Tags

, , ,


Satu jam perjalanan meninggalkan Singkawang menuju Pontianak siang itu rasanya sudah diisi berjam – jam tidur tapi pemandangan di luar ketika mata terbuka tak jua berubah. Hamparan pohon kelapa dan kebun karet berlarian di kiri kanan jalan yang dilintasi. Tampak pula kelenteng dan rumah – rumah kayu sederhana yang berdiri berjauhan dengan tetangganya lalu pemandangan berulang lagi dengan pepohonan kelapa dan karet. Saat yang lain menikmati tidurnya, saya yang memilih duduk di bangku belakang beberapa kali terbangun karena goncangan. Jalan aspal yang mulus membuat sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata – rata. Ketika melalui jalan yang bergelombang lajunya tak dikurangi sehingga goncangan di bagian belakang terasa tak nyaman. Meski beberapa kali sengaja ber-aduh! aduh! sopirnya hanya melirik lewat kaca spion dan kejadian itu terulang beberapa kali. Mungkin dirinya lupa di belakang ada makhluk hidup, tak hanya tumpukan koper dan tas. Atau, bisa jadi memang tak terlihat sosok manusia hehe.

bundaran 1001 ai singkawang, ikon singkawang, pesona singkawang

Bundaran 1001 AI Singkawang dengan 3 patung yang mewakili 3 etnis besar di Singkawang: Tionghoa, Melayu, dan Dayak (dok. Syaiful Anwar)

Ketika terbangun untuk ketiga kalinya laju kendaraan melambat, terhalang sebuah bus antar kota yang berjalan lambat – lambat di depan. Kendaraan pun turut berhenti di belakang bus berwarna hijau yang menepi demi memberi sedikit jalan untuk kendaraan lain melintas saat ia menurunkan penumpang. Melihatnya, membawa ingatan pada kisah Phang Djun Phen, sopir bus Singkawang – Pontianak pada tahun 1960an yang pernah terbaca ketika melintas di linimasa media daring. Phang Djun Phen anak buruh kebun karet di Bengkayang. Untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga, di sela pekerjaan menyadap karet ayahnya menyambi sebagai tukang jahit di Sui Bathong (sekarang Pasar Sungai Betung). Meski sudah bekerja banting tulang, sang ayah hanya sanggup menyekolahkan Phang Djun Phen hingga menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Nam Hua – sekolah khusus keturunan Tionghoa – di Singkawang masa itu.

Mata sudah enggan diajak terpejam. Ingatan pada Phang Djun Phen membuat saya pun mengingat – ingat perjalanan di Singkawang kemarin. Mencoba merunut kisah lalu dari kota seribu kelenteng lewat jejak – jejak tinggalan masa yang sempat dikunjungi selama 2 (dua) hari di Singkawang.

Rumah dan Kantor Dagang Xie Hiap Seng
Salah satu orang sukses yang tinggalannya masih bisa dijumpai dan dinikmati tak hanya oleh keturunannya tapi juga penikmat sejarah yang datang ke San Khew Jong (kini Singkawang) hingga hari ini adalah Xie Shou Chi (baca: Chia Siu Si). Seperti umumnya para perantau dari negeri Tiongkok masa itu, di awal abad ke-20, Xie datang ke Singkawang untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Bersama kawan – kawannya, Xie membabat belantara untuk dijadikan lahan pertanian yang ditanami dengan tumbuhan dan tanaman yang memiliki nilai jual.

rumah keluarga thjia singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Deretan tiga bangunan utama di komplek rumah keluarga Thjia

Kerja keras tak mengkhianati hasil! Keuletan dan ketekunan Xie lambat laun menunjukkan hasil. Dari petani, Xie merambah dunia dagang. Dikumpulkannya hasil kebun dan dijual hingga ke Malaysia dan Singapura. Namanya pun tersohor dan dihormati tak hanya oleh warga sekitar tapi juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Oleh Belanda, Xie mendapat hibah sebidang tanah di tepi Sungai Singkawang tempat membangun rumah dan kantor dagangnya. Pada 4 Februari 1902, komplek Xie Hiap Seng yang dirancang oleh arsitek dari Tiongkok yang memadupadankan desain klasik Tiongkok dan Eropa dengan bahan utama kayu ulin dibangun. Dilihat dari fungsinya, ada 5 (lima) bangunan di dalam komplek itu. Tiga bangunan dua lantai sebagai bangunan utama berderet di bagian depan terdiri atas 1 (satu) bangunan di tengah yang lantai bawahnya lapang sebagai gudang sementara untuk hasil bumi yang akan diangkut/diturunkan ke/dari kapal. Gudang diapit 2 (dua) bangunan kantor di kiri kanannya. Di bagian belakang bangunan kantor terdapat 1 (satu) bangunan serupa barak berbentuk huruf U dengan banyak pintu yang dihubungkan dengan lorong berlantai kayu untuk rumah tinggal keluarga. Tepat di belakang gudang, dibangun pula ruang rapat. Di antara lima bangunan itu terdapat taman – taman yang berfungsi sebagai resapan air.

rumah keluarga thjia singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Ruang rapat yang kini menjadi ruang sembahyang dilihat dari bekas gudang

Untuk memudahkan distribusi hasil pertaniannya, Xie pun membangun dermaga di depan rumahnya. Saya membayangkan pada masa itu dermaga Xie Hiap Seng disibukkan hilir mudik junk – junk yang mengangkut hasil bumi, bergantian membuang dan mengangkat sauh di sana. Tentulah keseharian di kawasan itu sangat ramai. Kini, semua itu hanya bisa dibayangkan lewat imaji. Tak ada lagi tumpukan hasil bumi di dalam gudang yang telah menjadi ruang pertemuan yang dibiarkan lowong. Dua bangunan di kiri kanannya menjadi rumah tinggal mengikuti fungsi bangunan huruf U yang berderet di belakangnya. Sedang ruang rapat menjadi ruang sembahyang keluarga.

rumah keluarga thjia, dermaga keluarga thjia, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Membayangkan dulu junk – junk berjejer mengantri untuk membuang dan mengangkat sauh di Dermaga Xie Hiap Seng

Di komplek yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya pada 2010 tersebut masih ditinggali keluarga Xie dari keturunan keempat hingga ketujuh. Meski sebagian besar anggota keluarganya sudah berpencar keluar kota, pulau hingga luar negeri; saat Imlek dan Cap Go Meh mereka biasanya berkumpul di rumah yang dikenal sebagai Rumah Keluarga Thjia.

Bila ke Singkawang, sempatkanlah berkunjung ke rumah keluarga Tjhia yang kini menyempil di ujung Gg Mawar No 36 di belakang deretan ruko – ruko di Jalan Budi Utomo. Mampirlah ke kedainya dan nikmati Choi Pan buatan keluarga Xie sembari berimaji ke masa –masa suara riuh memenuhi dermaga yang dahulu ada di depan kedai itu.

Toa Pe Kong
Sewaktu Sultan Sambas mengijinkan para pekerja dari Tiongkok datang bekerja di tambang – tambang emas di Monterado (kini wilayah Bengkayang), mungkin saja tak terpikir satu hari nanti mereka akan menetap, menyebar, serta beranak pinak di Kalimantan Barat. Pun kehadiran mereka tentu saja membawa serta kebiasaan – kebiasaan di keseharian seperti selera lidah ketika mengolah makanan,  adat istiadat, waktu untuk berdiam, mengingat, dan mendoakan leluhur.

Sebuah pondok sederhana yang mereka dirikan untuk tempat mengaso di tengah perjalanan ke tempat menambang, perlahan dipakai pula sebagai tempat sembahyang. Waktu itu mereka menjalankan ritualnya mengikuti dorongan hati saja. Hingga satu waktu datanglah seorang bernama Lie Shie yang memahami ritual keagamaan dari Tiongkok. Ia membawa serta patung Dewa Bumi Raya untuk ditempatkan di tempat sembahyang sehingga sebuah pondok baru yang disesuaikan dengan keperluan sembahyang dibangun menggantikan pondok yang lama pada 1878. Karena sebelumnya tak ada dewa lain yang ada di sana, Dewa Bumi Raya-lah yang kemudian menjadi dewa yang dipuja di kelenteng itu atau dikenal dengan istilah Toa Pe Kong.

vihara tri dharma bumi raya singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang, toa pe kong

Vihara Tri Dharma Bumi Raya dengan menara Masjid Raya tampak di belakang

Jika ingin menjumpai Toa Pe Kong yang dibawa Lie Shie lebih dua abad lalu itu, datanglah ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya di simpang lima Singkawang. Jangan mencari pondok yang dahulu didirikan para penambang. Ia sudah digantikan oleh bangunan permanen yang dibangun awal 1930an. Serupa dengan Rumah Keluarga Thjia, bangunan ini pun ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2010.

Masjid Raya Singkawang
Berjalan sedikit ke belakang Vihara Tri Dharma Bumi Raya akan terlihat menara Masjid Raya Singkawang. Tanah tempat masjid itu berdiri dahulu milik Bawasahib Maricar, saudagar dari India yang awalnya datang berdagang ke Singkawang pada 1850 tapi kemudian memilih untuk tinggal. Dahulu seorang kaya yang punya pengaruh dalam komunitasnya diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pemimpin yang menjadi perpanjangan tangan Belanda dalam menjalankan aturan pemerintahannya. Karenanya, pada 1875 Bawasahib diangkat sebagai pemimpin orang – orang India di Singkawang dengan gelar Kapitan India.

masjid raya singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Masjid Raya Singkawang sekarang setelah direnovasi di 2008

Bangunan masjid raya yang ada sekarang sudah sangat jauh berubah dari bangunan awal yang didirikan pada 1885 oleh Bawasahib karena sudah beberapa kali mengalami perbaikan dan perubahan bentuk bangunan. Yang tampak sekarang bangunan yang selesai direnovasi pada awal 2008.

Paroki Santo Fransiskus Asisi
Ketika misionaris mulai masuk ke Singkawang, mereka mendirikan rumah ibadah, rumah sakit, dan sekolah untuk keperluan misi dan pelayanan dalam masyarakat. Kelompok misionaris pertama yang datang dari ordo Yesuit. Singkawang masa itu hanya dijadikan daerah kunjungan saja. Hingga pada 1874 setelah beberapa kali mampir, Pater de Vries berinisiatif mendirikan sebuah bangunan sederhana dari kayu yang diperuntukkan sebagai tempat ibadah. Umatnya, orang – orang Tionghoa perantau. Di kunjungan – kunjungan berikutnya Pater de Vries perlahan menambahkan ruang untuk pastor.

paroki santo fransiskus asisi singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Pada 1885 ketika Singkawang menjadi pusat paroki untuk kawasan Borneo Barat – Belitung, Pater W.J. Stall, S.J. diangkat menjadi pastor paroki pertama sebelum beliau ditarik kembali ke Batavia (sekarang Jakarta) dan menjadi Vikaris Apostolik Batavia pada 1893 hingga meninggal pada 1897. Di awal 1900 gereja sempat mengalami kekosongan pastor hingga gereja lama ambruk pada akhir 1904. Bangunan yang kini masih berdiri dan dipakai sebagai tempat ibadah umat katolik di Jl Diponegoro No 1 Singkawang adalah bangunan gereja yang direnovasi pada 1925.

Melangkah ke dalam ruang gereja umat akan melewati tiga pintu: pintu utama, pintu koboi, dan pintu pemisah antara ruang umat dengan foyer. Daun pintu koboi diikat ke dinding agar tak buka tutup dan menghalangi gerak orang keluar masuk, sedang pintu di bagian tengah daunnya sengaja dibuka lebar – lebar. Pintu ini menghadap langsung ke sanctuarium (ruang altar). Bangku – bangku kayu panjang tertata rapi di depannya. Di atasnya langit – langit yang melengkung tinggi dengan kisi – kisi lubang udara di bawahnya.

paroki santo fransiskus asisi singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Ruang umat dan sanctuarium dilihat dari lantai atas

Sepuluh pasang pilar menopang berdirinya ruang ibadah, padanya tergantung masing – masing satu buah kipas angin untuk menambah sejuk ruangan. Jika menyusuri dinding ruang ibadah, akan tampak relief jalan salib tergantung di antara dua jendela berdaun tinggi dan lebar. Bila tak salah merekam jejak, terdapat empat ruang pengakuan dosa yang masing – masing menempel di sisi kiri dan kanan ruang ibadah. Di ujung kanan dari pintu masuk, terdapat sebuah tangga ke ruang atas. Sebuah ruang yang diperuntukkan sebagai ruang tambahan untuk umat dan ruang kecil untuk membunyikan lonceng gereja yang menggantung di atas menara. Bangunan dua lantai yang terbuat dari kayu ulin dan diberkati pada 5 Desember 1926 ini telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kalimantan Barat pada 2010.

paroki santo fransiskus asisi singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Tangga ke lantai dua (dok. Syaiful Anwar)

Gedung Metropole
Ketika berjalan dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya ke Paroki Santo Fransiskus Asisi, kami melewati sebuah bangunan yang dibiarkan tak terawat. Melihat wujudnya yang terbayang Bioscoop Metropool di Batavia (sekarang Metropole XXI Jakarta). Dua bangunan itu seperti kembar. Mungkinkah perancang bangunan bergaya art deco di Singkawang itu juga Liauw Goan Seng? Entah, informasi tentangnya tak banyak.

gedung metropole singkawang, bangunan cagar budaya singkawang, pesona singkawang

Di bagian atas gedung terdapat angka 1954, mungkin tahun berdiri atau selesainya dibangun. Satu tinggalan masa yang dibiarkan terbengkalai di tengah kota. Jika saja direnovasi dan dikembalikan ke fungsinya seperti dahulu, bisa jadi tempat yang menyenangkan buat warga kota untuk bersua.

Hari ini, siapa yang tak kenal dengan nama Phang Djun Peng? Gak ada!! Bagaimana dengan nama Prayogo Pangestu? Yup, Phang Djun Peng a.k.a Prayogo Pangestu, sopir bus Singkawang – Pontianak yang namanya telah menyibukkan pikiran saya beberapa siang lalu mencoba merunut kepingan masa di sisa perjalanan Singkawang – Pontianak, saleum [oli3ve].

Yang dibolak – balik:

  • Cina Khek di Singkawang, Hari Poerwanto, 2014
  • Kalimantan Tempo Doeloe, Viktor T. King, 2013

 

Advertisements