Tags

, , ,


Turis tidak mau mengunjungi destinasi wisata yang jarak tempuhnya 3 (tiga) jam – [Arief Yahya, Menteri Pariwisata]

Lalu, apa yang membuat seseorang atau sekelompok orang rela meluangkan waktunya melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat? Daya pikat, keunikan, pengalaman berbeda yang akan didapatkan di perjalanan. Rasanya itulah alasan yang meyakinkan saya melakukan perjalanan ke Kalimantan Barat minggu lalu demi melihat perayaan Festival Cap Go Meh Singkawang 2019. Mengejar Tatung!

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Cap Go Meh (dari bahasa Hokkien) artinya hari kelima belas yang dihitung setelah memasuki Tahun Baru Cina atau Imlek. Dulu, di tempat asalnya di Tiongkok sana, perayaan Cap Go Meh yang dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yai diadakan tertutup hanya untuk keluarga istana dan kalangan tertentu saja. Namun setelah berakhirnya pemerintahan Dinasti Han, perayaan Cap Go Meh pun terbuka untuk umum.

Hal yang hampir sama terjadi di Indonesia. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia baru merasakan kebebasan melakukan ritual keagamaan dan budayanya secara terbuka setelah pemerintahan Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur mencabut aturan pemerintah terdahulu yang mengekang ruang gerak mereka selama 30 tahun. Sejak itu, perlahan Cap Go Meh mulai dikenal masyarakat luas dan menjadi perayaan yang meriah serta dinanti dimana – mana. Yang terbesar di Singkawang.

vihara tri dharma bumi raya, toa pe kong singkawang, cap go meh singkawang

Lautan manusia di Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Kata Singkawang dalam bahasa Hakka dilafalkan sebagai San Khew Jong artinya kota di antara gunung dan laut. Sebuah kota di Kalimantan Barat yang mayoritas warganya keturunan Tionghoa Han (orang Hakka) sehingga saat berjalan kemana saja kuping akan selalu menangkap percakapan dalam bahasa Khek, bahasa keseharian orang Hakka. Nenek moyang mereka menapakkan kaki di wilayah Bengkayang sejak 1740 atas permintaan Sultan Sambas yang menginginkan tenaga terampil untuk dipekerjakan di tambang – tambang emas. Untuk sembahyang, pada 1878 mereka mendirikan sebuah pondok untuk menghormati Toa Pe Kong di tengah belantara di tempat sekarang berdiri Vihara Tri Dharma Bumi Raya, di simpang lima Singkawang. Dari pernikahan dengan warga setempat, para pekerja tambang dari Hakka ini pun beranak pinak, menjadi banyak, dan menyebar ke beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Sehingga, di keseharian ritual agama dan kebudayaan yang dibawa dari tanah leluhur mereka pun berasimilasi dengan budaya lokal termasuk dalam perayaan Cap Go Meh.

vihara tri dharma bumi raya, toa pe kong singkawang, cap go meh singkawang

Kehadiran tatung membuat Cap Go Meh Singkawang berbeda. Tatung, orang pilihan yang menyediakan tubuhnya sebagai media untuk dimasuki arwah nenek moyang. Menjadi tatung adalah anugerah karena tatung pilihan dewa. Laki – laki, perempuan, orang dewasa bahkan anak – anak! Tidak diminta, tidak dipelajari tetapi diterima dan dijalani.

tatung anak - anak, tatung singkawang, tatung, cap go meh singkawang

Tatung anak – anak (dok. Syaiful Anwar)

Tatung ikon Cap Go Meh di Singkawang. Tak hanya satu, ada ratusan bahkan seribu lebih tatung akan berparade dan beratraksi pada puncak perayaan Cap Go Meh. Tak cuma keturunan Tionghoa, ada juga tatung Dayak dan Melayu. Membedakannya dari kostum, atribut, dan arak – arakan yang menyertainya saat berkeliling kota. Mereka mengenakan pakaian kebesaran seperti dewa dewi, pahlawan, kesatria tempo dulu meski ada juga yang mengenakan pakaian keseharian seperti jin sobek – sobek. Musik pengiringnya gong, krincingan, dan sorak penyemangat dari rombongannya.

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Sehari sebelum Cap Go Meh, para tatung melakukan ritual bersih – bersih jalan. Pada hari itu, para tatung akan datang meminta restu Dewi Langit (Ket Sam Thoi) ke Toa Pe Kong  a.k.a Vihara Tri Dharma Bumi Raya agar jalan yang akan dilalui esok terbebas dari roh jahat dan kegiatan berjalan lancar. Jangan kaget, di prosesi bersih – bersih jalan dan saat parade para tatung akan beraksi menunjukkan kekebalan tubuhnya dari sayatan dan tusukan benda – benda tajam. Karenanya mereka pun harus menyiapkan tubuhnya selama seminggu jelang Cap Go Meh dengan berpantang daging termasuk tak boleh berhubungan badan. Mereka yang ingin menonton pun harus menyiapkan mental jika ingin melihat aksi – aksi tatung yang bikin begidik. Kalau pipi ditusuk jarum melihatnya mungkin bisa sedikit merem. Bagaimana jika melihat potongan besi masuk rongga mulut tembus ke pipi?  Saat menonton atraksi tatung, ingatlah untuk tidak membiarkan pikiran kosong agar tak kemasukan.

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Tatung diarak menggunakan tandu yang dipasangi pedang atau paku sebagai tempat berpijak dan alas duduknya. Tak semua tatung ditandu. Ada juga yang berjalan kaki ditemani (bahkan dipegangi erat – erat) oleh pemandunya yang selalu siap membacakan mantera agar jalannya tetap terarah. Jika tidak, mereka bisa berjalan sesuka hati karena dirinya dikendalikan roh lain. Kalau berani cobalah perhatikan mata dan gerak – gerik tubuhnya.

tatung singkawang, tatung, cap go meh singkawang

Perhatikan matanya (dok. Syaiful Anwar)

Sebagian besar pandangan mereka kosong. Mulut mereka mengeluarkan air liur berlebih kadang terlihat sisa muntah menempel di sekitar mulutnya. Jika haus, minumnya darah segar yang diisap dari ayam hidup atau campuran air kembang. Kadang mata mereka merah menyala, memandang penuh amarah ke segala arah atau yang terlihat bola matanya putih saja. Menurut seorang kawan berjalan, tatung yang benar pembawaannya tenang karena yang dipanggil kan arwah – arwah orang baik pada masanya. Jika ada yang teriak – teriak dan ngamuk, itu kesurupan!

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Para tatung yang datang dari vihara asalnya sedari subuh, harus mengakhiri parade ketika matahari tergelincir dari pucuk kepala. Saat dimana umat muslim bersiap untuk menjalankan salat zuhur. Jika aturan ini tak ditaati akan terjadi sesuatu yang tak baik bagi tatung. Secara nalar, di sinilah toleransi beragama dipertaruhkan. Akankah ego yang dikedepankan atau sikap saling menghargai? Parade tatung itu riuh dengan tetabuhan tambur dan gong serta kepulan asap dupa. Jika tak dihentikan, keriuhannya mengalahkan panggilan salat dari masjid. Ketika umat lain hendak menjalankan ibadahnya, baiknya kita saling menghargai dan memberi kesempatan untuk menikmati kekusyukannya. Di saat yang sama di tempat pelelangan yang didirikan terpisah dari jalur parade, panitia mulai mengadakan lelang persembahan Cap Go Meh yang diberikan para umat. Persembahan berupa kue keranjang, buah – buahan terutama jeruk dan pisang, babi yang sudah disembelih tapi masih utuh belum dipotong – potong hingga barang seperti kalung emas, sepeda motor yang sudah didoakan, dilelang dengan harga yang sangat tinggi. Pstt .. sekotak jeruk bisa dilelang 50 juta lho! Hitung sendiri berapa dana lelang yang terkumpul sehari itu. Hasil lelang ini nantinya dipakai untuk keperluan pembangunan kota Singkawang dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Di ramainya manusia siang itu, saya bersua dua orang ibu yang datang dalam rombongan terpisah dengan membeli paket perjalanan Cap Go Meh Singkawang yang ditawarkan oleh biro perjalanan. Mereka datang dari Surabaya dan Jakarta. Paket perjalanan yang mereka beli meliputi tranportasi darat, penginapan, makan, dan tempat duduk di tribun untuk menyaksikan parade tatung.

tatung, tatung singkawang, cap go meh singkawang

Akulturasi budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang ditampilkan pada Festival Cap Go Meh di Singkawang menjadi lahan bisnis yang mumpuni untuk mendongkrak perekonomian dan pariwisata Singkawang. Momen ribuan tatung turun ke jalan adalah atraksi wisata menarik bagi warga lokal maupun pengunjung dari kota tetangga, luar pulau bahkan dari luar negara membanjiri Singkawang di keriaan Cap Go Meh yang tak dijumpai di tempat lain bahkan di negari asal Cap Go Meh, saleum [oli3ve].

Advertisements