudah, tapi cara itulah yang harus dilakukan agar bisa melihat dan menangkap pesan – pesan penggarap film yang bertajuk sama dengan bukunya, Bumi Manusia.

Mari kita mulai dengan mengamati poster film yang dirilis Falcon Pictures, rumah produksi yang menggarap Bumi Manusia pada 19 Juni 2019 lalu. Poster yang terpampang penuh di layar studio dua Epicentrum XXI. Poster salah satu media komunikasi berisi gambar dan tulisan yang digunakan oleh produsen sebagai bagian dari strategi pemasaran produknya. Lewat poster film, rumah produksi berusaha untuk menarik perhatian calon penonton yang sesuai dengan target pasarnya melalui gambar sesuai yang ada di film.

Pada poster Bumi Manusia, terlihat ada 3 (tiga) tokoh utamanya. Mereka yang gambarnya dipajang lebih besar dari gambar lainnya. Di sana ada Iqbal Ramadhan, Mawar de Jongh, dan Sha Ine Febriyanti. Bagi yang sudah membaca Bumi Manusia dan yang mengikuti kontroversi filmnya, pasti sudah bisa menebak ketiga karakter yang diperankan bintang utamanya yang ditonjolkan di film Bumi Manusia: Minke, Annelis Mellema, dan Nyai Ontosoroh.

Siapa mereka?

Minke adalah sosok pribumi yang memiliki kesempatan bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS), sekolah menengah umum pada jaman Hindia Belanda yang diperuntukkan bagi orang Belanda, peranakan Eropa, serta pribumi dari golongan bangsawan dan pribumi yang orang tuanya termasuk pejabat di pemerintahan Hindia Belanda. Ia pintar. Pengetahuannya luas. Cita – citanya ingin hidup di bumi sebagai manusia yang bebas. Tidak diperintah dan tidak memerintah. Nama aslinya Tirto, lengkapnya Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Ayahnya – diperankan Donny Damara – adalah seorang bupati. Di kehidupan nyata, Tirto Adhi Soerjo adalah Bapak Pers Nasional. Sosok yang menginspirasi Pram menuliskan kisah Minke, tokoh utama yang bertutur dalam Tetralogi Pulau Buru dengan Bumi Manusia sebagai buku pertamanya.

Minke jatuh cinta pada Annelis Mellema, perempuan peranakan Belanda pada pandangan pertama. Annelis puteri Herman Mellema – diperankan Peter Sterk – dan Sanikem, perempuan Jawa yang dijual ayahnya untuk ditukar dengan jabatan Juru Bayar di pabrik gula seharga 25 gulden kepada Mellema yang kemudian dijadikan gundik. Ketika keluarga Mellema pindah ke Wonokromo, Sanikem yang telah belajar banyak hal dari Herman Mellema, dipercaya untuk mengurus usaha suaminya di Boerderij Buitenzorg. Dikarenakan lidah pribumi kepayahan melafalkan sebutan Nyai Buitenzorg, jadilah nama yang melekat padanya Nyai Ontosoroh. Naskah Bumi Manusia yang ditulis oleh Salman Aristo dan divisualisasikan ke layar lebar terkait erat pada tiga tokoh ini dengan bumbu kisah asmara Minke dan Annelis.

Pemilihan Iqbal sebagai pemeran Minke tentu tak lepas dari strategi pasar Falcon mengingat film Bumi Manusia adalah film industri yang dilemparkan ke pasar, menyasar generasi milenial agar melek sejarah. Meski sempat diragukan oleh sebagian netizen, Iqbal cukup baik memerankan tokoh Minke.

poster film bumi manusia, review film bumi manusia, pemeran film bumi manusia, makam pramoedya ananta toer, sha ine febriyanti

Dari ketiga tokoh utama tersebut yang mencuri perhatian penonton tetaplah Sha Ine Febriyanti. Pemain watak yang sudah mengalami tempaan di dunia teater ini menghidupkan sosok Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang cerdas; karakter yang diincarnya 20 tahun lalu dengan pengelolaan emosi yang sangat baik. Karakter Nyai Ontosoroh sangat kuat terpancar lewat kerlingan dan sorot matanya, bahasa tubuh, terlebih setiap kata yang keluar dari mulutnya. Karena totalitas peran pula pada 8 Agustus 2018 sebelum berangkat shooting dan dikarantina selama sebulan di Yogyakarta, Sha Ine Febriyanti menyempatkan ziarah ke makam Pram. Bisa jadi dirinya satu – satunya pemain yang melakukan itu karena ziarah bersama para pendukung dan kru Bumi Manusia dilakukan sehari sebelum gala premier dengan berkunjung ke Monumen Makam Pahlawan Tak Dikenal di Tugu Pahlawan, Surabaya pada 8 Agustus 2019 lalu.

Hmm … kenapa tidak ke makam WR Soepratman yang lagu ciptaannya, Indonesia Raya, menjadi pembuka film Bumi Manusia?

Masih seputar poster. Di bawah gambar ketiga tokoh utama di atas ada 3 (tiga) sosok lelaki berkulit putih. Tak apa ya saya bocorkan namanya dari kiri ke kanan: Dokter Martinet, dokter keluarga Mellema yang diperankan oleh Jeroen Lezer, Jean Marais pelukis, veteran tentara Perancis yang dulu ikut di Perang Aceh; sahabat baik Minke diperankan oleh Hans de Kraker, dan Rob Hammink sebagai Maarten Nijman, kepala redaksi koran berbahasa Belanda di Surabaya tempat tulisan – tulisan Minke yang mengangkat kesenjangan sosial dipublikasikan. Mereka adalah orang – orang yang setia berdiri di belakang Nyai Ontosoroh, Annelis, dan Minke ketika badai melanda dan memporak – porandakan kehidupan mereka.

Setelah membahas karakter tokoh lewat poster; Set, Properti, dan Artistik adalah bagian berikutnya yang menarik untuk dicermati. Falcon mengeluarkan biaya yang tak sedikit guna mendesain dan membangun set untuk memvisualisasikan suasana di akhir abad ke-19 seperti yang digambarkan Pram di Studio Alam Desa Gamplong, Sleman yang dipilih sebagai lokasi shooting utama film Bumi Manusia.

Meski desain set dan pemilihan properti dilakukan dengan detail, mata saya terganggu melihat ada yang bocor dalam pengambilan gambar dengan bird eye view. Pemandangan Boerderij Buitenzorg dari udara serupa maket yang dibuat masa sekolah dulu. Selokan di tepi persawahan menuju Wonokromo pun sudah dilapisi semen. Lalu gerbang di mulut Wonokromo tampak baru didirikan, warnanya pun tampak baru dicat agar kinclong menyambut 17-an. Sama halnya dengan rumah Nyai Ontosoroh, rumah keluarga Telinga – induk semang Minke di Surabaya, dan rumah pelesir Baba Ah Tjong. Rumah Nyai Ontosoroh dan rumah pelesir Baba Ah Tjong berdekatan, dibatasi oleh kuburan. Kuburannya sih sudah kelihatan tua, tapi pagar pembatasnya dengan jalan yang terbuat dari patok – patok kayu yang tampak baru dipotong dan dipasang.

poster film bumi manusia, review film bumi manusia, pemeran film bumi manusia, pramoedya ananta toer, sha ine febriyanti

Durasi film ini memang panjang, TIGA jam! Sejam pertama masih menikmati jalannya cerita, detail set, dan memerhatikan kualitas gambar dekat yang blur dan lari terutama ketika diambil di dalam ruangan, siang pun malam. Tiga puluh menit berikutnya dua perempuan yang duduk di samping kiri mulai bisik – bisik, yaa .. baru satu setengah jam .. lalu mereka mulai menebak – nebak adegan yang akan muncul selanjutnya. Saya, sesekali mulai menguap juga melihat adegan yang melambat. Mendekati dua jam pertama, mata kembali membandingkan kualitas gambar close up yang lebih tajam dibanding di awal – awal tadi. Apakah Ipung Rachmat Syaiful sebagai sinematografer melakukan pergantian kamera? Atau dampak penyuntingan yang dilakukan dengan efek pencitraan komputer?

Eh, jangan diambil hati. Kalau mau nonton, nonton aja  😉

.. kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik – baiknya, sehormat – hormatnya .. [Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia]

Film ditutup dengan kutipan di atas yang keluar dari mulut Nyai Ontosoroh, seorang ibu yang hatinya hancur. Dengan kekuatan yang tersisa, ia masih menguatkan anak mantunya ketika mereka harus dipisahkan secara paksa dengan orang yang sangat disayangi. Suasana melo pun dibangun sebagai anti klimaks. Annelis yang berhari – hari tertidur lemas di kamar mendadak kuat berdiri dan mulai berkemas. Ia tak ingin menatap ke belakang, kepada ibu dan suaminya yang menjadi tawanan di dalam rumahnya sendiri. Perjalanan Annelis dengan andong keluar dari Boerderij Buitenzorg diiringi lagu Ibu Pertiwi menjadi bagian paling emosional dari film Bumi Manusia. Sebuah penutup yang baik yang membuat beberapa penonton teraduk emosinya dan berurai air mata.

Tentang Ibu Pertiwi lagu ciptaan Ismail Marzuki yang menjadi sountract Bumi Manusia ini, diadaptasi dari lagu rohani yang ditulis oleh Joseph M. Scriven pada 1855, What A Friend We Have in JESUS. Dalam versi bahasa Indonesia lagunya berjudul YESUS Kawan yang Setia ada di dalam Kidung Jemaat (KJ) 453. Lagu yang sangat familiar dinyanyikan di ibadah penghiburan untuk menguatkan keluarga yang kedukaan.

Sebagai sutradara, Hanung Bramantyo telah mempertimbangkan gempuran netizen sehingga naskah Bumi Manusia cukup mewakili isi bukunya. Perlu dipahami bahasa tulisan dan visual itu berbeda. Tak semua bagian dalam buku dinaikkan ke layar. Yang pasti tokoh – tokoh penting dalam buku Bumi Manusia ada di sana. Komunikasi para tokoh dalam film Bumi Manusia dijalin lewat bahasa Belanda, Indonesia, dan Jawa serta terjemahan dalam bahasa Inggris yang terpampang di layar.

poster film bumi manusia, review film bumi manusia, pemeran film bumi manusia, pramoedya ananta toer, sha ine febriyanti

Film Bumi Manusia

Semoga film Bumi Manusia benar – benar bisa menggerakkan kaum muda untuk belajar sejarah bangsanya sesuai tujuan pembuatan film ini untuk mengedukasi dan mengenalkan sastra terutama siapa Pram kepada generasi milenial. Juga agar mereka tergerak mencari tahu siapa Minke, sosok yang diperankan oleh bintang idolanya, tak sekadar ikut euforia.

Mari belajar menghargai sebuah karya yang dibuat dengan susah payah. Jangan ragu untuk mengayun langkah ke studio terdekat karena film Bumi Manusia sangat layak untuk ditonton. Pula kutipan pesan yang dituangkan Pram dalam bukunya bertebaran di sepanjang film. Jika setelah menonton masih ada ganjalan karena tak mewakili harapanmu, buat sendirilah film yang sesuai inginmu, saleum [oli3ve].