Tags

, , ,


Selepas hari – hari kelabu yang mewarnai perjalanan di Makassar tahun lalu, harap yang diam – diam kutabung satu – satu di hati hanyalah tak akan menginjakkan kaki ke sana hingga kenangan akan hari – hari yang menyesakkan itu tertepis dari ingatan. Bisakah? Selama rasa masih melekati hidup, terlalu sulit untuk menghalau semua kenangan itu. Bahkan bila harus pura – pura lupa.

Dan .. di sinilah aku kini. Di kota yang ingin kuhindari namun tak bisa kutampik untuk hadir karena memang harus berada di sini! Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 membawaku kembali ke Makassar! Kali kedua hadir di kegiatan literasi terbesar di Indonesia Timur, di tempat para pegiat literasi berkumpul dan berbagi energi positif.

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar, tempat nongkron di makassar

Ingatkah dirimu sewaktu memaksa ikut ke hotel berharap aku menyimpan kopi yang bisa kau seduh agar kantung matamu kuat menahan kantuk di jelang siaran langsung bola di dini hari itu? Hotel kita terpisah. Tempatku menginap masih soft opening kala itu. Tamu – tamu belum banyak, hanya orang – orang tertentu yang mengenal baik pengelola hotel serta tamu khusus yang sudah memiliki perjanjian yang mendapat kesempatan menikmati aroma kamar yang perabotannya belum dijamah.

Waaah .. kamu tamu khusus donk, Lip.”
“Hm .. kebetulan saja.”

Ingatkah dirimu pada kedai kopi di sebelah hotel tempat kita berbincang hingga pagi? Kedai yang membuatmu berasa di awang – awang, berasa jadi pusat perhatian karena kita tampak asing di antara pengunjung lain? Memang kita asing, meski darah yang mengalir di dalam tubuh kita adalah darah Sulawesi; kita pendatang di kota ini. Tapi, bukan keterasingan yang mencuri pandang orang – orang seperti tertuju ke meja kita. Berpasang – pasang mata itu nanar memerhatikan perempuan – perempuan berpakaian kekurangan bahan yang tak kedinginan berpakaian tipis di tengah malam, yang pahanya melambai – lambai, dengan muka putih dilapisi bedak tebal, berdiri bergerombol di ruang sebelah yang dibatasi oleh kaca tembus pandang di belakang bangkumu. Jangan ge-er!! Hahahaa …

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Dua tahun berlalu, aku kembali ke Swiss-Belhotel Makassar dan mendapatkan sebuah kamar Grand Deluxe yang legaaaa. Sarapan beraneka rupa dan rasa di Swiss-Cafe Restaurant. Banyak yang berubah. Di hotel kini tersedia Gravity Lounge, tempat untuk duduk – duduk sampai pagi. Pun The Bar dan Lounge untuk bersantai jika malas di kamar atau enggan keluar hotel. Dan .. kolam renang berikut ruang kebugaran, sudah bisa diakses. Malam hari ketika ingin nyamil, tak perlu mencari kedai kopi yang buka 24 jam. Satu lantai di atas kamarku. Ke tempat itulah aku kini,  memandang laut dari ketinggian, dan menikmati lampu – lampu kota ini.

Makassar bukanlah kota yang selalu kurindukan untuk pulang, tapi aku harus ada di sini demi mereka. Tanpamu, tentu saja ada yang berbeda. Tapi soal rasa setiap hati memiliki keputusannya sendiri – sendiri untuk mengatur kadarnya. Ada beberapa selentingan kudengar, andai keputusanku dulu berbeda, mungkin keadaanmu tidak akan seperti ini.

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Judgemental!

Siapa yang mengatur kehidupan ini? Setiap keputusanku kusampaikan padaNya, sang pemilik kehidupan agar dihindarkan dari keliru ketika bertindak. Tak selalu benar menurut pandangan yang lain, tak perlu juga kan harus mengikuti kemauan orang? Biarlah mereka berpikir dengan inginnya, aku hanya ingin meresapi sisa malam ini.

Tanda waktu sudah menunjukkan pk 23.45. Makin larut semakin ramai yang datang. Meja – meja yang tadinya hanya diisi kertas RESERVASI, mulai terisi. Suara penyanyi dari tengah – tengah ruang yang dibatasi dengan dinding kaca semakin keras terdengar.

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Pelayan – pelayan berkeliaran, berpindah dari satu meja ke meja yang lain, menerima dan mengantarkan pesanan. Di bagian luar, mereka yang jemarinya mengepulkan asap pun riuh di meja – meja menikmati angin malam. Sayang, anginnya terlalu kuat untuk tubuhku yang ringkih sehingga aku memilih berpindah ke dalam ruang berpendingin. Duduk bersendiri di meja pojok, tempat paling asik memerhatikan keluar masuknya pengunjung, dan keriaan pelayan di ruang saji. Tidak denganmu yang sedang berjuang dengan tubuhmu yang melemah, jauh di kota di seberang lautan. Kalau dirimu ada, kupastikan dirimu akan memilih meja di luar itu.

Gravity Sky Lounge
Swiss-BelHotel Makassar Lt 20
Jl Ujung Pandang No 8 Losari, Makassar 90111
Informasi dan reservasi: +62411-3690000 atau 0896-55739534 (WA)

Jam operasional:
pk 14.00 – pk 02.00 wita (Senin-Minggu)

Untuk memeriahkan meja, kupesan kudapan. Grilled Steak Cheese Pizza, Jus Jeruk, dan Markisa. Kenapa bukan kopi? Aah .. di kamarku sekarang ada kopi. Pula sengaja kubawa bekal kopi sendiri ke sana kemari. Jadi, tak perlu lagi kucari kopi ke tempat lain.

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Sebenarnya mataku tertarik dengan beberapa gambar yang tersaji di buku menu yang diantarkan oleh pelayan. Gravity Seafood Skewe, Chicken Wings, American Beef Burger, Gravity Cajun Chicken Leg & Wing, Gravity Bruchetta, aneka steak? Ah tapi rasanya terlalu berat untuk dinikmati di jelang pergantian hari. Aku berjanji akan kembali satu hari nanti ke tempat ini (lagi) dan menikmati makanan – makanan itu. Jika kamu berminat, aku akan traktir minum kopi eeh .. makan di ketinggian Makassar.

 

Jus markisa. gravity sky lounge, swiss-belhotel makassar

Dok. Gravity Sky Lounge

Pk 03.00. Penjemputku sudah menunggu. Seperti pergimu di jelang pagi itu, aku harus bergegas meninggalkan hotel, mengejar penerbangan ke kota berikutnya. Usai perjalanan ini, aku akan menjumpaimu di Jakarta. Cepatlah sembuh, doa terbaik untukmu, saleum [oli3ve].

Advertisements