Tags

, , , , , ,


Pagi datang sedikit murung. Serupa wajah masam perempuan yang terbangun karena angin dari pendingin ruangan tiba – tiba menampar mukanya. Dilihatnya lelaki berkulit putih, satu – satunya makhluk yang tidur tak jauh darinya masih meringkuk dalam selimut biru di seberang bangkunya. Diliriknya tanda waktu di pergelangan tangan kanan, pk 05.30. Penerbangannya masih 2 (dua) jam lagi. Dan dia baru lelap 2 (dua) jam setelah berpindah tidur ke ruangan ini pk 03.00 usai menikmati setangkup roti di restoran cepat saji yang buka 24 jam karena kelaparan. Sewaktu ia datang ruangan hanya diisi sepasang pejalan berkulit putih yang masih asik berbincang di lantai dekat toilet, dua lelaki berkulit putih lainnya menguasai bangku tak jauh dari pintu keluar keberangkatan, lalu seorang perempuan yang juga berkulit putih yang menyusul turun di belakangnya, serta dua lelaki bermuka Jawa berbahasa asing yang hilir mudik seperti setrika di depan kedai kopi. Oh, dan lelaki itu. Ia iri padanya yang lelap sedari dirinya memilih tidur di bangku ini.

vietnam airlines, vietnam now, flying to vietnam, boat people

Vietnam Airlines, bukan pesawat yang ditumpanginya 😉

Siapa yang mengutak – atik pendingin ruangan sehingga arah anginnya berputar 180 derajat jika semua yang ada di ruangan ini masih bersidekap di bangku yang dijadikan tempat tidur?

Aaah … mungkin arah anginnya sudah disetel otomatis berputar dan menjadi lebih kencang ketika pagi mulai datang dan ruang tunggu di bangunan lama yang tak selega ruang tunggu lain di atasnya menjadi riuh dengan suara calon penumpang yang mengambil jadwal penerbangan pagi. Simpulan pemikiran itu membuatnya bergegas melipat kain alas tidurnya dan beranjak ke kamar kecil untuk membasuh mukanya yang berminyak. Perutnya yang mulai rewel diajaknya mampir ke kedai makanan yang buka pagi – pagi. Satu cup bubur instan dan teh panas rasanya cukup untuk menenangkan dan menghangatkan perut. Butuh sedikit lagi sabar duduk di ruang yang mulai hangat sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sembari mengamat – amati perangai orang – orang yang menyesaki ruang tunggu keberangkatan bandara internasional Don Mueang (DMK), Bangkok.

Woylaaa .. pk 07.15 nomor penerbangannya dipanggil. Ringkihan roda koper dan alas kaki yang diseret – seret di lantai terdengar pilu saat tubuh – tubuh yang tadinya duduk terkantuk – kantuk serentak bergerak ke pintu keberangkatan. Mereka tak langsung masuk pesawat. Harus bersesakan ke dalam bus yang menanti di depan pintu lalu diajak tur singkat berputar – putar hingga tiba di depan tangga pesawat disambut rinai yang menderas.

Puji Tuhan, dirapalkannya doa di dalam hati. Penerbangan dari DMK ke bandara internasioal Noi Bai (HAN) tepat waktu. Jika dalam penerbangan sore dari Jakarta ia duduk di bangku pojok paling belakang, kali ini ia duduk di lorong pada bangku nomor 6D. Lebih leluasa lagi karena bangku di tengah kosong sehingga ia bisa berbagi ruang untuk menempatkan tas dengan perempuan di sebelahnya.

Di depannya duduk lelaki yang sedari masuk pesawat tak tenang. Lelaki itu membawa serta 2 (dua) orang anaknya yang usianya tak melampaui 10 tahun dan seorang lelaki paruh baya yang mukanya mirip dengannya. Mereka mendapatkan bangku terpisah – pisah, kecuali dua anak kecil itu mendapat bangku bersebelahan di urutan kelima. Di seberang mereka duduk seorang perempuan berambut pirang yang membungkus tubuhnya dengan kain panjang, melepas sandal, dan duduk mengangkat kaki serupa orang menunggu pesanan makanan di lapo. Kulitnya kecoklatan hasil berjemur berlama – lama di pantai, mungkin di Pattaya, Phi Phi Island? entahlah dia tak bertanya. Sekadar ingin pun tidak melihat mukanya yang ditekuk – tekuk meski ia berusaha menghadirkan senyum pada lelaki yang duduk di seberangnya. Perempuan itu tampak menahan hasratnya pada bangku di pinggir jendela yang kini diduduki oleh anak perempuan dari lelaki yang anak lelakinya tak henti merengek agar ayahnya tetap duduk di sebelahnya.

Gerak – gerik perempuan itu mengingatkannya pada seorang sahabat baik yang dirindukannya. Sahabat yang memintanya menjauh dan belajar (lagi) banyak sabar agar bisa legowo dan sumeleh. Aaah, kadang hal – hal kecil di perjalanan membuatmu terkenang dan merindukan yang pernah lekat dan ingin kau lepas. Karena nasihat sahabatnya pulalah ia memutuskan untuk melakukan perjalanan berlama – lama dan sedikit lebih jauh dari biasanya. Ia berharap seusai perjalanan ini dirinya akan menjadi manusia yang lebih memahami arti hidup sabar dan banyak bersyukur meski selama ini orang – orang di sekeliling menyebutnya manusia penyabar.

Dua hari sebelum memulai perjalanan, ia mengurung diri di kamar membaca ulasan pejalan lain dan membandingkan harga kamar di beberapa penginapan murah, bersih, dan nyaman yang diincarnya. Juga memesan tiket bus dan kereta yang akan digunakannya berpindah di 3 (tiga) kota pertama yang akan disinggahinya di utara Viet Nam: Hanoi, Sapa, dan Lao Cai. Tiket penerbangan pulang pun baru dipesannya semalam setelah menimbang – nimbang waktu dan di kota mana ia akan menyudahi perjalanannya.

Ia memutuskan untuk berjalan TURUN dari utara. Hmm .. kenapa bukan NAIK dari selatan? Dan … kenapa ia memilih Viet Nam? bukan Eropa atau .. pedalaman Afrika biar sekalian hilang dari peradaban? Kalau pun ia tak pulang dari perjalanan mungkin hadirnya tak akan dirindukan.

noi bai international airport, vietnam airlines, vietnam now, flying to vietnam

Welcome to Noi Bai Internantional Airport, Hanoi

Barangkali alasan ini bisa membantumu memahami proses yang ia tekuni hingga memutuskan untuk melakukan perjalan selama 21 hari mengikuti kata hatinya dengan menyiapkan itinerary sehari jelang keberangkatan! Itinerary yang terus saja dirapikannya selama terbangun di DMK kemarin karena eksekusi perjalanan yang diundur – undur bahkan nyaris dibatalkannya!  😉

… every boat people has a little different details , everyone our jouney is a tragedy of its own.  No two is alike.  But in the common analysis are: cold, hurry, sickness, pirates, death. But at the end of this tunnel is “hope and freedom”.  These two words is all we need to take the chance at sea. The two words were our motivation.  Even we know sudden death is in front of us.  – [Jamie of The Boat People]

4 (empat) tahun lalu, dirinya berkunjung ke Pulau Galang, Batam. Galang pada 1979 – 1996 dijadikan sebagai Kamp Pengungsi Vietnam yang ditangani United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), lembaga kemanusiaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang khusus mengurusi pengungsi. Sepulang dari sana, ia iseng mengirimkan email ke beberapa nama yang didapatkannya secara acak dari sebuah laman yang dibuat oleh seorang guru bahasa Inggris, volunteer di kamp – kamp UNHCR; Gaylord Wayne Barr – may your soul rest in peace, sir! Thank you for a short brief.

Pernah dengar istilah manusia perahu? Atau perang saudara yang pecah di Viet Nam pada 1975 dan membuat warganya berduyun – duyun berperahu selama berhari – hari keluar dari negerinya? Kisah itu tak akan didapatkan di dalam kelas sejarah di sekolah.

Kisah pilu manusia perahu yang diceritakan Jamie, satu – satunya yang membalas email isengnya; jadi salah satu alasan kuat dirinya melakukan perjalanan ini. Kalau pada akhirnya tak hanya Sai Gon (kini Ho Chi Minh), kota kelahiran dan tempat tinggal Jamie di selatan Viet Nam yang menjadi tujuannya; itu karena keliaran pikirannya yang dijejali banyak kisah Vietnam lalu dan kini yang dilahapnya sebelum berjalan. Hati – hati dengan buku bacaanmu!!

.. cabin crew, prepare for landing

Penerbangannya tiba lebih awal 10 (sepuluh) menit dari perkiraan waktu tempuh yang dijadwalkan. Setelah melewati pemeriksaan di imigrasi, dicarinya tempat penukaran uang dan gerai telekomunikasi untuk membeli kartu seluler demi menghidupkan jaringan di gawainya. Perutnya sempat tergoda melihat deretan banh mi – sandwich Viet Nam – isi daging babi panggang yang dipajang dalam lemari kaca di seberang gerai telekomunikasi namun imannya segera mengingatkan perbandingan harga makanan di bandara dan di luar sana.

Dari perempuan di tempat penukaran uang, ia mendapatkan kepastian tempat untuk menunggu bus Express 86 yang melayani rute Noi Bai – Hanoi. Untuk menyelami keseharian di Viet Nam harus diawali berbaur dengan warga lokal dengan menggunakan layanan transportasi publik dari bandara menuju ke pusat kota, bukan? Tarifnya murah! busnya pun cukup nyaman meski dirinya hanya mendapatkan tempat duduk di atas ban. Sela antar bangku yang keras setelah melirik perempuan lokal yang berdiri di hadapannya mengawali duduk di sisi seberang.

bus express 86, bus dari Noi Bai ke Hanoi, transport from Noi Bai to Hanoi, public bus in hanoi

Tiket Bus Express 86

Usai menyerahkan ongkos bus ke kondektur dan mengamati suasana di dalam bus yang mulai berjalan, ia merasa nyaman untuk membuka gawai. Pesan – pesan yang tertahan selama jaringan dimatikan berlarian masuk. Satu yang membuat hatinya bunga, pesan pendek dari seseorang yang muncul di pikirannya saat melihat perempuan berambut pirang di udara tadi.

Makasih Lip … Maaf lahir bathin

Aaah, iya di Indonesia masih suasana lebaran. Saat yang tepat untuk bermaaf – maafan meski kata yang terbentuk dari empat huruf itu sering hanya terlontar dari ujung jari dan dengan cepat kita kirimkan ke siapa saja. Ia lalu melihat ke dalam dirinya yang duduk di dalam bus dikelilingi orang asing, bermil – mil jaraknya dari orang – orang yang dikasihinya. Ia sengaja kabur dari Jakarta di hari lebaran, saleum [oli3ve].

Advertisements